
Aww...
Jeritan Bianca membuat fokus Riko teralihkan. Menatap wajah Bianca terlihat meringis menahan sakit membuat Riko mengembalikan bayinya pada mba Nini. Ia segera menggenggam tangan Bianca dengan tataypn penuh tanya. Sedangkan dokter Stephanie yang masih setia di tempatnya dengan segera memeriksa keadaan Bianca
"Suster ambilkan infus, sekarang" pinta dokter Stephanie pada perawat wanita yang menjadi Asistennya
"Baik dok"
Perawat tersebut segera mengambil infus dari dalam tas persediaannya, lalu menyerahkannya dengan segera kepada dokter Stephanie. Dokter Stephanie bergerak cepat menancapkan cairan infus tersebut di tangan Bianca. Setelah selesai ia kembali melihat jalan lahir Bianca, dadanya sedikit berdebar untuk mengatakan apa yang ia lihat pada Riko
"Ada apa dokter? Apa yang terjadi pada istriku?" tanya Riko beruntun
"Nyonya mengalami pendarahan tuan. Kita harus segera membawa nyonya ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan lanjutan" ucap dokter Stephanie
"Apa? Cepat lakukan yang terbaik, kita bawa istriku ke rumah sakit sekarang"
__ADS_1
*
"Sabar sayang, tahan sebentar ya"
Riko menggenggam tangan Bianca yang tampak meringis menahan sakit. Riko terus mengikuti langkah brankar yang di tempati Bianca menuju kamar pasien yang sudah di sediakan. Debaran dadanya begitu terasa nyata seolah akan merombak dadanya saat ini juga. Pikiran pikiran buruk mulai merasuki hatinya saat ini
Riko ikut masuk kedalam ruang perawatan Bianca, terus menerus memberikan semangat dan mengucapkan do'a dalam hati. Setelah Bianca di pindahkan ke ranjang rawat, para perawat mulai sibuk dengan urusan masing masing. Mulai dari mengganti cairan infus dan memasang berbagai macam alat pernafasan di hidung Bianca
Tidak lama setelahnya, dokter Stephanie menyusul masuk kedalam ruangan setelah sebelumnya mengurus sesuatu pada pihak rumah sakit. Dokter Stephanie dengan cekatan membantu memeriksa keadaan Bianca. Ia menggeleng lemah beberapa kali saat melihat kondisi Bianca. Ditambah dengan keadaan Bianca yang saat ini dalam kondisi tak sadarkan diri
"Hubungi Bank darah rumah sakit, pasien butuh golongan darah AB sekarang" perintah dokter Stephanie pada salah satu perawat, perawat tersebut dengan segera melaksanakan perintah dokter Stephanie
"Apa?" Dokter Stephanie memandang wajah Bianca yang tampak memucat
"Ada apa dokter?" tanya Riko
__ADS_1
"Maaf tuan, nyonya membutuhkan tranfusi darah secepatnya, tapi stok darah dengan golongan AB sedang kosong tuan"
"Apa? Bagaimana bisa? Cepat lakukan sesuatu dokter Stephanie" Riko benar benar frustasi, dadanya bahkan berdebar cemas sedari tadi, apalagi jika ia melihat wajah pucat sang istri
"Saya akan usahakan tuan"
Riko keluar dari ruangan, menemui keluarganya yang tengah menunggu di depan ruang perawatan. "Kak..." Riko duduk bersimpuh di kaki kakaknya dengan memeluk kedua kakinya
"Riko..." Kak Chintya menyentuh bahu Riko seolah mempertanyakan tentang ada apa dengannya
"Istriku membutuhkan darah secepatnya, tapi stok golongan darah yang sesuai dengannya sedang kosong"
"Apa?" mami Gisel yang barusaja tiba setelah sebelumnya menitipkan kedua cucunya pada mba Nini di rumah hanya bisa terduduk lemas di kursi tunggu
"Siapa anggota keluarga kita yang mempunyai darah yang sama Mam?" tanya Riko beralih pada Mami Gisel
__ADS_1
Mami Gisel menggeleng lemah "Anggota keluarga yang memiliki golongan darah yang sama hanya mertuamu, Andre. Golongan darah mereka tergolong langka Riko"
Dokter Stephanie nampak keluar dari ruangan Bianca "Tuan, stok darah untuk nyonya Bianca sudah tersedia. Kita akan segera melakukan tranfusi darah sekarang "