Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 23


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi pertama yang dilewati Bianca di kediaman Dirgantara. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju dapur, karena mendengar kebisingan yang terdengar dari arah dapur. Saat tiba di dapur, ia melihat kakak iparnya yang kini tengah membantu bik Nani mempersiapkan makanan untuk sarapan. Ia berjalan mendekat dan menghampiri kakak iparnya yang kini tengah membelakangi dirinya


"Maaf kak, aku telat bangun" ucap Bianca sungkan


"Selamat pagi, tidak apa apa, kakak maklum. Iya kan bik?" kak Chintya menunjukkan senyum menggodanya kearah bik Nani


"Iya non" bik Nani yang masih asik mengoseng makanan di wajanpun ikut menoleh dan tersenyum menggoda kearah Bianca.


Bianca hanya tersenyum kikuk, ia tahu apa maksud dari senyum yang di tunjukkan kak Chintya dan bik Nani. Mereka pasti mengira bahwa Bianca telah menghabiskan malam pertama bersama suaminya. Andai saja mereka tahu apa yang terjadi semalam tidak seperti apa yang mereka fikirkan

__ADS_1


"Mmm bibi masak apa? Mau Bia bantu?" tanya Bianca sembari mendekati bik Nani yang masih asik mengaduk osengan di depannya. Lebih baik mengalihkan pembicaraan daripada meneruskan pembicaraan yang akan membuatnya mati kutu


"Tidak perlu nona, masakannya hampir selesai. Nona silahkan duduk saja bersama nona Chintya" saran bik Nani


Bianca membalik badannya dan melihat kearah kakak iparnya yang tampak melamun. Bianca tidak tahu apa yang saat ini menjadi beban fikiran kakak iparnya ini, tapi yang pasti Bianca bisa melihat kesedihan dari sorot mata itu. Ia berjalan mendekati kakak iparnya, dan duduk di hadapannya


"Kakak kenapa?" tanya Bianca "Kak... " Bianca melambaikan tangannya di depan wajah kak Chintya, karena sejak tadi kakak iparnya itu melamun, bahkan mungkin kakak iparnya ini juga tidak menyadari kehadirannya yang kini telah duduk di hadapannya


"Kakak ada masalah?"

__ADS_1


Kak Chintya menatap Bianca sejenak, lalu menunjukkan senyum tulusnya "Tidak, hanya masalah kecil"


Bianca menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun ia tidak bisa bertanya banyak tentang masalah pribadi orang lain bukan?. Walaupun orang itu adalah kakak iparnya sendiri. Ia harus bisa menghargai privasi orang lain


"Mmm... Sepertinya masakan bibi sudah selesai, kamu panggil Riko ya, kita sarapan bersama" ujar kak Chintya


"Sarapan bersama?"


"Ya, kita makan bersama. Panggil suami kamu ya"

__ADS_1


Mau tidak mau Bianca pun mengangguk mengiyakan. Bianca berjalan dengan malas menuju kamarnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat bertemu suaminya nanti, apa yang harus ia katakan. Apakah ia harus berkata dengn lemah lembut meski tanpa tanggapan, atau ia harus berbicara ketus tapi berdosa atau... Ahh sepertinya Bianca melupakan sesuatu, tadi malam suaminya entah tidur dimana, lalu pagi tadi, saat ia bangun ia masih belum menemukan keberadaan suminya itu di kamar. Lalu jika sekarang ia ke kamar dan tidak menemukan suaminya disana, apa yang harus ia lakukan? menunggu suaminya di kamar sampai ia datang, dan membuat kak Chintya menunggu? Semua ini membingungkan


Bianca terus berjalan kearah kamar dengan fikiran yang melayang entah kemana, hingga kini dirinya tiba di depan kamar. Di bukanya pintu kamar itu. Kosong, hening, dan senyap. Suaminya benar benar belum kembali ke kamar setelah tadi malam pergi tidur entah dimana. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Kak Chintya pasti sudah menunggu. Apakah ia harus mengarang cerita lagi, mengatakan suaminya masih terlelap karena kelelahan? Tidak Tidak, jika ia mengatakan itu, maka kak Chintya akan berfikiran macam macam. Apa mungkin ia harus berbohong dengan mengatakan suaminya tidak enak badan? Tapi jika dirinya sampai mengatakan itu kepada kak Chintya, maka akan di pastikan kak Chintya akan sangat khawatir, mengingat bahwa suaminya hanyalah satu satunya keluarga yang ia miliki


__ADS_2