
"Bianca Andini Prabaswara, nama itu tidak lagi asing ditelinga masyarakat. Karena wanita ini merupakan salah satu artis dangdut tanah air yang namanya dikenal oleh banyak orang. Namun kali ini skandal muncul dari artis satu ini, diduga sebagai selingkuhan dari Gabriel yang merupakan rekannya, Bianca tampak menolak untuk diwawancarai ole tim kami"
Bianca melihat satu video saat dirinya menolak ajakan wartawan untuk mewawancarainya terkait dugaan skandal yang menimpa nama baiknya saat itu. Namun dirinya yang merasa tidak ada yang perlu diklarifikasi, mencoba untuk menghindari para wartawan. Setelah itu ia tidak pernah mencari tahu perkembangan dari kasus tersebut.
Huh
Bianca menghela nafasnya berat. Ia tidak menyangka jika masalah yang beberapa tahun lalu ia abaikan, ternyata berdampak buruk untuk hidupnya hari ini. Jika dirinya meng-klarifikasi, dan mengatakan yang sebenarnya kepada media tentang hubungannya dengan Gabriel yang tidak lebih dari sekedar teman, maka masalah yang saat ini ia hadapi tidak mungkin ada. Ia tidak akan terjerat dalam pernikahan yang sejak awal didasari dendam tak bertuan ini. Namun kini nasi telah menjadi bubur, bagaimanapun Bianca menyangkal berita itu dan mengatakan kepada Riko bahwa dirinya tidak bersalah, suaminya itu pasti tidak akan percaya.
Bianca menutup laptopnya sembari terus menghembuskan nafas kasar. Setelah melihat isi flashdisk tersebut, sedikit banyaknya Bianca jadi tahu tentang isi hati suaminya. Tentang perjuangan seorang adik yang ingin menuntut keadilan untuk kakaknya.
__ADS_1
*
Huek... Huek...
Riko terduduk lemas dilantai kamar mandi, ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berjalan menuju kasur dan mengistirahatkan diri. Tenaganya sudah terkuras habis karena sejak pagi ia sudah memuntahkan isi perutnya. Riko memejamkan kedua matanya, setelah itu dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, ia mencoba untuk bangkit. Riko berjalan dengan susah payah, bahkan ia harus berjalan dengan bertumpu pada tembok agar dirinya tidak jatuh. Srtelah perjuangan panjang, Riko akhirnya bisa keluar dari kamar mandi dan mengistirahatkan dirinya dikasur
"Bik, bawa kak Chintya ke kamar" pinta Riko kepada bik Wati melalui sambungan teleponnya
Tidak lama setelah panggilan telepon terputus, terdengar ketukan dipintu kamar Riko. Setelahnya bik Wati masuk kedalam kamar Riko dengan mendorong kursi roda kak Chintya. Kak Chintya menatap Riko dengan cemas, saat melihat wajah Riko yang tampak begitu pucat
__ADS_1
"Kamu kenapa Riko?" tanya kak Chintya. Kak Chintya meraba dahi Riko untuk memastikan suhu tubuhnya, dan ternyata suhu tubuh Riko baik baik saja. Hanya saja keringat dingin terus menerus keluar dari dahi Riko
"Bik, hubungi dokter Dio sekarang" ucap kak Chintya kepada bik Wati. Bik Wati yang mendengar perintah majikannya, segera mengeluarkan handphone-nya dan segera mencari nomor telepon dokter Dio
"Bik, jangan dokter Dio. Lebih baik telepon dokter lain saja" ucap Riko dengan suara lemasnya, dan ucapannya itu berhasil menghentikan pergerakan bik Wati untuk menelepon dokter Dio
"Dokter siapa Riko? Cuma dokter Dio yang kakak percaya. Lagipula kenapa tidak boleh dokter Dio?" tanya kak Chintya heran.
"Tidak apa apa, hanya saja aku rasa cara kerja dokter Dio tidak begitu baik kak"
__ADS_1
"Menurut kakak cara kerja dokter Dio cukup baik" ucap kak Chintya. "Tapi kalau kamu tidak nyaman, kakak akan menghubungi Sonia untuk membawakan dokter kemari" putus kak Chintya.