
"Dimana wanita itu?" tanya Riko
"Dia ada didalam tuan, mari saya antar" laki laki yang menyambut Riko segera membawa Riko berjalan menuju ruangan penyekapan. Setelah sampai didepan pintu, laki laki itu memberikan sebuah kunci "Ini kunci ruangannya tuan, wanita itu ada didalam"
"Terima kasih"
Setelah laki laki itu pergi, Riko membuka pintu ruangan. Hingga terlihatlah wanita yang selama ini ia cari. Riko menyunggingkan senyumnya melihat wanita itu, yang tampak terduduk lemah disebuah kursi disudut ruangan
"Selamat pagi nona Carissa" sapanya dingin
"Siapa kamu?" wanita yang dipanggil Carissa itu memberontak, hingga setelah itu ia tidak mampu untuk berkata lagi setelah lampu ruangan dihidupkan. Ia hanya bisa menahan ketakutan dalam hatinya, ia tidak menyangka setelah pelariannya beberapa tahun yang lalu, ia berhasil ditangkap oleh Riko
"Apa sekarang kau sudah mengenal aku?"
"Tu-Tuan... "
"Tidak perlu takut" Riko melepas tali yang menjerat wanita itu, menarik tangannya untuk berdiri "Sekarang, lakukan cara yang sama, saat kau menggoda laki laki brengsek itu" ucap Riko masih dengan nada dingin
Carissa tidak mampu berbuat banyak. Ia hanya mampu mengatakan kata ampunan saat Riko terus terusan menarik tangannya. Jujur, itu sangat menyakitinya.
"Ayo lakukan, praktikan padaku" seru Riko "Apa seperti ini?" Riko menarik rambut Carissa ke belakang
__ADS_1
"Ampun tuan..."
"Kau masih bisa bicara ampun setelah kau membuat kakakku hampir mati dua kali. Kau adalah wanita yang tidak punya hati, lalu bagaimana aku bisa mengampunimu?" Riko menghempas wanita itu keujung ruangan. Setelah itu, ia kembali keluar dan mengunci kembali pintu tersebut.
"Jaga wanita itu, jangan sampai dia kabur" perintah Riko sembari menyerahkan kembali kunci yang ada ditangannya. Setelah itu ia keluar dari gedung tersebut
*
"Kamu darimana saja Riko? Kenapa semalaman tidak pulang?" tanya kak Chintya khawatir
"Aku baik baik saja kak, aku ke kamar dulu" Riko berlalu dari ruang keluarga setelah sebelumnya mengecup punggung tangan kak Chintya
Kak Chintya hanya memandang Riko yang berlalu menuju kamarnya, tanpa ada niat untuk bertanya lebih dalam. Kak Chintya menjalankan kursi rodanya menuju ruang makan, membantu bik Wati menyiapkan makanan. Tidak lama setelah itu, Riko terlihat kembali keluar dengan tampilan yang lebih fresh
Riko membalik tubuhnya, dan kembali berjalan menuju meja makan "Aku makan sandwich saja kak" ucap Riko, sembari tangannya bergerak mengambil sandwich diatas meja makan
"Kamu kurangi sedikit pekerjaan kamu, jangan terlalu di forsir tenaganya" nasehat kak Chintya
"Iya kak"
"Bagaimana dengan Bianca, kamu sudah bisa menemukannya?" tanya kak Chintya lagi
__ADS_1
Riko menghentikan kunyahannya. Terlalu senang karena bisa kembali bertemu dengan istrinya, membuatnya lupa untuk mengabari sang kakak "Maaf kak, sebenarnya, aku sudah bertemu istriku sejak satu minggu yang lalu"
"Apa? Dan kamu tidak memberitahu kakak, lalu dimana Bianca sekarang, kenapa kamu tidak mengajak dia pulang ke rumah kita?" tanya kak Chintya beruntun
"Kak... Kakak sabar, saat ini Bianca masih belum bisa memaafkan aku kak. Nanti setelah dia bisa memaafkan aku, aku pasti akan mempertemukan dia dengan kakak"
"Kamu janji?"
"Iya"
"Baiklah, habiskan makanmu kalau begitu"
"Mmm, kak aku langsung berangkat saja. Beberapa hari ini Sonia tidak di kantor, jadi aku sedikit sibuk, dan maaf kalau aku akan jarang pulang kerumah"
"Yasudah, maafkan kakak tidak bisa membantu lebih, kakak do'a kan, semua urusan kamu dipermudah"
"Aamiin, kalau begitu aku berangkat kak. Bik, tolong jaga kak Chintya, aku akan berjuang untuk mendapatkan hati nona Bianca kembali, do'a kan aku" ucap Riko pada bik Wati
"Pasti den, bibik pasti jagain non Chintya, aden hati hati, jangan terlalu capek"
"Iya bik, kalau begitu aku berangkat. Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam"