Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 24


__ADS_3

"Dimana Riko? Belum bangun?"


Deretan pertanyaan yang di lontarkan kak Chintya membuat Bianca dilanda kegugupan. Apa yang harus ia katakan? Jika ia mengatakan kebohongan saat ini, maka pertanyaan pertanyaan selanjutnya juga pasti akan ia jawab dengan kebohongan. Tapi jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, maka ia pun bahkan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Mmm.. Dia.. Dia masih tidur kak" jawab Bianca asal


"Tidur? Riko sakit?" kak Chintya tampak cemas mendengar bahwa adiknya masih tidur di jam yang sudah terbilang siang ini, karena sebelumnya adiknya itu tidak pernah bangun siang jika tidak karena sakit


"Mmm ti..Tidak, mmmm... "

__ADS_1


"Nona maaf, bibi rasa lebih baik nona berdua makan saja lebih dulu, biar nanti bibi yang panggilkan den Riko buat makan" ucap bi Nani sembari mengedipkan sebelah matanya kepada kak Chintya


"Mmm baiklah bik, tolong panggilkan Riko atau nanti antarkan saja makanan ke kamarnya" ucap kak Chintya setelah melihat kode yang di berikan bi Nani "Bia, kemari kita sarapan saja lebih dulu. Mungkin suamimu sedang mandi sekarang, jadi akan sangat lama jika kita harus menunggunya" ujar kak Chintya saat melihat Bianca yang masih mematung di tempatnya


Bianca mengangguk dan duduk di kursi meja makan, tepat di depan kakak iparnya. Ia sedikit menundukkan pandangannya, entah mengapa ia takut jika sampai kakak iparnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ia takut kakak iparnya akan bertanya macam macam tentang hal yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Makanlah yang banyak karena bahagia juga butuh tenaga" ucap kak Chintya. Mendengar perkataan kak Chintya membuat Bianca mengangkat kepalanya, hingga kini pandangannya bertemu dengan mata sang kakak ipar "Hahahaha itu hanya quetes instagram" ucap kaka Chintya saat menyadari raut wajah Bianca yang tampak terkejut


"Selebgram? Hahahh tidak, kakak hanya, yaa suka scroling instagram, terus akhirnya menemukan quetes-quetes anak jaman sekarang yang terkadang aneh, kadang memotivasi. Yaa cuma sekedar tau, dan suka" Bianca menganggukkan kepalanya mendengar penuturan kakak iparnya

__ADS_1


"Mmm kak, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu"


"Tentang?"


"Aku... Aku tidak tahu apakah itu kakak atau bukan, tapi aku rasa ini bukan pertemuan pertama kita"


"Maksud kamu?"


"Aku rasa kita pernah bertemu sebelumnya, 2 tahun yang lalu di... Rumah sakit. Tapi aku tidak tahu apakah wanita yang waktu itu benar benar kakak, karena waktu itu tampilannya sedikit berantakan" ucap Bianca

__ADS_1


Kak Chintya tampak salah tingkah, ia tampak gelagapan, terdengar dari dentingan sendoknya yang beradu dengan begitu keras di atas piring. "Mmm... Mungkin kamu salah lihat, 2 tahun terakhir kakak tidak pernah keluar rumah sekalipun karena, yaa kamu tahu kondisi kakak. Lagipula saat itu kakak di rawat di rumah sakit luar negeri, jadi kakak rasa tidak mungkin jika kita pernah bertemu"


Bianca tampak berfikir dan mengingat ingat, lalu di detik berikutnya ia pun menganggukkan kepalanya. Jika di fikir fikir apa yang di katakan kak Chintya benar, wanita yang ia lihat 2 tahun yang lalu itu pasti bukan kakak iparnya ini. Karena jika mendengar dari cerita kak Chintya yang mengatakan di rawat di rumah sakit luar negeri, maka tidak mungkin wanita itu adalah dirinya. Mengingat Bianca bertemu dengan wanita itu di rumah sakit terbesar di kota ini.


__ADS_2