Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 35


__ADS_3

Arhh


Riko menghempas semua barang yang ada dimeja kerjanya. Hingga membuat sang sekretaris yang saat itu tengah fokus dimejanya sampai membuka pintu ruangan sang Bos dengan tergesa dan sedikit mendobrak. Sekretaris Sonia hanya diam didepan pintu tanpa mengatakan sepatah katapun atas apa yang ia lihat. Bagaimana Bos-nya membuat ruangan besar itu penuh dengan kertas yang berserakan dan benda lain yang tidak berada pada tempatnya.


"saya butuh waktu sendiri sekarang" ucap Riko saat menyadari keberadaan sekretaris-nya


"Waktu sendiri? Ditempat ramai maksud kamu?" tanya Sonia datar


"Atur jadwal saya untuk malam ini, saya harus menenangkan diri" Riko kembali memberi perintah tanpa peduli dengan wajah datar sekretaris-nya


"Waktu sendiri apa yang kamu maksud? Waktu buat kamu membohongi diri sendiri? Waktu buat kamu meyakinkan hati kamu dan menghasut diri kamu untuk terus membenci wanita yang sekarang jadi istri kamu. Itu waktu sendiri yang kamu maksud? Ingat waktu sendirimu itu sudah menyakiti seseorang"


Damn

__ADS_1


Sonia berjalan menuju sofa yang tadi diduduki Bianca. Melihat bagaimana makanan yang tadi dibawakan oleh istri bos sekaligus sahabatnya itu, kini telah berantakan diatas meja. "Pernah kamu bayangkan betapa sakit hati Bianca? Setelah melayani nafsu bejadmu, ia masih mau membawakan makan siang untukmu. Aku yakin hati itu menyimpan kebencian, Tapi apa dia pernah menolak permintaan kakakmu?"


"Kamu tidak tahu apa apa Son"


"Kamu yakin aku tidak tahu apa apa? Ingat, bahkan kedatangan istrimu yang diminta kakakmu untuk mengantarkan makan siang untukmu, terdengar lebih dulu ditelingaku. Jadi menurutmu apa yang tidak aku tahu tentang kamu?"


Riko terdiam, ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan yang Sonia ajukan. Karena apa yang Sonia katakan benar, bahwa apapun yang berkaitan dengan kakaknya, pasti akan melalui laporan dengan Sonia. Bahkan untuk mengingatkan makan siang sekalipun, kak Chintya tidak akan menghubunginya langsung dan mengingatkan untuk makan tepat waktu, melainkan kak Chintya akan menghubungi Sonia dan menitipkan pesan itu


"Kamu tahu alasan kenapa aku minta kamu untuk pulang tadi malam? Karena aku tidak ingin kejadian buruk menimpa kamu. Aku tidak mau kalau sampai kamu melakukan kesalahan yang mungkin akan kamu sesali seumur hidup kamu. Sebelum semuanya terlambat, perbaiki hubunganmu dengan istrimu"


"Tidak ada yang terbunuh Riko" jawab Sonia tak kalah keras "Tidak ada yang terbunuh atas peristiwa itu. Semua ini hanya kesalahfahaman Riko, ingat itu. Wanita itu tidak bersalah"


"whatever that is yang aku tahu dia adalah pembunuh. Sebelum ada bukti yang membuktikan bahwa dia tidak bersalah, maka selamanya dia akan menjadi pembunuh"

__ADS_1


"Dan saat bukti itu sudah ada, maka disaat itulah penyesalan terbesar akan muncul. Camkan itu"


Ahhhh


*


Dentuman keras musik diruangan itu bahkan tidak mampu mengalihkan fikiran Riko yang kalut. Ya, Riko berada disini sekarang, di salah satu bar mewah di kota ini. Ia seakan tidak menghiraukan nasehat Sonia tadi dikantornya. Karena baginya hanya disinilah ia bisa merasakan ketenangan walaupun dengan keadaan hati dan fikiran yang bertolak belakang


"Tuang lagi minumnya" serunya pada salah satu Lc yang menemaninya


Wanita itu melirik laki laki yang sejak tadi berdiri dibelakang klien-nya seakan meminta persetujuan, dan hanya diangguki oleh laki laki itu. Wanita it7 lantas kembali menuang minuman itu entah untuk yang keberapa kalinya. Bahkan botol botol minuman keras itu sudah banyak yang kosong dan tergeletak begitu saja diatas meja


"Halo, dia baik baik saja"

__ADS_1


Laki laki yang sejak tadi berada dibelakang Riko tanpa sepengetahuan Riko itu, memasukkan handphone-nya kembali setelah mengangkat panggilan telepon dari rekannya. Ia kembali memantau keadaan Riko yang ia perkirakan sudah mabuk berat. Setelah itu ia berjalan mendekat dan memapah Riko untuk pulang, dibantu oleh salah satu Lc yang tadi menemani Riko


__ADS_2