Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 70


__ADS_3

"Sekali lagi terima kasih karena bapak Riko bisa menyempatkan diri untuk hadir di pertemuan kita kali ini, ini suatu kehormatan juga untuk kami karena bisa bekerja sama dengan perusahaan bapak" ucap pak Supardi


"Sama sama pak, kami juga senang bisa bekerja sama dengan bapak. Sampai jumpa lagi di pertemuan berikutnya" ucap Sonia mewakili


Setelah berpamitan dan sedikit berbasa basi, Riko dan Sonia akhirnya memutuskan untuk pulang ke jakarta siang itu juga. Sebenarnya Riko ingin tinggal sedikit lebih lama disini, karena ia ingin menghirup udara segar di pagi hari yang pasti akan sangat mengesankan. Tapi mengingat kak Chintya dan juga pekerjaannya yang sudah lama terbengkalai di kantor, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke jakarta secepatnya.


"Apa sudah ada kabar tentang Bianca?" tanya Sonia kepada Riko yang sejak tadi diam dan fokus pada kemudinya


"Belum"


"Belum ada tanda tanda yang bisa kita pakai untuk engetahui keberadaan Bianca sampai detik ini?" tanya Sonia lagi


Hufff


Helaan nafas terdengar dari Riko. Riko menegakkan tubuhnya dan sedikit membenarkan letak kacamata hitamnya. Menatap lemah kedepan dengan hati kacau yang selalu memikirkan Bianca dan calon buah hatinya yang pasti sangat membutuhkan dirinya diluar sana.

__ADS_1


"Semua upaya sudah dilakukan, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar. Aku rasa waktu dua bulan sudah cukup untuk Bianca menenangkan diri, dan sebelum semuanya terlambat, aku akan berusaha lebih maksimal untuk menemukan Bianca dan calon anakku"


"Aku tahu kamu kuat. Calon ayah yang perkasa tentunya" ucap Sonia menyemangati


Jujur Sonia tidak tega melihat Riko se-menderita ini. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak, yang bisa Sonia lakukan adalah meng-handle segala pekerjaan Riko jika sewaktu waktu Riko memutuskan untuk meninggalkan kantor. Bahkan untuk hubungannya dengan Dio sendiri, ia tidak mau terlalu ambil pusing, mengingat jika Dio saat ini sudah salah faham padanya, jadi mungkin membutuhkan waktu lama untuk meredam emosi dari laki laki itu, dan menjelaskan semua duduk permasalahannya.


"Bagaimana hubunganmu dengan dokter Dio sekarang?"


"Aku tidak ada hubungan lagi dengan Dio" jawab Sonia enteng


"Ada hal yang tidak harus kamu tahu tentang hubunganku dengan kekasihku"


"Bahkan sebagai seorang sahabat?" tanya Riko lebih dalam


"Aku bisa menyelesaikannya sendiri, kamu tenang saja, aku ini wanita cantik dan pekerja keras. Aku pasti bisa meluluhkan hati dokter tampan itu untuk kedua kalinya" jawab Sonia bangga

__ADS_1


"Of course"


...****************...


Bianca berjalan kecil di kamarnya. Rasa nyeri di perutnya semakin membuatnya tidak nyaman. Neneng yang sedari tadi duduk, dan memperhatikan tingkah Bianca menjadi bingung sendiri.


"Lebih baik kita ke mbok Iyem saja teh, takut ada apa apa" saran Neneng entah untuk keberapa kalinya


"Nanti saja Neng, sebentar lagi pasti sembuh"


"Tapi teh, takutnya bayi teteh kenapa napa. Neneng khawatir"


"Kita tunggu sebentar ya, kalau tiga puluh menit kedepan masih sakit, kita ke mbok Iyem" pinta Bianca


"Andai kamu tahu Neng, aku bukan tidak ingin memeriksa keadaan calon bayiku, aku juga sama khawatirnya, tapi apa mungkin aku membalas jasa mbok Iyem hanya dengan ucapan terima kasih?"

__ADS_1


Bianca sedikit memalingkan wajahnya dari Neneng, ia tidak ingin Neneng tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tinggal sendiri, tanpa uang dan persediaan makanan. Biabca mengasihani dirinya sendiri, bagaimana bisa dirinya se-menderita ini, mengapa ia tidak bisa memberikan nutrisi untuk bayi yang di kandungnya. Apakah takdir yang harus ia jalani memang sekejam ini


__ADS_2