
Bianca duduk di atas Birthing ball sembari terus menghela nafas demi mengurai rasa sakit yang saat ini terasa di perutnya. Riko dengan penuh perhatian secara terus menerus menyeka keringat yang bercucuran dari dahi sang istri. Bianca mengukir senyumnya mendapati perlakuan hangat sang suami, tidak bisa ia pungkiri bahwa di balik rasa sakit yang ia rasakan, ia merasakan bahagia yang tiada terkira karena perlakuan suaminya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan akhirnya setelah penantian panjang selama lima jam, pembukaan Bianca sudah benar benar sempurna. Riko segera memapah Bianca menuju ranjang, atas permintaan dokter Stephanie. Setelah Bianca di baringkan di ranjang, seluruh keluarga besar yang tadi sempat mengisi ruang kamar Riko dan Bianca kini berangsur keluar, membiarkan Bianca berjuang dengan di damping oleh Riko
"Dengarkan intruksi saya ya nyonya, sekarang tarik nafas yang dalam, hembuskan..." pinta dokter Stephanie, tanpa tanya, Bianca segera melakukan intruksi dari dokter Stephanie tersebut
"Mas... Sakit..." rintih Bianca saat sesuatu di bawah sana tampak memaksa untuk keluar, ia menggenggam erat tangan sang suami, seolah menyalurkan rasa sakit yang kini menghampiri sekujur tubuhnya
"Sabar sayang, kamu pasti kuat" Riko terus memberikan semangat, tidak lupa kecupan kecupan kecil ia layangkan di dahi sang istri
"Nyonya, dengarkan aba aba saya, nyonya tolong mengejan sekarang" perintah dokter Stephanie
__ADS_1
Aghhhh....
Bianca kembali menarik nafasnya dan membuangnya secara kasar. Setelah beberapa saat dirasa cukup, ia kembali mengejan. Namun sang bayi tampak masih enggan untuk keluar
"Sekali lagi nyonya"
Aghhh...
Berkali kali helaan nafas terdengar dari Bianca dan Riko, tak terkecuali dokter Stephanie sendiri. Riko terus terusan meyakinkan sang istri, memberi kekuatan lewat sentuhan sentuhan sayang nya. Sedangkan dokter Stephanie tampak sesekali melihat jalan lahir Bianca
"Kepalanya sudah terlihat nyonya, ayo mengejan sekali lagi..."
__ADS_1
"Ayo sayang, aku ada untukmu disini, kita berjuang bersama sama ya"
Bianca mengangguk dengan senyum yang ia paksakan. Ia kembali mengejan mengikuti intruksi dokter Stephanie, dan akhirnya suara tangis bayi menggema memenuhi seisi kamar. Namun baru saja anak pertamanya lahir, Bianca kembali merasakan sakit yang sangat luar biasa. Membuat dokter Stephanie dengan segera menyerahkan bayi tersebut pada Mami Gisel yang tampak sudah memasuki kamar. Dokter Stephanie kembali mengintruksi Bianca untuk mengikuti arahannya, dan akhirnya bayi mungil kembali berhasil Bianca lahirkan
"Terimakasih sayang..."
Riko meneteskan air matanya. Menunggu selama lima jam masa kontraksi, lalu kurang lebih dua jam untuk proses melahirkan, Riko benar benar dilanda cemas yang luar biasa. Ia bahkan merasakan dadanya sangat sesak saat melihat istrinya mati matian memperjuangakan buah hatinya untuk lahir ke dunia. Rasanya, ungkapan terimakasih yang ia utarakan sangat tidak sebanding dengan sakit yang istrinya rasakan
Mami Gisel mendekat, menyerahkan Bayi yang ada di gendongannya kepada Riko. Dengan telaten Mami Gisel membantu Riko untuk bisa menimang bayi kecil yang barusaja melihat dunia itu. Riko menimang anaknya dengan perasaan haru yang menyeruak, ia mengumandangkan azan tepat di telinga sanga anak pertama dengan tangis deras yang menyelimuti
"Anak pertama kalian adalah jagoan, dia laki laki" ucap Mami Gisel
__ADS_1
Sepasang suami istri yang baru menjadi orang tua itu melebarkan senyumnya mendengar ucapan Mami Gisel. Selesai mengazani sang putra, Riko memberikan bayi tersebut pada Mami Gisel kembali. Sedangkan dirinya beralih mengambil bayi perempuannya yang saat ini berada di tangan Mba Nini. Riko melakukan hal yang sama, mengumandangkan azan serta sesekali menciumi wajah cantik sang putri. Tidak lupa disertai tangis haru yang sangat terasa