Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 87


__ADS_3

Pagi ini, Bianca berjalan sekitar kompleks perumahan mba Nini, ia sedikit meregangkan ototnya, sembari menghirup udara pagi yang sangat sejuk. Bianca meresapi setiap udara yang masuk kedalam rongga hidungnya. Ia berjalan sembari sesekali memegangi perutnya yang mulai buncit, saat dirasa sudah cukup untuk berjalan pagi, ia kembali memasuki halaman rumah mba Nini. Bianca duduk di kursi taman kecil yang berada tepat didepan rumah mba Nini sembari terus mengelus perutnya


"Hai anak ibu, kalian sehat sehat ya didalam sana. Maafkan ibu jika tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. tapi ibu janji, kalian akan jadi prioritas utama dalam hidup ibu" ucap Bianca


Bianca melihat mentari yang mulai meninggi diatas langit sana. Mengingatkan ia pada satu sosok yang selama dua bulan yang lalu terus menemaninya, Neneng. Sudah tiga hari sejak ia tinggal bersama mba Nini, ia tidak pernah lagi bertegur sapa dengan gadis itu, walau hanya lewat panggilan telepon. Biasanya, saat matahari mulai naik ke permukaan, ia dan Neneng pasti sedang berada di kebun teh, dan memetik pucuk teh, itulah pekerjaan yang selama dua bulan ini terus ia jalani.

__ADS_1


Bianca merogoh kantongnya, mengeluarkan handphone yang sejak tadi ia simpan disana. Ia segera mencari nomor telepon Neneng, dan setelahnya ia menghubungi nomor tersebut. Namun sayangnya, hingga panggilan ketiga, Neneng tidak juga menjawab teleponnya.


"Kemana dia?" tanya Bianca, ia kembali menyimpan handphone-nya, dan berjalan masuk kedalam rumah. Mungkin Neneng sedang memetik teh seperti biasanya, dan handphone gadis itu tertinggal di gubuk, bukankah biasanya juga begitu? "Hai mba" Bianca menyapa mba Nini yang masih duduk di ruang tamu, sedangkan om Iwan, Bianca tidak tahu kemana laki laki itu pergi, karena yang ia tahu, om Iwan pergi setelah sarapan pagi tadi. Bianca berjalan menuju sofa, dan duduk berhadapan dengan mba Nini


"Hai" Mba Nini menurunkan majalah yang sejak tadi ia baca. "Gimana kehamilan kamu, ada masalah? Mungkin kamu mual atau pusing, atau apa yang kamu rasakan?" tanya mba Nini beruntun

__ADS_1


"Syukurlah"


"Mmm... Mobil mas Riko, maksud Bia, apakah mobil mas Riko sudah pergi sejak semalam? Soalnya, pagi ini Bia tidak melihat mobil itu lagi di halaman depan"


Mba Nini tersenyum sekilas, ia memaklumi kecanggungan Bianca "Riko baru pulang tadi pagi. Bahkan saat hujan deras semalam, dia masih ada disini. Sepertinya dia benar benar menyesali perbuatannya"

__ADS_1


"Bia... pamit ke kamar mba, capek"


Setelah mengatakan itu, Bianca segera berjalan menuju kamarnya, ia tidak mau membahas tentang Riko terlalu dalam. Apalagi jika mendengar mba Nini yang selalu mengatakan bahwa Riko sudah menyesali perbuatannya, membuat Bianca ragu untuk melanjutkan gugatan cerai yang sudah ia rencanakan. Bahkan entah mengapa, semalam ia merasa nyaman mengarungi mimpinya, hanya karena dirinya bermimpi bahwa Riko tidur bersama dengannya. Rasa hangat yang semalam ia rasakan atas pelukan Riko, seakan nyata adanya. Bianca sempat berpikir apa mungkin, semalam Riko benar benar ada disampingnya? Tapi saat bangun pagi dan tidak mendapati mobil Riko di halaman rumah mba Nini, Bianca menepis semua pemikirannya itu.


__ADS_2