Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 78


__ADS_3

Dokter Dio menuju mobilnya yang terparkir dihalaman perusahaan Riko. Jika ia tidak diizinkan masuk, maka ia akan menunggu, ia tidak peduli sampai kapan ia harus menunggu Sonia, karena yang terpenting baginya saat ini adalah ia bisa bertemu Sonia dan memperbaiki hubungan mereka. Dio duduk diam, dengan segala pemikiran dalam benaknya tentang semua hal yang tidak ia ketahui, ia sedikit merutuki dirinya yanh tidak suka terlalu lama berselancar di media sosial, sehingga ia bisa ketinggalan berita tentang pernikahan Riko


Huh


"Aku harus segera menemui Sonia dan membicarakan hubungan kami" monolog Dio


*


"Bia..." mba Nini menggenggam tangan Bianca yang sejak tadi melamun "Ada apa?"

__ADS_1


"Bia ingin ke makam ayah dan bunda mba" ucap Bianca masih menatap keluar jendela dengan tatapan kosong


"Kamu yakin?" tanya mba Nini yang langsung dijawab anggukan pasti oleh Bianca


Om Iwan yang mendengar pembicaraan antara Bianca dan mba Nini, segera melajukan mobilnya menuju pemakaman keluarga prabaswara. Tidak lama setelah itu, ketiganya sampai di pemakaman. Bianca turun dari mobil masih dengan tatapan kosongnya


"Ayo kita beli bunga dulu" ajak mba Nini yang lagi lagi hanya dijawab Bianca dengan anggukan. Bianca berjalan mengikuti mba Nini untuk membeli bunga yang dibutuhkan, setelah itu ketiganya baru akan ke makam kedua orang tua Bianca


"Kenapa..." mba Nini tidak melanjutkan pertanyaannya saat melihat tatapan mata om Iwan yang mengisyaratkan untuk diam "Baiklah, hati hati"

__ADS_1


Bianca melangkah perlahan menuju makam kedua orang tuanya. Ia duduk diantara makam ayah dan bundanya, diusapnya kedua nisan itu, lalu kemudian ia menabur bunga untuk dua makam itu secara bergantian.


"Assalamu'alaikum ayah, bunda. Kalian apa kabar? Kalian pasti bahagia karena disana kalian sudah bertemu, iya kan? Bianca datang kesini hari ini untuk menambah kebahagiaan ayah dan bunda, karena sebentar lagi Bia akan menjadi seorang ibu. Anak manja yang selalu memendam semuanya sendiri karena tidak ingin membuat ayah sedih ini, sebentar lagi akan menyandang gelar ibu yah. Semoga Bia bisa melakukan tugas mulia ini seorang diri, seperti halnya ayah yang merawat Bia seorang diri"


Bianca menghabiskan beberapa jam berada di makam kedua orangtuanya. Ia membagi keluh kesahnya dan semua cerita hidup yang sudah ia lalui. Ia tahu mungkin ayah dan ibunya akan sedih jika mendengar cerita tentang pernikahannya yang tidak berjalan baik, tapi dengan ia bercerita maka hatinya akan lega.


"Bia pamit pulang yah, bun. Bia janji Bia akan sering kesini mengunjungi ayah dan bunda"Setelah puas menumpahkan segala isi hatinya, Bianca kembali berjalan keluar dari pemakaman


Sedangkan diujung sana, dipintu masuk yang berlawanan, terlihat Riko yang menenteng bakul bunga dan berjalan menuju makam kedua mertuanya. Seperti yang sudah ia jadwalkan sebelumnya, ia akan mengunjungi makam kedua mertuanya. Disinilah Riko berada saat ini, berdiri mematung menatap makam kedua mertuanya yang terlihat sudah dipenuhi oleh bunga.

__ADS_1


Riko memandang sekitarnya, dan berlari meninggalkan bakul bunga diatas makam kedua mertuanya, entah mengapa hatinya seakan mengatakan bahwa istrinya ada ditempat itu. Entah keyakinan darimana yang akhirnya membuatnya percaya dengan perasaannya, tapi saat ini, ia yakin bahwa perasaannya tidak pernah salah. Ia bisa merasakan kehadiran Bianca disana. Riko terus berlari menuju luar pemakaman, tapi sayangnya ia tidak melihat siapapun disana


__ADS_2