Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 45


__ADS_3

Bianca menyingkap selimutnya secara perlahan. Sudah tidak ada lagi suara keyboard sejak 30 menit yang lalu. Bianca mengedarkan pandangannya dan mendapati suaminya yang tengah tertidur diatas kasurnya. Bianca bangkit perlahan dari tidurnya, ia tidak ingin jika suaminya sampai terbangun karena terganggu dengan suara berisik yang ia timbulkan.


Bianca berjalan menuju lemari pakaian, membukanya secara perlahan sembari terus merapalkan do'a dalam setiap pergerakannya. Bianca mengeluarkan satu buah tas berukuran sedang yang sudah ia siapkan. Setelah itu ia berjalan mendekati suaminya dengan mengamit tas berukuran sedang yang sudah ia isi dengan pakaian ganti secukupnya.


Bianca memandangi wajah tampan suaminya. Hidung mancung, alis serta bulu mata tebal, ditambah dengan bulu bulu halus yang menghiasi rahang suaminya membuatnya seakan tidak mampu untuk sekedar memalingkan wajahnya kepada laki laki lain. Apalagi jika mata itu terbuka, maka ia akan melihat indahnya mata hazel milik sang suami. Tapi kini kenyataan buruk telah ia dapatkan, yang akhirnya membuat tekadnya kuat untuk meninggalkan suaminya.


"Aku masih belum sepenuhnya mengerti, tapi sejauh ini aku sangat membencimu, tapi aku juga mencintaimu dalam waktu bersamaan"


Bianca melangkah dengan berat meninggalkan suminya. Ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, ia tidak mau jika sampai suaminya atau penghuni rumah ini terbangun, karena itu akan menghambat dirinya untuk keluar dari rumah ini. Bianca berjalan pelan menuruni tangga, melewati ruang tengah, hingga akhirnya ia tiba di pintu depan. Baru akan membuka pintu depan, ia teringat dengan seseorang yang sangat ia sayangi, kak Chintya.

__ADS_1


"Maaf tidak bisa mengabulkan permintaan kakak untuk memperbaiki hubungan rumah tanggaku. Tapi kenyataan ini yang membuat bertekad untuk pergi, maafkan Bia kak" Batin Bianca


...****************...


Riko terbangun dari tidurnya saat jam menunjukkan pukul 6 pagi. Ia melihat sofa yang tadi malam ditempati istrinya, sudah tidak ada istrinya disana, mungkin wanitanya itu tengah memasak didapur, ia tidak ingin terlalu mengambil pusing. Riko segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Selesai dengan semua ritual paginya, Riko segera turun menuju lantai bawah


"Pagi"


"Dimana Bianca? Belum bangun?" tanya kak Chintya karena tidak melihat keberadaan adik iparnya pagi ini

__ADS_1


"Bia?" tanya Riko, ia pikir Bianca sudah turun lebih dulu, tapi ternyata dugaannya salah "Mungkin didapur kak, membantu bik Wati" jawab Riko asal


"Sedari pagi kakak yang membantu bik Wati, jangan main main Riko" sentak kak Chintya


"Kakak serius?"


Mendapati wajah kak Chintya yang tampak serius, Riko lantas kembali berjalan tergesa menuju kamarnya. Ia ingin memastikan sesuatu yang tadi semat mengganjal pikirannya. Riko segera membuka pintu kamar saat sudah tiba dilantai atas, setelahnya ia menuju ruang rahasia yang ada dikamarnya, yang tempatnya berada tepat dibelakang kursi kerjanya.


Riko membuka pintu kecil yang hampir tidak mirip pintu itu dengan hati berdebar. Saat pintu terbuka, maka terlihatlah isi didalamnya, sebuah ruang rahasia yang didominasi warna gelap dengan pencahayaan temaram. Sebuah ruangan yang menjadi tempat tersimpannya semua hal tentang Bianca. Mulai dari nama panjang, Garis keturunan keluarganya, bahkan segala macam foto yang berkaitan dengan keseharian Bianca, semua foto itu ditusuk dengan anak panah kecil, yang setiap hari Riko tancapkan. Kini kemungkinan besar jika ruangan itu sudah dibuka oleh orang lain sangatlah besar, karena ia lupa mengunci pintu ruangan ini kemarin

__ADS_1


__ADS_2