
"Maafkan aku Teh, semoga setelah ini hidup Teteh akan bahagia. Teteh berhak mendapat kebahagiaan setelah penderitaan yang selama ini Teteh rasakan"
Carissa keluar dari ruangan Bianca saat merasa sudah cukup lama berada disana. Ia lantas memakai kain yang tadi ia kenakan, menutupi seluruh tubuhnya, hingga hanya terlihat bagian mata. Ia berjalan menemui Kak Chintya yang masih berada di luar ruangan, menganggukan kepala sejenak, sebelum akhirnya pergi. Ia tidak ingin jika Riko terbangun, dan menyadari kehadirannya, karena jika itu terjadi, mungkin Riko akan murka karena merasa di khianati. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan keluarga Riko
Empat jam berlalu begitu saja. Riko melihat dari kaca transparan itu, masih belum ada tanda tanda bahwa istrinya akan sadar. Ia kemudian melihat perawat yang melintas, dan meminta perawat tersebut untuk memanggil dokter Stephanie.
Beberapa menit setelahnya, dokter Stephanie datang bersama dokter Dio. Kedua dokter itu dengan segera memeriksa keadaan Bianca. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter Dio dan dokter Stephanie tampak saling bertatapan, dan setelahnya keduanya menggeleng secara bersamaan.
__ADS_1
Dokter Stephanie keluar dari ruangan Bianca dengan dada bergemuruh. Ketakutan besar kini benar benar menghantuinya. Dengan bantuan dokter Dio, akhirnya dokter Stephanie menghadap Riko dan Kak Chintya yang ada di depan ruangan
"Bagaimana dokter, kapan istri saya akan sadar?" tanya Riko menggebu "Dokter Stephanie..." Riko kembali memanggil nama dokter tersebut saat ia sama sekali tidak mendapat jawaban
"Maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi... Tapi... nyonya Bianca tidak bisa kami selamatkan"
Bugh
__ADS_1
*
Hari ini, gemercik hujan yang turun menjadi saksi betapa keluarga besar Dirgantara sedang berduka. Isak tangis tak henti hentinya terdengar. Saat ini semua orang tengah berduka, mengiringi kepergian sosok yang sangat berarti bagi mereka. Sosok anak, sosok istri, serta sosok ibu.
Riko membantu menggiring brankar sang istri untuk dibawa menuju mobil ambulance yang sudah tersedia. Ia duduk di kap belakang, bersama dengan mayat sang istri, sedangkan Kak Chintya dan beberapa keluarga lainnya menggunakan mobil pribadi, dan ikut menyusul di belakang mobil ambulance
Riko turun dari mobil dengan menandu keranda sang istri, bersama Papi Rayden, Om Iwan, dan anak dari Papi Rayden, Aksa. Mereka berjalan menuju pemakaman yang memang sudah di siapkan. Dengan bantuan beberapa kerabat yang ikut berta'ziah, akhirnya proses pemakaman berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Riko bersimpuh di hadapan makam sang istri. Meski tidak berucap, tapi matanya yang basah oleh air mata sudah cukup menceritakan betapa hatinya sangat hancur. Kak Chintya serta Mami Gisel berkali kali memberikan ulasan pada punggungnya, berharap hal itu bisa menenangkan jiwanya yang tengah rapuh.
"Maafkan aku sayang, sampai saat ini sakit dan penderitaan yang pernah kamu alami belum terbayar. Tangis dan penyiksaan yang kamu pendam atas ulahku, sama sekali belum aku tebus. Aku mohon maafkan aku"