
"Jadi apa yang ingin kamu jelaskan?" ucap kak Chintya. Saat ini hanya ada dirinya dan juga Riko didalam kamar Riko, karena dokter Ruli sudah pulang sesaat setelah mengatakan keadaan Riko yang baik baik saja
"Kak aku... Tadinya aku masih belum tahu pasti tentang semua ini. Aku takut kalau memberitahu kakak tentang semua dugaan ini, kakak akan stress. Aku tidak mau itu terjadi, aku ingin mencoba menyelesaikan masalah pernikahanku sendiri kak, tanpa campur tangan orang lain"
"Aku kakakmu Riko, kakak berhak tahu apa yang terjadi dengan kamu. Ini adalah tentang kamu, sakit yang beberapa bulan ini membuat aku merasa gagal menjadi seorang kakak hanya karena aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu. Ini bukan tentang ikut campur masalah keluarga kamu atau apapun itu, tapi ini tentang kamu" ucap kak Chintya tegas
"I'm sorry" ucap Riko penuh sesal
Kak Chintya menatap Riko dengan perasaan kesal, kesal karena adik kesayangannya itu selalu bisa membuatnya luluh hanya dengan kata maaf. Tapi jauh didalam hatinya, ia juga merasa kasihan karena adik laki lakinya yang tangguh kini kehilangan semangat hidupnya. Wajah yang biasanya menampilkan aura dingin itu hilang, berganti dengan wajah sayu dan badan kurus karena berhari hari hari bahkan berminggu minggu tidak bisa memakan apapun dengan tenang.
"Lalu sekarang, apa kamu sudah mendapat kabar tentang Bianca?" tanya kak Chintya yang dijawab Riko dengan gelengan kepala
"Satu satunya benda yang bisa dijadikan umpan untuk melacak keberadaan Bianca adalah handphone-nya. Tapi orang suruhanku malah menemukan handphone Bianca ditempat penggadaian, dan sekarang masih belum ada kabar lagi tentang Bianca"
__ADS_1
Dring... Dring...
Riko melirik handphone-nya yang berdering sedari tadi. Nama Sonia kini tampak dilayar handphone-nya. Riko meraih handphone itu dan menjawab panggilannya
"Halo Son"
"Maaf pak, kontrak kerja sama kita dengan perusahaan S-Tea untuk pembuatan produk baru sudah disetujui, dan dari pihak S-Tea meminta kita untuk bersama sama meninjau perkebunan teh yang mereka miliki untuk bisa memilih daun teh terbaik untuk produk kita" ucap Sonia sopan
"Kamu urus semuanya, saya percaya dengan kemampuan kamu"
Huh
"Kapan peninjauannya dilakukan?" tanya Riko akhirnya
__ADS_1
"Besok pak"
Tut
Sonia yang mendengar suara telepon yang dimatikan secara sepihak rasanya ingin sekali mendatangi boss-nya langsung, dan memaki laki laki itu. Tapi mengingat jika saat ini ada klien dari perusahaan S-Tea dihadapannya, ia mengurungkan niat tersebut. Sonia tersenyum dengan anggun dihadapan klien-nya
"Pak Riko siap untuk peninjauan perkebunan besok" ucap Sonia sopan
"Baik, kami tunggu kehadirannya besok, dan sampai jumpa"
Sonia menjabat tangan dua orang dihadapannya secara bergantian. Ia juga mengantarkan keduanya menuju lift sebagai bentuk rasa hormat, dan setelah keduanya masuk kefalam lift, barulah Sonia mulai meluapkan emosinya. Ia menghentakkan kedua kakinya untuk menunjukkan betapa hatinya sedang kesal saat ini
"Dasar bos tidak ada akhlak" raung Sonia "Seenaknya saja dia meminta aku mengurus semuanya, lalu mematikan telepon secara sepihak, dan apalagi sekarang? Hubungan percintaanku kandas, ia tidak tahu apa apa. Padahalkan aku ingin punya waktu untuk membenahi hubunganku dengan kekasihku. Upps mantan kekasihku" racau Sonia
__ADS_1
"Awas kau Riko Refaldo Dirgantara, kalau sampai morning sickness-mu selesai. aku akan membuat kelimpungan mengerjakan tugasmu sendiri, agar kamu tahu bahwa semua ini tidak mudah" ucap Sonia sembari berjalan kembali menuju ruangannya. Beruntung ruangan dilantai ini hanya ada dua, yaitu ruangannya sendiri dan ruangan Riko, jadi tidak ada satu orangpun yang mendengar sumpah serapah yang ia ucapkan