
Bianca menyantap mie instant di hadapannya dengan rakus, seharian tidak makan membuat perutnya meronta menuntut untuk segera diisi. Terlebih lagi saat melihat wajah tampan suaminya yang tadi terlihat masam, membuatnya begitu geram, ia ingin menumpahkan kekesalannya, tapi tidak ada objek yang bisa di tuju, dan satu satunya yang bisa menjadi objek pembalasannya untuk saat ini hanya mie instant yang ada di hadapannya.
Srutt...
Bianca benar benar menikmati mie instant yang saat ini ia makan. Bahkan suara seruputan mie itu terdengar begitu jelas dan menggugah. Ini hal yang selalu Bianca sukai, momen disaat ia bisa menyantap mie instant sesuka hati tanpa harus memikirkan penilaian orang lain tentang caranya yang ternilai norak
Sedangkan kak Chintya yang sejak tadi melihat cara makan Bianca, menjadi ngeri sendiri. Hingga akhirnya ia memilih diam dan memperhatikan saja tingkah absurd adik iparnya itu. Ia tidak menyangka bahwa adik iparnya yang terkenal ini memiliki sisi norak yang tidak tertandingi. Ia bahkan sampai geleng geleng kepala saat menyaksikan bagaimana adik iparnya menyantap mie instant itu dengan rakus, bahkan suara seruputan mie itu terdengar begitu lezat di telinganya
"Bia... "
Uhuk...
Cepat cepat kak Chintya menjalankan kursi rodanya kearah Bianca demi memberinya minum. Diraihnya gelas yang memang sudah terisi air itu lalu di sodorkannya pada Bianca. Dengan segera Bianca menerima air yang di berikan kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Kakak, uhuk... Sejak kapan disana?" tanya Bianca masih terbatuk batuk
"Sejak awal kau memakan mie itu" sahut kak Chintya menahan senyummya, ia tidak tahan untuk tidak tersenyum saat melihat wajah adik iparnya yang tampak merah. Merah karena tersedak, dan tentu saja merah karena merasa malu padanya "Tidak perlu malu, habiskan saja makananmu"
"Mmm... Aaku.. sebenarnya sudah kenyang kak, tapi karena takut mubazir, makanya aku makan saja" elak Bianca
"Benarkah?" tanya kak Chintya tidak yakin
"Tentu saja"
"Tentu saja" Bianca menggeser mangkuk mie instant itu hingga ke depan kak Chintya "Tapi... kakak tidak mungkin memakan makanan yang sudah aku makan bukan?"
"Why not? Aku akan memakannya"
__ADS_1
Kak Chintya meraih mangkuk itu, ia mulai memakan mie instant itu perlahan. ia benar benar menikmati kenikmatan dari mie instant tersebut, karena sejak ia berada diatas kursi roda, Riko tidak menginzinkannya memakan makanan sembarangan lagi, terutama mie instant. Bahkan rumah yang tadinya menyimpan segudang mie instant itu, kini tidak lagi menyediakan sebungkus mie instant pun
"Oh iya, darimana kau mendapat mie ini?" tanya kak Chintya penasaran
"Bibi Nani yang memberikan" ucap Bianca sembari menatap nanar mie instant-nya yang kini tengah di santap kakak iparnya
"Oh" kak Chintya mengangguk anggukan kepalanya "Riko dimana?" tanya kak Chintya
"Di...Dia keluar. Katanya ada urusan mendesak" jawab Bianca gugup "Ahhh... Kak, aku pamit ke kamar dulu" Bianca beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kakak iparnya setelah melihat anggukan samar dari kak Chintya. Bukan bermaksud kurang ajar, hanya saja ia takut jika kakak iparnya akan bertanya lebih jauh tentang suaminya, sedangkan ia tidak tahu apapun tentang suaminya
"Urusan mendesak?"
*
__ADS_1
Ceklek...
Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Bianca mengalihkan tatapannya dari televisi di depannya. Tadinya ia hanya ingin menonton televisi sebentar untuk mengalihkan rasa rindunya pada sang ayah, tapi karena ia tidak merasa mengantuk, akhirnya ia terjaga hingga saat ini. Terlebih fikirannya kini sedang tertuju pada suaminya, fikirannya masih di penuhi oleh pertanyaan pertanyaan tentang, apa yang membuat suaminya berubah menjadi sedingin ini? Fikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya, hingga akhirnya kantukpun terasa hilang begitu saja