Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 16


__ADS_3

"Lalu jika anda berada pada posisi putri saya, andaikan diri anda adalah seorang kakak laki laki dari adik perempuan, dan adik perempuanmu di paksa keadaan untuk menikah hanya untuk menyelamatkan nama besar keluarganya, apa yang akan kau lakukan?" Mami Gisel benar benar menempatkan dirinya sebagai ibu untuk anak perempuannya


"Saya seorang wanita nyonya, tanpa harus memposisikan diri sebagai laki laki yang memiliki adik perempuan sekalipun, saya tahu rasanya sesakit itu. Pernikahan terpaksa, baik atas dasar perjodohan paksa karena tuntutan keluarga, atau mungkin seperti halnya yang di alami nona Bianca, saya tahu rasa sakitnya benar benar begitu dalam" Chintya menjeda kalimatnya, lalu menatap semua orang yang memenuhi ruang keluarga kediaman prabaswara itu satu persatu "Saya juga seorang wanita yang pernah mengalami kegagalan dalam rumah tangga hanya karena perjodohan" Chintya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tampak memerah menahan tangis yang siap meledak


"Dan saya seorang adik laki laki yang tidak rela jika kakak saya meneteskan air mata. Jika anda semua tidak suka dengan rencana yang di ajukan kakak saya, silahkan!"


"Riko..." Chintya mengusap lengan adiknya yang sudah terbakar emosi, adiknya ini memang cukup sulit dalam mengendalikan emosi, apalagi jika hal itu menyangkut dirinya


"Tapi kak"

__ADS_1


"Sudah, kita selesaikan masalah ini dulu, jangan timbulkan kekacauan lain" Chintya mengusap punggung sang adik demi sedikit meredakan emosinya yang sudah berada di puncak


"Jika putri saya menikah denganmu, apakah kau akan memperlakukan putriku dengan perlakuan yang sama? Kau akan menyayangi putriku layaknya kau menyayangi kakakmu?" kini tuan Andre yang bersuara


Riko beralih menatap tuan Andre "Ya" jawaban singkat bermakna ambigu itu Riko lontarkan sebagai jawaban, tidak ada keraguan saat mengatakan itu, yang ada hanya sebuah kepastian yang terpancar nyata


Tuan Andre bangkit dari duduknya, mengitari meja yang menjadi pembatas antara dirinya dengan laki laki yang sebentar lagi akan menjadi menantunya


"Aku merestuimu dengan restu yang sesungguhnya, kalaupun ada permainan lain yang akan terjadi dalam rumah tangga kalian nanti, aku yakin kau akan mampu menyelesaikannya. Aku percaya dengan rasa tanggung jawabmu" tuan Andre menepuk bahu Riko

__ADS_1


"A.. apa maksud ini semua?" tanya Chintya heran, beberapa menit yang lalu, ketegangan masih mengisi ruang keluarga itu. Namun kini, ia di kejutkan dengan reaksi tuan Andre yang tampak menyambut adiknya dengan tangan terbuka untuk menjadi menantu di keluarga ini.


"Bukankah pantas jika anggota keluarga turut andil dalam penyeleksian calon suami untuk anak perempuan satu satunya di keluarga mereka" mami Gisel menyunggingkan senyumnya "Kami hanya mengharapkan yang terbaik untuk putri kami, dan kami rasa dengan memilihkan laki laki yang baik, akan membuat rumah tangga anak kami terjaga"


"jadi?" Chintya masih tampak bingung


"Adikmu berhasil menembus satu palang untuk menjadi menantu di keluarga Prabaswara" jawab mami Gisel


Kak Chintya yang mulai mengerti arah pembicaraan pun mulai mengembangkan senyumnya, awalnya ia mengira akan terjadi pertengkaran hebat atau semacamnya, tapi kini ia bisa bernafas lega karena ketakutannya tidak terjadi, karena keluarga Prabaswara menerima adiknya dengan tangan terbuka

__ADS_1


__ADS_2