Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 44


__ADS_3

Riko memasuki kamarnya yang nampak gelap. Bukankah seharusnya kamar ini terang? Mengingat jika wanita yang berstatus istrinya itu kini tengah berada dikamarnya, ia mengetahuinya dari kak Chintya tadi. Tapi mengapa suasana kamar ini begitu gelap? Riko menutup pintu lalu menghidupkan lampu kamarnya, dan kini ia bisa melihat wanita yang sejak tadi ia cari tengah duduk termenung dikursi kerjanya


"Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Riko sembari berjalan mendekat, melihat Bianca yang bahkan masih belum menyadari kehadirannya, Riko mencoba lebih dekat


"Bia... Hey... "


Bianca tersadar dari lamunannya saat melihat wajah Riko berada tepat dihadapannya. Bahkan ia juga baru menyadari jika kamar yang tadi gelap kini telah berubah menjadi terang. Bianca segera bangkit dari kursi kerja Riko lalu berjalan meninggalkan laki laki itu begitu saja.

__ADS_1


"Apa seperti ini caramu menyambut kepulangan suamimu?"


Bianca menghentikan langkahnya sembari berbalik melihat Riko yang tampak berdiri tegak dengan kedua tangan berada disaku celana. "Apakah tangan kotorku boleh menyalami tangan tuan yang suci?"


"Apa maksud kamu?"


"Bukankah tuan jijik dengan saya? Saya hanya menjalankan apa yang pernah tuan perintahkan untuk berlagak sebagai dua orang asing yang tidak saling mengenal. Lalu apakah saya salah tuan?"

__ADS_1


Riko berjalan menuju kamar mandi, yang akan ia lakukan sekarang adalah membersihkan diri, lalu menyelesaikan sedikit pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan di kantor. Namun baru akan membuka pintu kamar mandi, ia dikejutkan oleh Bianca yang lebih dulu masuk kedalam kamar mandi. Tidak lama setelah itu terdengar suara Bianca yang tampaknya tengah muntah didalam sana


Bianca keluar dengan wajah pucat, bahkan untuk berjalan saja rasanya sudah tidak mampu. Tapi Bianca mencoba untuk tetap kuat. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan laki laki yang berstatus suaminya ini


"Are you ok?" tanya Riko saat melihat wajah Bianca yang begitu pucat. Namun Bianca tidak menghiraukan sama sekali, ia terus berjalan menuju sofa yang merupakan tempat tidurnya.


Bianca terus membolak balik tubuhnya, dibawah selimut. Ia masih merasa mual sekarang, ia ingin memuntahkan semua isi perutnya, tapi tenaganya sudah terlalu terkuras setelah mual yang pertama tadi. Bianca mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, menandakan Riko telah keluar dari dalam sana. Bianca diam dibawah selimut seakan sudah tertidur.

__ADS_1


Suara pintu lemari yang terbuka tidak Bianca hiraukan. Bahkan suara langkah kaki suaminya yang berjalan melewatinya terdengar begitu jelas diteling Bianca, tapi ia tetap acuh. Hingga akhirnya yang kini terdengar hanya suara keyboard komputer yang bersahutan, menandakan sang pemilik yang pasti tengah menggunakannya. Bianca menyingkap sedikit selimutnya, dan memperhatikan Riko diam diam.


Entah sejak kapan hobi baru ini berada pada diri Bianca. Tapi ia tahu, saat ini ia sudah memiliki satu hobi baru, yaitu memandang wajah tampan suaminya sendiri. Terdengar aneh memang, hatinya sangat membenci laki laki itu, tapi matanya selalu ingin terus memandang wajah tampan itu. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?


__ADS_2