Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 41


__ADS_3

Tok... tok...


Mami Gisel berjalan menuju pintu kamar dan membukanya demi memastikan siapakah yang mengetuk pintu dan membuat obrolannya dengan Bianca terputus. Ternyata Riko yang berdiri disana, dengan pakaian yang sedikit lebih santai. Tampaknya menantunya ini sudah mengganti pakaian tadi


"Masuk Riko, kalau begitu mami tinggal ya. Bia, mami turun dulu" ucap mami gisel kepada Riko dan Bianca bergantian


"Iya mam"


Riko masuk kedalam kamar setelah mami Gisel pergi. Ia berjalan menuju Bianca yang masih duduk diatas kasur dengan membuka buka sebuah album foto, ya Riko melihat sampul buku itu. Itu pasti album foto keluarga Prabaswara. Riko memperhatikan wajah Bianca, tidak lagi ada niat sedikitpun untuk perempuan dihadapannya ini untuk membuka obrolan atau menyapanya sedikitpun. Tidak seperti saat tadi bersama mami Gisel

__ADS_1


"Maaf"


Bianca mengalihkan tatapannya dari album foto yang sebenarnya hanya ia bolak balik secara asal. Ia ingin melihat wajah laki laki angkuh yang barusaja mengeluarkan kata kata maaf itu, dan ternyata masih sama. Wajah datar tanpa ekspresi yang bahkan lebih cocok dipakai untuk berperang


"Maaf untuk kesalahan yang mana? Soal tadi malam kamu pergi ke club? Bukankah setiap malam kamu memang pergi kesana? Jadi untuk apa minta maaf. Atau maaf untuk setiap foto yang masuk tanpa permisi ke handphone aku? Foto dimana laki laki yang sudah menjadi suamiku malah berduaan bersama wanita lain di club? Atau... "


"Maaf karena tidak mengantarmu tadi malam" sergah Riko cepat saat Bianca lagi lagi akan membongkar perbuatan bejadnya


""Tapi aku rasa ini salah. Aku tidak ada disaat saat terakhir ayahmu" sanggah Riko

__ADS_1


"Apakah hatimu berfungsi sekarang? Hahaha kenapa kau lucu sekali hari ini? Kau masih belum sadar? Kau masih terpengaruh alkohol semalam? Atau kau barusaja menghabiskan banyak botol Wine lagi bersama para wanita koleksimu itu? Hahaha" Bianca tertawa mengejek dalam setiap kalimat yang ia ucapkan


"Aku memang membencimu, tapi tidak dengan ayahmu. Aku tidak punya urusan dengannya, dan aku merasa bersalah karena tidak ada disaat saat terakhir kepergian mertuaku. Apa itu salah?"


Bianca menegakkan badannya sembari menatap rajam Riko "Kau masih bisa bertanya apa ini salah? Kau bahkan tidak menganggap aku istrimu, tapi dengan percaya dirinya kau mengakui ayahku sebagai mertuamu? Apa menurutmu ini wajar? Ini konyol tuan"


"Jika kau menghormati ayahku, kau tidak akan mungkin tega menyakitiku. Jika kau menghormati ayahku, kau tidak akan pernah mau melakukan kebejatan diluar sana dengan banyak wanita. Bahkan aku tidak tahu wanita mana saja yang sudah kau nikmati tubuhnya. Kau sudah menghancurkan aku sehancur hancurnya. Kau merenggut kebahagiaanku bahkan sampai ke dasarnya, dan sekarang kau meminta maaf dengan sangat mudah seakan semua itu tidak ada artinya untuk kamu"


"Terlepas dari hubungan kita yang seperti apa, aku tetap menghormati ayahmu sebagai mertuaku".

__ADS_1


"Atur hidupmu sendiri, tidak perlu melibatkan saya dalam hal apapun dalam hidupmu, dan secepatnya kita akhiri pernikahan konyol ini"


Bianca berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan riko seorang diri di kamar. Bianca sudah sangat muak menghadapi laki laki itu. Bianca bahkan sudah berfikir untuk mengakhiri saja pernikahan konyol ini. Pernikahan yang hanya dibuat untuk menyakiti satu pihak, yaitu dirinya


__ADS_2