
Bianca duduk diatas ranjang berukuran kecil di kamarnya. Tiga hari yang lalu ia tiba di desa ini. Sebuah desa yang benar benar asri, yang dikelilingi oleh kebun teh disekitarnya, menambah sejuk dan nyaman untuk dirinya tinggal disini. Walaupun awalnya Bianca merasa asing, tapi setelah tiga hari berada di desa dengan penduduk yang cukup ramah, Bianca jadi merasa nyaman. Mungkin ia akan melanjutkan hidupnya disini selamanya.
Ditengah lamunannya, terlintas bayangan dimana dirinya melihat ruang rahasia sang suami. Saat itu Bianca tengah duduk santai dimeja kerja suaminya, ia hanya penasaran apa yang membuat suaminya begitu nyaman bekerja berjam-jam di kamar ini, dan kini ia menemukan jawabannya. Pemandangan lampu kota dimalam hari yang terlihat begitu indah dari jendela kaca yang terpasang disudut kiri ruangan ini. Bianca jadi ingin melihat lebih dekat agar bisa menikmati pemandangan malam hari di kota yang selama 23 tahun ia tinggali ini.
__ADS_1
Namun saat ia memundurkan kursi kerja sang suami agar dirinya bisa leluasa berdiri. Ia malah melihat sesuatu yang mencengangkan. Sebuah ruangan terlihat jelas dibelakang sana, Bianca berjalan perlahan menuju ruangan itu, disentuhnya pintu yang bahkan tidak mirip pintu itu. Ini sangat tidak pantas disebut pintu, ini hanya sebuah triplek yang terpasang hanya sebagai pajangan.
Karena rasa penasarannya, Bianca memberanikan diri untuk melangkah lebih dalam. Ia menghidupkan senter handphone-nya saat merasa bahwa pencahayaan di ruangan ini begitu gelap. Bianca mulai mengedarkan pencahayaannya kesetiap sudut, dapat ia lihat banyaknya foto yang terpajang didinding. Tapi anehnya semua foto itu adalah foto candid dirinya, yang nampaknya diambil secara diam diam oleh seseorang. Tapi siapa orang itu? Apa mungkin suaminya?
__ADS_1
Bianca kembali berjalan kesudut lainnya, dan disepanjang jalan yang ia lewati, hanya ada foto dirinya yang terpajang di ruangan itu. Bianca melangkah ragu kesalah satu sudut ruangan, ia berdiri dengan tangan memijat kepala, hampir 100 foto yang terpajang dalam bentuk polaroid, dan disetiap foto selalu ada satu jarum yang menancap. Bianca tidak sanggup berada lebih lama dalam ruangan ini, ia ridak tahu apa maksud semua ini, tapi yang ia tahu, saat ini dirinya berada dalam bahaya.
Merasa belum puas dengan apa yang ia temukan, Bianca mulai membuka satu persatu laci meja kerja suaminya. Ia ingin mencari bukti lain yang mungkin bisa ia jadikan petunjuk. Hingga matanya akhirnya tertuju pada selembar kertas dengan tulisan Perjanjian perceraian. Bianca mengambil kertas tersebut, kertas yang berisi tentang perjanjian setelah perceraian yang isinya adalah, dirinya sebagai pihak kedua tidak diperbolehkan meminta bagian harta gono gini sepeser pun. Didalam kertas itu juga tertera bahwa pihak kedua tidak diperbolehkan menuntut pertanggung jawaban dalam bentuk apapun
__ADS_1
Bianca merasakan tubuhnya lemas setelah membaca itu, Bianca bahkan beberapa kali mengedipkan mata secara berulang demi tetap menjaga kesadarannya. Bianca tidak menyangka jika suaminya sudah menyiapkan perceraian atas dirinya tanpa sebuah kesepakatan. Bianca bahkan masih belum mengerti atas apa yang ia lihat didalam ruang rahasia suaminya, tapi setelah melihat isi surat perceraian yang ia temukan, kini Bianca faham, jika suaminya tidak pernah mencintainya sedikitpun.
Tanpa pikir panjang, Bianca segera berjalan menuju lemari pakaian. Pakaian yang barusaja disusun bik Wati kedalam lemari, kini telah Bianca pindahkan kedalam tas berukuran sedang yang sudah ia siapkan. Bianca teringat dengan satu buah flashdisk yang ia lihat didalam laci meja kerja suaminya. tanpa pikir panjang, Bianca mengambil flashdisk itu dan memasukkannya kedalam tas yang sudah ia isi pakaian sebelumnya.
__ADS_1