
Riko menatap pantulan dirinya didepan cermin. Setelah memberikan semua tugasnya kepada Sonia dan Tasyi, ia menuju kamar rahasianya. Saat masuk, pemandangan pertama yang hadir dimatanya adalah foto Bianca yang tersenyum manis kearahnya, dengan balutan dress mewah yang tentu saja berharga fantastis. Itu adalah foto paling indah yang mampu di ambil anak buahnya saat Bianca mengisi acara Off-air, jauh sebelum ia merencanakan untuk menjebak Bianca, dan kini foto itu yang terus menemani harinya.
"Aku jadi merindukannya lagi" monolog Riko dengan senyum tipisnya.
Riko melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu terlintas kebiasaan yang selama ini ia lakukan. Minggu ini ia belum membelikan berbagai kebutuhan Bianca, berbagai sayuran, dan susu ibu hamil. Ya, selama seminggu ini, setelah ia mendapat izin dari mba Nini untuk menemui Bianca, ia juga turut memenuhi kebutuhan istrinya itu. Ia tidak ingin jika sampai istri beserta kedua buah hatinya sampai kekurangan sesuatu
Tanpa pikir panjang, ia segera keluar dari ruangannya. Saat sampai didepan pintu, ia melihat Tasyi yang melintas dengan dua cangkir kopi ditangannya. "Dimana sekretaris Sonia?" tanya Riko
"Sekretaris Sonia ada di ruangannya pak" jawab Tasyi sopan
"Katakan padanya kalau aku keluar, dan minta dia untuk meng-handle kantor selama aku di luar" ucap Riko yang berlalu pergi begitu saja
__ADS_1
"Kalau bukan karena dia bos, sudah aku maki maki dia" sungut Tasyi menggerutu
*
Riko sudah tiba di sebuah super market langganannya. Sebelum keluar dari mobil, ia melepas jas nya, dan hanya menyisakan kemeja putih polos yang membalut tubuhnya. Setelah itu Riko segera masuk. Ia segera mengambil troli, dan mulai memilih barang yang akan ia beli. Sudah satu minggu melakukan hal serupa, membuat Riko tidak canggung ataupun bingung untuk memilih apa saja yang harus ia beli
Setelah puas memilih, dan memenuhi troli belanjaan dengan berbagai belanjaan, Riko memutuskan untuk menuju kasir. Ia membayar semua belanjaan, setelah itu mengangkut kantong kantong belanjaan tersebut menuju mobil. Ia bahkan menolak para karyawan super market untuk membawakan belanjaannya. Selesai dengan urusan belanjanya, ia segera tancap gas menuju rumah mba Nini
"Jangan mentang mentang ganteng jadi suka godain mba" ucap mba Nini sewot "Turunkan sekarang barang belanjaannya, nanti Bianca melihat" ucap mba Nini sembari melirik kesana kemari
Riko segera turun dari mobil, membuka bagasi dan menurunkan semua barang belanjaannya. "Mau saya bantu mba?" tanya Riko saat melihat mba Nini yang tampak kesusahan membawa kantong belanjaan tersebut
__ADS_1
"Tidak usah, lebih baik sekarang kamu pulang. Jangan sampai Bianca melihat, atau rencana kita akan berantakan" ucap mba Nini
"Iya mba, sekali lagi terima kasih mba. Saya titip Bianca"
"Iya, sudah sana pergi" usir mba Nini, setelah itu mba Nini membawa barang barang pemberian Riko masuk kedalam rumah.
"Mba belanja?" tanya Bianca
Suara merdu itu membuat langkah mba Nini terhenti di ambang pintu. Ia menatap Bianca, lalu beralih menatap belakangnya, ternyata mobil Riko sudah pergi darisana. Mba Nini menghembuskan nafas lega
"Iya, tadi mba belanja di depan" ucap mba Nini sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya
__ADS_1