
"Sepertinya kamu sudah mengenal semua tempat di desa ini ya Neng" ucap Bianca saat keduanya berjalan pulang dari pasar
"Iya, Neneng sudah lumayan tahu daerah sini teh, karena kan Neneng tinggal disini sejak... "
Neneng tampak diam sembari menghentikan langkahnya. Pikirannya seakan berkelana pada pristiwa beberapa tahun yang lalu, saat ia memutuskan untuk tinggal di desa ini. Bianca yang melihat Neneng terdiam, dengan segera menepuk pundak Neneng
"Kamu kenapa Neng?"
"Neneng... Neneng tidak apa apa teh"
"Yasudah, ayo kita pulang, sepertinya hari ini tidak akan baik. Mendung sedari pagi" ucap Bianca sembari melihat sekeliling yang sudah tampak gelap
__ADS_1
Neneng melihat sekeliling dan benar saja, awan yang semula cerah, kini berganti menjadi gelap. Bianca dan Neneng berjalan tergesa untuk pulang. Saat sampai di rumah Bianca, hujan turun dengan lebatnya.
"untung kita sudah di rumah ya teh" ujar Neneng
"Iya, ayo masuk dulu. Tunggu hujannya reda, baru kamu pulang" ucap Bianca yang disetujui oleh Neneng
"Neng, bagaimana kalau kita masak mie instan? Hujan hujan begini kita kan butuh penghangat" usul Bianca
"Kalau penghangat harusnya pakai jasa suami teh, masa pakai jasa mie instan" ucap Neneng yang membuat Bianca terdiam "Maaf teh, Neneng tidak bermaksud menyinggung teteh, atau membuat teteh sedih. Neneng tadi hanya bercanda"
Entah mengapa Bianca benar benar menginginkan mie sekarang. Melihat cuaca yang hujan deras saat ini, membuat nafsu makan Bianca naik. Jika seperti ini, Bianca jadi ingat kenangannya saat masih mengisi off air di berbagai wilayah. Ia selalu makan mie instan bersama mba Nini saat kelaparan tengah malam.
__ADS_1
Bianca dan Neneng duduk di kursi yang tepat berada di depan jendela, sehingga keduanya dapat melihat derasnya air hujan yang turun. Di menit pertama, baik Bianca ataupun Neneng tidak ada yang membuka obrolan. Keduanya seakan hanyut dalam dunia mereka sendiri
"Dulu, kalau aku merasa lapar diwaktu tengah malam, aku akan makan mie instan ini" ucap Bianca membuka obrolan
"Kalau Neneng selalu makan mie instan saat Neneng merasa lapar, dan di rumah tidak ada makanan teh" jawab Neneng sembari tersenyum
Bianca melirik kearah Neneng yang tampak asik dengan mie instan-nya. "Ya iyalah Neng, kalau bukan karena lapar, aku juga tidak akan makan mie instan" sahut Bianca gemas
"Iya juga ya teh" sahut Neneng cengengesan dengan gaya khasnya
Bianca tersenyum melihat tingkah Neneng yang entah mengapa terlihat lucu dimatanya. Bianca kembali memakan mie instant-nya sembari menatap jauh. Seakan banyak bayangan yang berkelebat dalam benaknya
__ADS_1
"Aku adalah anak orang kaya Neng. Anak orang kaya yang jika ingin makan disiapkan, jika ingin jajan diberi uang, dan sebagainya. Semua yang aku mau selalu bisa aku dapatkan. Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan suamiku, darisanalah aku belajar tentang susahnya menyiapkan makanan, tentang susahnya untuk sekedar mendapatkan uang. Anak orang kaya sepertiku dipaksa untuk mengerjakan semua pekerjaan dapur. Bahkan pembantu yang sebelumnya dipekerjakan oleh keluarga suamiku sengaja dipecat agar aku bisa melayani mereka secara langsung"
Neneng hanya diam sepanjang Bianca bercerita. Neneng diam dengan berbagai pikiran dalam benaknya. Neneng melihat Bianca yang mengaduk aduk mie instannya, terlihat kesedihan dari wajah Bianca yang mungkin tidak akan pernah Neneng tahu