
Tok... Tok...
"sayang ayah boleh masuk?"
Bianca hanya diam, ia harus bertahan dalam posisi diamnya jika ingin rencana ini berhasil
"coba biar aku yang membujuk Bianca"
Tampaknya sang ayah tidak sendiri, terbukti dengan adanya suara seorang wanita yang sangat Bianca kenali. Untuk sekarang Bianca agak sedikit cemas, jika benar dugaannya tentang perempuan yang saat ini bersama sang ayah di depan kamarnya, maka bisa di pastikan usahanya untuk meluluhkan hati sang ayah dengan cara ini pasti akan gagal total.
Tok...
"Sayang... Mami boleh masuk?"
"Bia... "
__ADS_1
Bianca masih berusaha diam, ia harus bertahan dengan mode diamnya walaupun saat ini cobaan besar tengah menghampirinya. Bianca terus menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, ia melakukan itu terus menerus untuk memantapkan hatinya agar tidak goyah dengan suara lembut yang sedari tadi memanggilnya
"Bia... Mami masuk ya... "
Hufff
Dengan berat hati akhirnya Bianca bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamarnya
"Bia... "
"Iya sebentar" sahut Bianca
"sayang"
wanita itu merentangkan tangannya untuk memeluk Bianca, dan Bianca pun dengan sukarela menyambut uluran tangan dari wanita paruh baya di hadapannya. Selesai aksi saling berpelukan, kini Bianca mengajak wanita yang menyebut dirinya mami tersebut untuk masuk
__ADS_1
"Duduk mi" Bianca naik keatas kasurnya dan duduk bersandar pada sandaran ranjang, wanita tadi juga ikut duduk di samping Bianca
Sesaat hanya keheningan yang melanda ruangan itu, hingga pada akhirnya wanita tersebut mulai angkat bicara
"Ayah sudah cerita semuanya ke mami" Bianca menatap wajah wanita tersebut, menunggu kata selanjutnya yang akan keluar "Menurut mami... Ini adalah jalan terbaik untuk karier kamu dan nama baik kamu" wanita itu menatap Bianca yang sedari tadi diam mendengarkan ucapannya
"Tapi... Bia... " Bianca menundukkan wajahnya, ia masih belum sanggup jika harus berpisah dengan ayahnya, sang cinta pertama
Wanita itu beringsut mendekati Bianca lalu mengusap puncak kepalanya dengan sayang "Hidup ini adalah sebuah perjalanan sayang, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus melanjutkan hidupmu ke jenjang selanjutnya. Menikah, punya anak, tua, semua harus kamu lalui, kalau kamu tidak melalui fase fase dalam kehidupan itu, maka kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu harapkan"
"Tapi mi, Bia... "
"Mami tahu, kamu ingin selalu bersama ayah kan? menemani ayah menjalani hari tuanya yang terasa hampa karena tanpa kehadiran bunda. Tapi yang harus kamu fikirkan adalah, ayah juga menginginkan yang terbaik untuk kamu, putrinya. Ayah juga pasti ingin melihat kamu menikah, punya anak, dan merasakan menimang cucu untuk pertama kalinya" wanita itu menunjukkan senyum teduhnya sembari terus mengusap puncak kepala Bianca yang masih menunduk
"Dengar sayang, dulu bunda menikah dengan ayah karena sebuah perjodohan, perjodohan yang tercetus oleh kakek mu, tuan Bimo. Kamu tahu? dulu bundamu juga berfikiran sama sepertimu, ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuan, dan saat itu bunda juga tidak ingin menikah karena alasan yang sama, tidak ingin meninggalkan kakekmu. Tetapi apapun yang terjadi, garis takdir masih akan berjalan pada jalannya, ia tidak akan berbelok walau hanya satu jengkalpun. Sekarang bisa kamu saksikan, walaupun kebersamaan ayah dan bunda tidak selamanya, tetapi setidaknya kamu bisa melihat bukti cinta dari keduanya, kamu... adalah bukti cinta terbesar antara ayah dan bundamu"
__ADS_1
...****************...
Hayoooo, kira kira wanita itu siapa? mami? uhhhh jangan jangan....😀