
Riko masih disini, di ruang kerja pribadinya dan tengah menatap laptop yang ada di hadapannya. Menandatangani berkas demi berkas yang menumpuk tapi dengan fikiran yang berkecamuk. Sejak kepergiannya dari kamar utama tadi malam dan memilih tidur di ruang kerja, ia belum pernah sedikitpun keluar dari ruang kerjanya. Satu yang ia takutkan, ia takut bertemu kakaknya dan berakhir dengan pemberian petuah tentang penyesalan, seperti apa yang sudah kakaknya sampaikan sebelumnya.
Riko tidak mengerti bagaimana kakaknya bisa sebaik itu kepada orang yang jelas jelas adalah orang yang menjadi dalang di balik semua kekacauan ini. Riko masih tidak habis fikir, bagaimana kakaknya bisa dengan mudah memaafkan kesalahan yang sudah di perbuat perempuan itu terhadapnya dan keluarganya. Jimat apa yang sebenarnya perempuan itu pakai hingga kakaknya seolah tidak mampu hanya untuk melontarkan kalimat kebencian untuknya.
"Wanita munafik" Riko menghempas pulpen yang sejak tadi ia pegang, mendorong meja di hadapannya hingga kursinya mundur dengan sendirinya "Pandai sekali kau bermain peran, kau masuk kedalam keluargaku seolah tanpa beban. merusak kebahagiaan keluargaku tanpa sisa, dan sekarang kau datang kembali masih dengan wajah yang sama, munafik!"
__ADS_1
Riko bangkit dari kursinya lalu melemparkan jarum panah kecil kearah sisi dinding yang di penuhi oleh foto foto Bianca. Entah bagaimana foto foto itu bisa ada bersama Riko, yang pasti semua foto itu bagai sebuah kejadian berturut turut dari hari ke hari. Riko seolah menjadi penguntit yang selalu mengikuti kemanapun Bianca pergi. Semua foto dengan berbagai gaya candid ada disana, dimulai dari foto Bianca yang tengah tersenyum sembari memegang mic, nongkrong di cafe, bahkan ada foto yang terlihat masih sangat baru, foto dimana Bianca berada di motel tempat kejadian perkara yang membuat keduanya bertemu
"Setelah ini, jangan harap akan ada kebahagiaan lagi untukmu. Aku akan membuat hidupmu bagai di neraka. Aku akan membuat mu merasakan sakit dan kesedihan yang di derita keluargaku selama ini. Kau akan sengsara dalam genggamanku"
*
__ADS_1
Hidup dalam lingkungan yang begitu baik. Memiliki ayah yang sangat menyayangi, memiliki ibu angkat sebaik mami Gisel, dan memiliki teman layaknya keluarga seperti om Iwan dan mba Nini, membuat Bianca merasa terkejut saat mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari suaminya sendiri. Namun untuk saat ini, Bianca tidak memiliki alasan apapun untuk berbicara. Tidak mungkinkan ia akan memperbesar masalah tentang suaminya yang memeluk wanita lain? Suaminya pasti akan acuh atau bahkan akan menjawab dengan jawaban yang akan kembali membuatnya sakit hati. Lagipula hubungannya dengan sang suami tidak begitu baik, jika selama dua hari pasca pernikahan mereka, mereka masih tidur dalam satu kamar karena takut di ketahui oleh kak Chintya, maka saat ini, semuanya mulai terbuka. Suaminya seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat tidak berharga di matnya, ia bahkan menunjukkan ketidakpeduliannya kepada Bianca dengan terang terangan
"Kenapa sekuat ini Bia? Ingin menunjukkan apa? kesetiaan? No! Kamu menggunakan cara yang salah. But kamu dewasa ya sekarang, berani menghadapi masalah sendiri"
Bianca tersenyum di hadapan cermin itu. Yaaa cermin, cermin adalah teman satu satunya yang bisa ia ajak berbicara. Ini adalah satu kebiasaan aneh yang ia jalani, berbicara di hadapan cermin hanya sekedar untuk menyemangati diri.
__ADS_1
...****************...
"Saat hati menginginkan sebuah tempat peraduan, tapi tidak memiliki tempat tujuan, maka luapan aneh seringkali muncul, dan aku menyebut ini sebagai sebuah keunikan" Bianca Andini Prabaswara