Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 39


__ADS_3

Bianca berdiri dengan diam, kakinya bahkan sudah tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Separuh jiwanya seakan hilang, pandangannya menatap kosong kearah gundukan tanah yang ada dihadapannya. Satu satunya keluarga yang ia miliki telah tiada, ayahnya telah menyusul sang ibunda kembali pada sang pencipta, meninggalkan dirinya yang berjuang keras menghadapi kehidupan ini seorang diri


Bianca melirik disampingnya, hanya ada keluarga inti saja disana. Ada mba Nini yang setia menemani dirinya sejak semalam di rumah sakit, ada mami Gisel yang barusaja tiba dari amerika karena mendengar kabar duka dari ayahnya, dan disampingnya lagi ada suaminya. Yaa suaminya beserta kakak iparnya, beserta bik Wati. Bianca tidak menyangka jika laki laki itu akan datang ke pemakaman ayahnya pagi ini, Bianca melangkah kedepan suami dan kakak iparnya dengan sedikit tertatih


"Kak.. Mas.. Maaf karena tidak meminta izin kalian untuk pergi tadi malam. Aku... Aku... "


"Bia sudah, kakak faham. Riko juga mengerti situasi kamu, tapi kita ini keluarga sayang. kakak merasa sangat bersalah saat mengetahui kamu meninggalkan rumah tanpa sepatah katapun"


"Maafkan Bia kak, dan maafkan ayah Bia juga jika mungkin selama hidupnya beliau memiliki salah kepada kakak dan mas Riko" ungkap Bianca dengan menatap kak Chintya dan Riko bergantian

__ADS_1


"No sayang, ayah Andre orang baik. Kakak yang seharusnya meminta maaf kepada beliau karena belum bisa menjadi kakak yang baik untuk anak perempuannya" ucap kak Chintya


Bianca berpindah dan menatap suaminya yang sejak tadi diam "Maaf jika ayah melakukan kesalahan semasa hidupnya kepada mas. Biarkan beliau jalan dengan tenang, dan biarkan beliau..."


Bianca tidak lagi bisa melanjutkan perkataannya saat tiba tiba Riko menariknya kedalam pelukannya. Mendapat perlakuan lembut dari suaminya membuat Bianca terlena, ia membalas pelukan suaminya dan menangis sesegukan didada bidang itu. Bahkan Bianca tidak menyadari saat semua yang ia lihat hanya kegelapan, dan seruan suaminya yang menyebut namanya diakhir kalimat tidak lagi ia dengar. Ia mengaku lemah dan ingin istirahat sekarang.


"Bi tolong bawa kak Chintya ke mobil" perintah Riko


Riko segera menggendong Bianca dan membawanya menuju mobilnya. Ia akan secepatnya membawa Bianca ke rumah untuk istirahat, ia tahu jika semalam Bianca tidak istirahat sama sekali karena menunggu pagi menjelang untuk memakamkan ayah mertuanya. Hati Riko berkecamuk sekarang, ia mengkhawatirkan keadaan istrinya. Tunggu, istri? entahlah...

__ADS_1


Sesampainya di rumah kediaman Prabaswara, Riko segera menggendong kembali Bianca menuju kamarnya di lantai dua. Ini adalah kali pertama Riko menginjakkan kakinya di kamar ini. Ia segera membaringkan Bianca diatas tempat tidur


"Berikan ini dihidungnya" perintah mami Gisel sembari memberikan sebuah botol kecil kepada Riko. Riko segera mengambil apa yang diberikan mami Gisel dan mengoleskan minyak tersebut ke hidung Bianca secara berulang


"Saya minta om Iwan dan papi Rayden untuk keluar" ucap Riko yang membuat semua mata tertuju padanya "Saya ingin melepas jilbab istri saya, dia pasti tidak nyaman jika memakai jilbab seperti ini" ucap Riko saat mendapati tatapan tidak menyenangkan dari semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Baiklah"


Meski dengan sedikit emosi kepada menantu mereka yang tidak tahu diri itu, tapi baik papi Rayden maupun om Iwan tidak ada yang membantah. Karena melihat tatapan mami Gisel dan mba Nini yang sudah mengisyaratkan untuk menurut. Setelah kepergian om Iwan dan papi Rayden dari ruangan itu, Riko melepas jilbab Bianca, dan untuk pertama kalinya melihat kecantikan istrinya tanpa jilbab dalam keadaan sadar

__ADS_1


__ADS_2