
Saat ini, om Iwan, mba Nini, dan Bianca duduk di ruang keluarga milik om Iwan. Om Iwan dan mba Nini menatap Bianca secara intens, lalu setelahnya keduanya saling tatap dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh keduanya
"Jadi dimana kamu selama ini?" tanya mba Nini memulai pembicaraan
Hufff
Bianca menghela nafasnya sebelum akhirnya menceritakan semua yang ia alami selama pernikahannya dengan Riko. Tentang dirinya yang tidak pernah mendapatkan hak sebagai seorang istri. Tentang dendam yang selama ini disimpan suaminya, dan tentang hidupnya yang begitu sederhana berada di desa tempat persembunyiannya
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya om Iwan Bianca tidak menjawab pertanyaan om Iwan, ia hqnya mengeluarkan map yang saat itu ia temukan didalam kamar Riko "Apa ini?"
"Om baca saja" ucap Bianca
"Perceraian?" tanya om Iwan setelah membaca isi dari map yang diberikan Bianca
"Ya, jauh sebelum aku menikah dengan laki laki itu, dia sudah mempersiapkan surat perceraian itu, dan aku ingin om mengurus surat itu secepatnya. Biarkan dia bahagia karena rencana balas dendam yang sudah ia susun rapi akan terlaksana"
__ADS_1
"Tapi Bia... " mba Nini memandang Bianca secara intens, ia tidak berani meneruskan perkataannya, sebab ini baru dugaannya saja. Saat pertama ia melihat Bianca di terminal, ia sudah menyadari tubuh Bianca yang tampak berbeda, dan sekarang ia yakin kalau hal berbeda itu karena sesuatu yang ada dalam diri Bianca
"Aku akan mengurusnya sendiri mba" sahut Bianca saat tahu arah pembicaraan mba Nini "Lagipula aku sudah punya kalian, dan mami Gisel, aku yakin aku bisa melalui semua ini" sambungnya
"Kamu yakin?" tanya om Iwan kembali bertanya
"Bia sangat yakin om"
"Baiklah"
"Satu hal?"
"Tentang penyakit Bia. Bia sudah lama menyembunyikan penyakit Bia dari kalian, bahkan dari ayah sekalipun. Selama ini Bia merasa baik baik saja, tapi akhir akhir ini Bianca merasakan gejalanya kembali datang" ucap Bia
"Penyakit apa yang kamu maksud Bia?" tanya mba Nini cemas
__ADS_1
"Bia menderita Anemia mba"
"Anemia? kenapa kamu tidak pernah cerita selama ini Bia?"
"Maaf, Bia pikir, Bia akan bisa melawan penyakit ini sendiri tanpa harus membuat orang orang disekitar Bia merasa khawatir"
Mba Nini beranjak mengitari meja kecil yang ada dihadapannya, lalu duduk disamping Bianca "Kamu sudah seperti putri mba, harusnya kamu bisa lebih terbuka sama mba, apalagi sama mendiang ayah kamu. Kita akan melakukan pengobatan untuk penyakit kamu bersama sama, mba yakin kamu pasti akan sembuh" mba Nini memeluk Bianca, menenangkan serta memberi semangat untuk Bianca. Mba Nini mengurai pelukannya, dn mengusap perut Bianca "Berapa usianya?" tanya mba Nini
"Dua bulan mba" jawab Bianca
"Kamu hebat, bisa mempertahankan dia seorang diri, mba bangga sama kamu. Bagaimana kalau hari ini kita periksa kandungan kamu untuk mengetahui perkembangannya?"
saran mba Nini yang hanya dijawab anggukan oleh Bianca
Setelah pembicaraan singkat antara Bianca, mba Nini, dan om Iwan, ketiganya akhirnya menuju rumah sakit terdekat untuk berkonsultasi tentang penyakit Bianca, sekaligus check up kandungan Bianca. Setelah sampai di rumah sakit, ketiganya diarahkan menuju ruangan dokter Stephanie yang merupakan dokter obgyn terbaik disana
__ADS_1