Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 12


__ADS_3

Setelah mengamati para wartawan itu, kini Bianca kembali masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya kembali keatas tempat tidur. Lagi lagi pemandangan langit langit kamar begitu indah, Bianca memandang langit langit kamarnya dengan tatapan menerawang, ada rasa sesak dalam dadanya jika teringat semua kejadian yang menimpanya dua hari ini. Mendapat masalah yang tidak pernah ia duga sebelumnya, yaitu di paksa keadaan untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenali hanya untuk menyelamatkan nama baiknya dan juga keluarganya.


"Apa mungkin ini jalan terbaik? Pernikahan, perjodohan paksa"


Bianca tersenyum miris saat mengatakan itu, ia teringat perkataan maminya tentang bagaimana bunda dan ayahnya bertemu. Cukup miris, sebuah pertemuan yang mempersatukan mereka dalam persahabatan hingga akhirnya menumbuhkan cinta. Namun cinta itu tidak bisa berkembang karena ada cinta lain yang ternyata juga tersimpan, yaitu cinta dari maminya untuk ayahnya. Cinta segitiga, perkara itulah yang dulu menjadi problem dalam hubungan ayah dan bundanya, hingga akhirnya ayah dan bundanya di persatukan dalam pernikahan karena sebuah perjodohan


Setelah perjodohan antara ayah dan bundanya, akhirnya mami Gisel memutuskan untuk menjauh dari ayah dan bundanya karena takut akan merusak hubungan rumah tangga ayah dan bundanya yang saat itu masih dalam tahap cinta bertepuk sebelah tangan, bundanya mencintai ayahnya, tetapi ayahnya mencintai maminya, miris. Yang Bianca tahu tidak lama setelah pernikahan ayah dan bundanya berlangsung, akhirnya maminya juga menikah dengan laki laki yang saat ini menjadi suaminya;papi Rayden.


"Apa dalam garis keturunan keluarga ini harus berakhir dengan pernikahan karena perjodohan? Ini tidak adil. Kenapa orang lain bisa hidup bahagia dengan pria impian mereka, mereka bisa bahagia dengan pilihan yang bisa mereka tentukan sendiri, apa hidup memang se-tidak adil itu dalam hidupku?"

__ADS_1


"Nyatanya kehidupan memang sekejam itu"


Bianca bangkit dari baringnya saat mendengar suara seseorang, terlihat mami gisel yang berdiri di ambang pintu, dan perlahan memasuki kamarnya dengan langkah anggun dan senyum yang mengembang


"Mami?" lirih Bianca


"Bundamu hidup untuk di cintai oleh ayahmu, dan mami... Dulu mami di ciptakan hanya untuk menguji kekuatan cinta antara ayah dan bundamu" mami Gisel berbalik menghadap Bianca yang masih duduk di atas tempat tidurnya


"Jika tidak karena keterpaksaan bundamu menerima perjodohan yang saat itu kakekmu ajukan, maka mungkin hingga detik ini mami masih bersama dengan ayahmu"

__ADS_1


"Maksud mami?"


Bianca langsung bangkit dari duduknya saat mendengar perkataan mami Gisel. Otaknya seakan berputar dan terus menelaah apa yang di maksud oleh maminya


"Kenapa?" mami Gisel kembali membelakangi Bianca, ia kembali melihat halaman luas kediaman prabaswara itu "Mami hanya ingin membuatmu membuka mata, bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah pelajaran"


Mami gisel berbalik dan berjalan kearah Bianca, di tatapnya Bianca dengan tatapan teduhnya. Seorang anak balita piatu yang dulu ia rawat dengan penuh cinta, kini tumbuh cantik dan berbakat. Jauh di dalam hatinya ia merasa sangat bangga karena bisa membesarkan seorang putri dari sahabatnya sendiri, membimbingnya layaknya seorang ibu kepada anaknya, tanpa membedakan sedikitpun kasih sayang antara Bianca, dan anak kandungnya.


"Jika kau di takdirkan menjadi bagian dari sebatang pohon, maka jadilah kau akar yang akan terus memberikan kekuatan kepada pohon untuk tetap bertahan dengan terpaan angin. Mami, papi, ayah, kami tidak akan memaksamu untuk mengikuti apa yang kami mau, kami hanya akan membimbingmu sedikit demi sedikit, hingga kau faham arti dari sebuah pengorbanan"

__ADS_1


__ADS_2