
"Istriku hamil? Tapi mustahil Son"
"Kenapa?" tanya sonia
"Kami hanya melakukannya sekali, dan sangat tidak mungkin jika dia hamil" jawab Riko yakin
Sonia mengeluarkan handphone-nya dari tas, dan segera mencari jawaban atas pertanyaan Riko. "Yes, ketemu" seru Sonia
"Apa yang kamu temukan?"
"Jawaban dari pertanyaan kamu, bahwa tidak perlu berhubungan berkali kali untuk bisa hamil. Meskipun hanya berhubungan satu kali, tapi jika terjadi pembuahan antara sel ****** dan telur, maka kehamilan bisa saja terjadi"
Riko diam setelah mendengar penjelasan Sonia. Apa mungkin Bianca telah hamil? Apa mungkin perbuatannya malam itu membuahkan hasil. Riko menyugar rambutnya kasar
"Menurut apa yang aku baca, jika Bianca saat ini benar benar hamil, maka yang saat ini kamu alami adalah Couvade, atau kehamilan simpatik. Dimana kamu mengalami ngidam yang seharusnya dialami Bianca" jelas Sonia lebih lanjut
*
__ADS_1
Pagi ini Bianca bangun lebih pagi, dan kini ia tengah menunggu matahari terbit. Bianca duduk di kursi depan rumahnya, menutup mata sembari menikmati udara sejuk yang saat dihirup akan membuatnya merasakan hidup di pegunungan. Bianca membuka kedua matanya, dan ia dikagetkan oleh kehadiran Neneng yang tiba tiba ada dihadapannya.
"Aaaa"
Baik Neneng maupun Bianca sama sama berteriak. Jika Bianca berteriak karena kaget saat menyadari keberadaan Neneng, maka Sebaliknya, Neneng kaget saat melihat Bianca kaget. Bianca mengelus dadanya untuk mengurangi shock yang ia alami
"Maaf ya teh, Neneng tidak bermaksud membuat teteh terkejut" ucap Neneng saat melihat Bianca sedikit lebih tenang
"Ia, tidak apa apa. Kamu mau kemana pagi pagi begini? Bawa bawa tas segala" tanya Bianca
"Pasar?"
"Iya, teteh mau ikut?" tanya Neneng antusias
"Jauh?" tanya Bianca
"Dekat teh, kita hanya tinggal mengikuti jalan ini, lalu kita akan sampai di pasar" jawab Neneng
__ADS_1
Bianca mengikuti langkah Neneng dari belakang. Setelah mempertimbangkan, akhirnya ia memutuskan untuk ikut Neneng pergi ke pasar. Sekalian, ia juga ingin melihat seperti apa pasar, karena selama 23 tahun, ia hidup dalam lingkungan berada, sangat mustahil untuk dirinya pergi ke pasar.
Saat tiba di pasar, Neneng mengamit lengan Bianca. Neneng tidak mau jika Bianca sampai menghilang diantara ribuan manusia. Karena jika pagi seperti ini, orang orang akan ramai ke pasar untuk memburu sayuran segar. Neneng berpindah dari satu pedagang ke pedagang lain dengan tetap mengamit lengan Bianca. Saat keduanya akan berjalan keluar dari pasar, dan berniat untuk pulang, Bianca melihat seorang gadis yang memegang microphone di tangan kanannya, dan berpindah dari satu pedagang ke pedagang lain untuk meminta uang
"Itu wajar disini" ucap Neneng saat melihat Bianca yang menatap wanita pengamen itu
"Apakah di pasar ini banyak pengamen seperti wanita itu?" tanya Bianca tanpa mengalihkan tatapan matanya dari gadis muda itu
"Sangat banyak sekali, hanya saja untuk hari ini Neneng lihat hanya sedikit. Itu pengamen versi normalnya teh" jawab Neneng
"Pengamen versi normal?"
"Iya, ada pengamen lain yang menjadi waria, lalu berjoged dari satu pedagang ke pedagang lain. Hanya untuk mencari uang teh. Menurut mereka selagi uang yang mereka peroleh bukan hasil meminta minta, maka itu halal"
"Setidaknya mereka masih ada niat untuk bekerja dan mencari nafkah Neng"
"Iya teh"
__ADS_1