
Bianca menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh dengan perasaan sedih. Mengapa rasa sakit ini sangat mendominasi? Perlakuan suaminya yang tidak berperasaan benar benar membuat hatinya tergores. Ia telah bersusah payah membuatkan makanan, lalu menyajikannya diatas meja dengan tampilan secantik mungkin. Namun kini, hasil kerja kerasnya telah terbuang sia sia.
Bianca melihat pergelangan tangannya yang tampak memerah karena terkena percikan minyak. Tidak pernah terbayangkan oleh Bianca, jika ia akan berurusan dengan segala peralatan dapur. Ia yang awalnya tidak tahu bentuk peralatan dapur, kini di tuntut untuk memahami, bahkan menggunakan alat alat tersebut.
Tidak ingin berlarut dengan kesedihan karena perlakuan suaminya, Bianca segera merapikan dapur yang kini berantakan karena ulah suaminya. Ia tidak ingin kak Chintya sampai tahu akan hal ini, sehingga menambah beban di hati kakak iparnya itu. Selesai dengan aksi berberesnya, Bianca segera menyusul sang suami ke kamar.
Di dalam kamar, terlihat Riko yang tengah duduk di kasur dengan memainkan ponselnya. Ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan Bianca yang masuk ke kamarnya. Bianca yang merasa tidak di hiraukan pun berjalan kearah sudut ruangan, mengambil pakaian kotor suaminya, lalu segera membawanya menuju kamar mandi.
"Parfum wanita?"
Bianca kembali menghirup aroma kemeja sang suami untuk memastikan penciumannya. Hingga aroma strawberry dari parfum itu menjadi lebih jelas di penciumannya. Fikiran fikiran buruk pun kini mulai berkecamuk di benak Bianca. Namun sebisa mungkin ia menormalkan hatinya, meyakinkan diri bahwa apa yang menjadi praduganya tidaklah benar
__ADS_1
"No Bia, suamimu tidak mungkin serendah itu. No overthinking"
Tidak ingin terlalu jauh dalam praduga, Bianca segera memasukkan pakaian kotor sang suami kedalam mesin cuci. Ia akan menanyakan itu nanti, saat waktu sudah memungkinkan. Karena untuk saat ini, Bianca rasa bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya perihal hal yang pasti akan memancing keributan.
Bianca keluar dari kamar mandi, dan mendapati suaminya yang masih dalam posisi semula. Bianca diam, seolah tidak mau mengganggu aktivitas suaminya, ia takut jika sampai salah dalam mengambil tindakan, maka suaminya akan marah. Walaupun jauh di dalam hatinya ia sangat penasaran tentang hal apa yang membuat suaminya betah bermain ponsel selama itu.
Bianca beralih menatap ponselnya yang berada di atas nakas di samping tempat tidur. Diraihnya ponsel itu, lalu berjalan menjauh dari suaminya. Jika laki laki yang berstatus suaminya itu tidak mau berbicara dengannya, maka ia akan menghubungi laki laki terbaiknya saja, ayah Andre. Begitu panggilan terhubung, terdengar suara ayah Andre yang tampak begitu bahagia mendapat telepon dari putrinya
"Assalamu'aaikum"
"Ayah baik, bagaimana kabarmu dan suamimu? Semua baik kan?" tanya ayah Andre
__ADS_1
"Kami semua baik ayah, kak Chintya juga baik" jawab Bianca
"Alhamdulillah" terdengar tarikan nafas lega dari ayah Andre di ujung sana "Di mana suamimu?" tanya ayah Andre selanjutnya
"Aa.. Mas Riko masih kerja ayah" jawab Bianca lirih, ia tidak mau jika samapai suaminya tahu ia berbohong tentang keberadaan suaminya
Di ujung sana ayah Andre melirik jam di pergelangan tangannya "Lembur rupanya. Sampaikan saja salam ayah nanti untuk suamimu"
"Iya ayah, nanti Bia sampaikan"
"Kau bahagia kan disana?" tanya ayah Andre
__ADS_1
"Mereka semua memperlakukan Bia dengan baik ayah. Bia merasa memiliki keluarga kedua sekarang, Bia bahagia" jawab Bianca yakin, meskipun mulutnya bergetar mengucapkan itu
"Alhamdulillah, ayah bahagia mendengarnya"