
"Bagaimana bik?" tanya kak Chintya kepada bi Nani setelah melihat asisten rumah tangganya itu turun dari lantai atas yang merupakan kamar Riko dan Bianca
"Den Riko tidur di ruang kerja non" lapor bi Nani
Kak Chintya memandang bi Nani dengan tatapan kosong, lalu di detik berikutnya ia pun meminta bi Nani keluar dari kamarnya dengan isyarat tangan "Riko... "
*
Tidak jauh berbeda dengan kak Chintya yang kembali ke kamar setelah menghabiskan sarapannya. Bianca pun juga kini berada di kamarnya, duduk menghadap cermin dengan fikiran yang berkelana entah kemana. kebencian yang sempat terlontar dari mulut suaminya, nyatanya benar benar mengusik fikirannya. ia mulai menghubungkan kejadian kejadian dalam hidupnya yang kemungkinan menjadi titik awal dari rasa benci suaminya. Namun hingga saat ini ia masih belum menemukan satu hal pun yang menjadi alasan atas kebencian suaminya pada dirinya
Hufff
"Andai ada ruang karaoke"
__ADS_1
Bianca bangkit dari kursi riasnya dengan sedikit bersenandung, dan merapikan anak rambutnya sembari tersenyum. Ia melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju kamar mandi dengan senyum cerah yang ia pancarkan. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan kak Chintya yang sejak tadi melihat kelakuan anehnya
Ehmm...
Deg
Bianca membalik badannya dan melihat ke sumber suara, dimana kak Chintya yang sedang berada di ambang pintu kamarnya. Bianca bahkan baru mengingat bahwa ia lupa untuk mengunci pintu setelah masuk ke kamarnya. Ia bahkan sampai salah tingkah sendiri karena ketahuan melakukan hal aneh di hadapan kakak iparnya
"Mmm kak, aku..."
Wajah Bianca memerah mendengar godaan kakak iparnya, ia menjadi malu sendiri dengan keunikan luar biasanya ini. "Aku... aku hanya menyalurkan hobi kak" kilahnya
"Menyalurkan hobi? Bagus. Nanti kakak akan berusaha membujuk suamimu untuk membuatkan ruang karaoke khusus untukmu, bagaimana?" tanya kak Chintya, tentunya masih dengan senyum menggodanya. Ia seolah tiada lelah untuk menggoda adik iparnya ini, setidaknya ia ingin membuat Bianca merasa nyaman saat bersamanya, karena ia tahu bahwa Riko tidak akan mudah memberikan kenyamanan untuk Bianca di rumah ini
__ADS_1
"Kakakkkk nak peluk" Bianca merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang di buat seimut mungkin, seolah ingin menutupi kesedihan hatinya saat ini
"Hahahaha sudahlah, nikmati harimu, kakak ke bawah dulu"
"Butuh bantuan?"
"No, thanks"
Kak Chintya berlalu, meninggalkan Bianca yang saat ini masih diam di tempatnya dan menatap pintu kamar yang tertutup. Setidaknya rasa sakit di hatinya sedikit lebih membaik karena kehadiran kakak iparnya. Bianca tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kak Chintya di rumah ini, mungkin dirinya akan menjadi mayat hidup yang akan berjalan kesana kemari, bernyanyi tanpa tahu waktu, dan yang paling parah lagi, ia mungkin akan menangis sepanjang waktu karena hidup bersama beruang kutub utara tampan yang saat ini menjadi suaminya.
Huh...
"Keep smile Bia" Bianca tersenyum sembari memiringkan kepalanya, sebuah kebiasaan yang selalu ia tunjukkan untuk dirinya sendiri agar tidak bersedih. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa dirinya bahagia dengan kehidupan yang ia jalani.
__ADS_1
...****************...
"Tidak perlu susah payah menunjukkan kesedihan hatimu hanya untuk meminta simpati orang lain, karena pada kenyataannya The best encouragement for you is yourself" Bianca Andini Prabaswara