
Disebuah ruangan temaram, tampak seorang laki laki yang menyunggingkan senyum sinisnya. Ia cukup puas dengan berita hari ini, berita tentang kehancuran karier seorang Bianca yang selama ini selalu di elu-elukan. Sekarang, perlahan tapi pasti karier yang bersinar bagaikan bintang, kini redup tak bersisa, dan itu sangat membuatnya puas
"Bayar mahal anak buahmu, aku puas dengan kerja mereka" ia segera mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia hubungi
Laki laki itu menatap sebuah figura besar yang terpajang di dinding ruangan itu. Foto seorang wanita cantik dengan rambut bergelombangnya, dan jangan lupakan senyum indah yang menghiasi wajah ayu itu. Laki laki itu menunjukkan senyum teduhnya saat melihat foto besar itu, berbanding terbalik dengan senyum yang tadi ia tunjukkan atas kehancuran karier Bianca
"Sebentar lagi kesakitan yang kamu alami juga akan di rasakan oleh perempuan itu, aku berjanji untuk itu"
*
__ADS_1
Pagi ini Bianca bangun dengan sangat malas, matanya seolah enggan untuk terbuka, dan badannya terasa sangat letih. Untuk sesaat ia cukup menikmati posisi ini, berbaring diatas ranjang dengan pandangan mengarah ke langit langit kamar. Hingga suara dentingan pesan masuk ke hpnya membuyarkan lamunan yang sempat tercipta dalam benaknya
Bianca membuka ponselnya, dan terlihat pesan masuk dari mba Nini. Bianca segera membuka pesan itu yang ternyata berisi video tentang dirinya yang sudah masuk trending satu di sosial media karena kasus besar yang saat ini merusak namanya
Hufff
"ayah... "
Bianca mencari keberadaan sang ayah kesana kemari, tapi ternyata tuan Andre tidak ia temukan dimanapun. Bianca berjalan menuju ruang kerja sang ayah yang masih berada di lantai satu rumah mewah itu, dari jarak jauh Bianca bisa melihat lampu ruang kerja tuan Andre yang masih menyala. Bianca menempelkan telinganya pada daun pintu, tetapi tidak ada sedikitpun suara yang menandakan keberadaan sang ayah di dalam sana. Dengan memberanikan diri Bianca membuka pintu ruang kerja sang ayah
__ADS_1
Hal pertama yang hadir dalam pandangannya setelah memasuki ruang kerja sang ayah adalah keberadaan sang ayah yang terlihat tidur di meja kerjanya. Di dekatinya meja kerja sang ayah hingga kini ia bisa melihat dengan jelas wajah tua yang tampak lelah itu. Bianca beralih menatap pada meja kerja sang ayah, dimana terdapat foto bundanya yang tengah tersenyum kearahnya tergeletak tidak pada tempatnya, Bianca mengambil bingkai foto itu dan kembali meletakkan pada tempatnya, hingga kini fokusnya kembali beralih kepada sang ayah
"ayah.. yah.. "
setelah beberapa kali berusaha membangunkan, tuan Andre masih tetap hanyut kealam mimpinya. setelah cukup lama barulah tuan Andre membuka kedua matanya. Hal pertama yang hadir dalam pandangan nya setelah membuka mata adalah wajah cantik putrinya, ia tersenyum menatap wajah ayu itu, wajah yang 100% mirip dengan mendiang istrinya
"Ayah jangan tidur disini, badan ayah bisa pegal jika tidur di kursi, sekarang ke kamar ya" pinta Bianca
Tuan Andre menyunggingkan senyumnya mendengar nada perhatian dari kalimat sang putri, tidak bisa ia pungkiri bahwa hal yang cukup berat untuknya adalah jika harus berpisah dari sang putri, tetapi ini untuk kebaikan semuanya. Jika bisa memilih, maka tuan Andre ingin menjadi sosok egois untuk kali ini, ia ingin putrinya tetap bersamanya hingga nanti tiba waktunya untuk ia menutup mata. Namun hal yang menjadi pertimbangannya adalah, jika suatu saat ia dipanggil sang kuasa, maka ia tidak akan pernah tenang karena belum menitipkan sang putri kepada seseorang yang bisa melanjutkan bimbingannya terhadap sang putri
__ADS_1