
Setelah berusaha meyakinkan bapak-bapak yang tadi melakukan aksi penggerebekkan, akhirnya kini mereka bisa bernafas lega karena bapak-bapak tersebut mau menerima keputusan mereka untuk menemui keluarga Bianca terlebih dahulu
"Siapa anda? Kenapa anda bisa berada didalam satu kamar yang sama dengan Bianca?" layaknya seorang ayah yang tidak terima anaknya tertangkap basah berduaan dengan laki-laki asing di dalam kamar, om Iwan pun tidak lagi bisa menahan rasa ingin tahunya
"Saya.. saya tidak tahu" jawab laki-laki itu
"Apa yang kamu maksud?" tanya om Iwan sedikit tidak mengerti
"Maaf, tapi saya tidak memiliki maksud apa-apa, saya hanya mengira bahwa kamar ini adalah kamar yang di pesankan asisten saya untuk saya tempati malam ini. Saya tidak tahu kalau ternyata itu kamar orang lain"
"Anda bisa jelaskan alasan anda nanti di depan tuan Andre, dan sekarang anda harus bersiap-siap untuk ikut kami ke Jakarta" om Iwan masih belum mengerti arah pembicaraan laki-laki di depannya ini, tapi jalan tengah terbaik yang harus ia pilih hanya ini, menyerahkan laki-laki ini kepada sang tuan besar
"Tapi om, Bia tidak mau menikah dengan orang yang Bia tidak kenal" Sahut Bianca menyela
Om Iwan berdiri dari duduk nya, dan berjalan menghampiri Bianca dan mba Nini "Ini demi kebaikan kita bersama Bia, kalau kita tidak membawa laki-laki itu bersama kita, maka itu akan membuat ayah mu marah, kau tahu siapa ayahmu bukan?"
__ADS_1
Bianca diam, benar apa yang dikatakan om Iwan, hal ini pasti sudah sampai ke telinga ayahnya melalui mata-mata yang selalu mengikuti mereka, tapi jika sampai ayahnya menyetujui keputusan untuk menikahkan dirinya dengan laki-laki asing itu, itu artinya impian nya untuk menikah di-usia yang sudah ia targetkan harus pupus, dan ia akan menjadi seorang istri di usia yang menurutnya masih sangat muda
"Kita tidak punya pilihan lain, Bia. Kalaupun hari ini berita ini belum sampai ke telinga ayahmu, maka nanti malam, besok, lusa, atau kapan saja, orang-orang ayahmu secepatnya akan memberitahu ayahmu tentang ini" ucap om Iwan lagi
"Yang dibilang Om Iwan benar Bia, setidaknya kita harus membawa laki-laki itu ke hadapan ayahmu dulu, setelahnya biar ayahmu yang menentukan" ucap mba Nini ikut menimpali
*
"Ayah" Bianca segera berlari memeluk sang ayah saat melihat laki-laki paruh baya itu keluar dari ruang keluarga "Assalamu'alaikum" ucapnya sembari mencium punggung tangan sang ayah
"Wa'alaikum salam" tuan Andre mengulas senyum manisnya untuk sang putri
"Mari masuk" tuan Andre berjalan lebih dulu dan kembali memasuki ruang keluarga
Kini mereka semua telah duduk di sofa ruang keluarga kediaman prabaswara, dengan tuan Andre dan bianca yang duduk di satu sofa panjang yang berhadapan dengan om Iwan dan mba Nini, dan laki laki itu duduk di sofa single
__ADS_1
"Ada yang bisa menjelaskan duduk perkaranya?" tanya tuan Andre membuka suara
Semua orang tampak diam, tidak ada yang membuka suara, hingga tatapan tuan Andre kini beralih menatap pada putrinya yang masih menunduk
"Bisa jelaskan pada ayah siapa laki-aki ini?" tanya tuan Andre
Bianca mengangkat kepalanya, kini tatapan matanya bertemu dengan bola mata hitam milik sang ayah
"Bia tidak tahu ayah, semalam bia tidur dan lupa mengunci pintu, dan... Bia tidak tahu kenapa dia bisa ada di kamar Bia" ucap Bianca bersungguh-sungguh
"Bisa anda jelaskan?" tanya tuan Andre beralih pada laki-laki tampan yang terlihat duduk tegap di kursi single miliknya
laki-laki itu menatap tuan Andre tanpa rasa takut sedikitpun, ia justru terlihat begitu santai "Sebelumnya maaf, saya benar benar tidak bermaksud apa-apa, saya fikir kamar yang ditempati putri anda adalah kamar yang di persiapkan asisten saya untuk saya tempati malam itu, lagipula saat saya membuka pintu, pintunya tidak terkunci, jadi saya fikir itu benar benar kamar saya" jawab laki-laki itu denga jawaban yang sama seperti yang ia lontarkan kepada om Iwan
Tuan andre menghela nafas berat, walaupun emosi sudah menguasai dirinya tetapi sebisa mungkin ia tahan, masalah ini harus terselesaikan dengan jalan damai, atau jika tidak maka ini akan berpengaruh pada karier sang putri
__ADS_1
"Baiklah, siapa nama mu?" tanya tuan Andre
"Riko tuan, Riko Refaldo Dirgantara"