
Riko berlutut di hadapan Bianca, disaksikan oleh keluarga dari Bianca. Dipegangnya kedua tangan yang tampak dingin itu. Matanya tidak lepas dari bola mata hitam milik Bianca
"Maukah kamu memulai semuanya kembali bersamaku?"
Bianca merasakan dadanya berdebar. Lidahnya bahkan terasa kelu, ia tidak mampu untuk sekedar menjawab pertanyaan dari Riko. Ia melirik mba Nini, om Iwan, mami Gisel dan papi Rayden, mereka semua hanya menunjukkan senyum kepadanya, seolah mewakili bahwa mereka akan selalu mendukung setiap keputusan Bianca
"Mungkin aku terlalu munafik untuk mengatakan bahwa aku tidak menginginkanmu, karena nyatanya se-dalam apapun luka yang sudah kamu torehkan, aku masih tetap mencintaimu hingga detik ini" ucap Bianca
Riko tersenyum mendengar jawaban Bianca, ia bangkit dari posisi jongkoknya masih menggenggam kedua tangan Bianca "Jadi... Maukah kamu kembali bersamaku?"
"Demi mereka, aku menerima mu" ucap Bianca
Saat itu juga Riko menumpahkan tangisnya. Entah wanita macam apa yang saat ini ada dihadapannya, setelah luka yang begitu besar yang ia berikan, wanita ini masih bisa tersenyum kepadanya dan mengatakan memaafkan segala kesalahannya. Riko memeluk istrinya itu, menumpahkan tangis serta kerinduan yang selama ini terpendam
"Terima kasih sayang"
__ADS_1
*
Riko menuntun Bianca untuk berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah sampai di lantai atas, ia segera membuka pintu kamar, dan mendudukkan Bianca di sofa yang ada disana. Ia kemudian duduk berlutut menghadap perut buncit sang istri
"Terima kasih sayang, maaf karena tidak menemanimu dari awal selama pertumbuhan mereka di dalam sana" Riko mengusap perut Bianca, ia terharu, setelah satu minggu ia menemui istrinya secara diam diam, hari ini ia bisa menumpahkan tangisnya, menunjukkan sisi lain dirinya di hadapan istrinya
"Tapi pelukan kamu selama satu minggu ini sudah berhasil merobohkan dinding yang aku bangun untuk membencimu" ucap Bianca sembari mengelus puncak kepala suaminya
"Kamu tahu?"
"Jadi selama ini?"
"Aku mengetahui semuanya. Kedatanganmu, pelukanmu, dan apapun yang kamu kirim untuk kami" ucap Bianca mengelus perutnya
Riko berdiri dan duduk disamping Bianca. Memeluk wanitanya dengan menghujani wajah ayu itu dengan ciuman bertubi tubi. Ucapan terimakasih tidak hentinya Riko lontarkan
__ADS_1
"Apa mereka merepotkanmu selama ini?" tanya Riko mengelus perut Bianca
"Mereka sangat tenang, mereka tidak pernah membuatku susah. Mungkin mereka tahu bahwa Ibu mereka menjalani kehamilan seorang diri, maka dari itu mereka sangat tenang"
"Sayang..." Riko menutup mulut sang istri dengan jarinya, mendengar penuturan sang istri entah mengapa membuat hatinya berdenyut "Terimakasih sudah menjaga Mommy selama Daddy tidak ada di samping kalian sayang"
"Kenapa Mommy? Aku lebih ingin anak anakku memanggilku ibu, itu akan terdengar sangat indah" ucap Bianca meralat ucapan suaminya
"Ibu? Tapi aku lebih senang jika anak anak kita nanti memanggil kita dengan sebutan Mommy dan Daddy sayang, pasti sangat lucu"
"Ibu lebih baik. Tapi kalau kamu masih tetap ingin dipanggil Daddy, maka itu tidak jadi masalah, anak kita akan memanggil kita ibu dan Daddy"
"Baiklah" Riko akhirnya mengalah, ia tidak mau memaksakan keinginannya untuk panggilan anak mereka kepada mereka kelak. "Apa kamu capek, atau mungkin kamu menginginkan sesuatu?"
"Aku ingin tidur dipelukanmu"
__ADS_1