
"Lalu dimana wanita ini sekarang?" tanya mba Nini
"Aku masih belum menemukan dia sekarang, karena menurut orang orang yang aku tugaskan untuk mencarinya, wanita itu selalu berpindah tempat setiap enam bulan sekali" terang Riko
Dring... Dring..
Dering handphone mba Nini membuat ia tersadar dari lamunannya tentang wanita yang bernama Carissa. Ia segera mengangkat panggilan yang ternyata dari om Iwan. "Hallo mas"
"Kamu dimana, tadi kamu bilang tidak akan lama, ini sudah satu jam aku menunggu di parkiran"
"Astaga" mba Nini menutup mulutnya, ia sampai lupa, niatnya hanya ingin bertemu dan berbicara singkat kepada Riko, malah berujung dengan obrolan panjang mengenai cerita perselingkuhan yang selama ini membuat Bianca terperangkap dalam dendam tak bertuan. "Aku segera keluar"
Tut
Mba Nini menutup panggilan sepihak, lalu kembali menatap Riko. "Aku akan membantu kamu untuk bisa kembali bersama Bianca, sesuai yang aku janjikan. Perlu kamu ingat, bahwa Bianca tidak suka didesak, malam ini kamu boleh kembali datang ke rumah dan menunggu maaf dari Bianca. Tapi besok, pagi pagi sekali kamu harus pergi"
__ADS_1
"Baik" Riko terpaksa mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa tujuan mba Nini memintanya pulang pagi pagi sekali. Karena seharusnya ia harus tetap berada disana sampai Bianca memberikan maaf untuk dirinya.
*
Mba Nini dan om Iwan duduk di meja dapur, menunggu Bianca yang mungkin masih bersiap untuk ikut makan malam bersama mereka. "Bagaimana tadi pertemuan kamu dengan Riko?" tanya om Iwan
"Tidak bagaimana bagaimana, hanya mengobrol biasa" sahut mba Nini
"Apa yang kalian obrolkan sampai satu jam?" tanya om Iwan lagi
"Aku juga tidak kalah tampan" sahut om Iwan tidak terima
"Maka dari itu aku memilihmu, jika kamu tidak tampan, aku mana mungkin mau menikah denganmu"
"Dengar, selain tampan aku ini juga mapan saat masih lajang, kamu tidak boleh melupakan itu"
__ADS_1
"Tuan Dermawan yang saat itu menjadi rivalmu untuk mendapatkanku juga tampan dan mapan" jawab mba Nini sengit dan kembali memanas manasi
"Tapi aku jauh lebih tampan darinya" ucap om Iwan masih belum kalah dalam debatnya
"Yaya kamu memang benar, tapi dia juga jauh lebih mapan darimu"
"Tapi kamu mencintaiku, makanya kamu memilihku. Aku tahu itu" ucap om Iwan bangga. Yang membuat mba Nini hanya diam dengan bibir mencebik. Mba Nini beralih menatap tangga, dimana Bianca berdiri disana dan melihat perdebatan kecil antara dirinya dan om Iwan
"Selamat malam Bia, ayo silahkan makan"
Bianca berjalan menuju meja makan, dan duduk berhadapan dengan mba Nini, sementara om Iwan berada ditenga tengah "Tadi Bia tidak berani mendekat karena mba dan om sepertinya sedang bertengkar" ucap Bianca seadanya, meskipun ia tahu sebenarnya mba Nini dan om Iwan tidak benar benar bertengkar
"Itu hanya bumbu bumbu cinta Bia" jawab om Iwan
"Iya, perdebatan kecil antara pasangan suami istri itu adalah bumbu untuk menumbuhkan cinta semakin dalam, dalam hati masing masing" ucap mba Nini ikut menimpali "Ayo silahkan makan malam dulu"
__ADS_1
Mba Nini segera mengambilkan piring untuk om Iwan, tidak lupa ia juga mengisi piring om Iwan dengan nasi serta lauknya. Sedangkan Bianca hanya duduk diam memperhatikan interaksi antara mba Nini dan om Iwan. Hingga akhirnya suara mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah, membuat ketiga orang itu saling tatap