Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 19


__ADS_3

Riko berdiri dengan kaku di samping Bianca. Ia sering berada pada situasi rapat yang mencekam saat berada di hadapan rekan kerjanya, dan tidak sedikitpun ada ketakutan yang hinggap di hatinya. Tapi kali ini, ia berdiri di hadapan semua orang, dan di tantang untuk bernyanyi? Dengan sedikit ragu ia meraih mikrofon yang di sodorkan oleh pembawa acara, lalu melangkah mendekati sang istri yang berada di tengah panggung


Musik mulai mengalun, menciptakan irama syahdu yang begitu memanjakan telinga. Bianca mulai melantunkan suara merdunya, membius semua mata untuk tetap menatap pada sepasang pengantin baru yang saat ini menjadi pusat perhatian. Bianca mengarahkan mikrofonnya kearah Riko, dengan ragu Riko pun mulai mengeluarkan suaranya yang sangat di bawah standar. Namun tidak satu pun sorakan terdengar, semua orang hanyut melihat keromantisan pasangan pengantin baru itu


"Terima kasih"


Bianca dan Riko turun dari panggung, dan kembali menghampiri teman teman mereka, kali ini giliran Riko yang mengenalkan Bianca pada teman temannya.


"Pak lukman, suatu kehormatan anda berkenan menghadiri acara pernikahan saya"

__ADS_1


"Saya justru yang merasa tersanjung karena di undang di acara pernikahan kalian. Ini pernikahan paling fenomenal menurut saya. Bersatunya dua keluarga besar dari Prabaswara, dan Dirgantara" ucap pak lukman merasa bangga


"Bapak terlalu melebih lebihkan, oh iya perkenalkan ini istri saya"


Bianca segera menjabat tangan pak lukman "Senang bertemu dengan anda pak lukman"


"Senang juga bertemu denganmu nak. semoga bahagia"


"Riko, kakak tidak berharap banyak, kakak hanya berharap agar kau bisa menjadi laki laki baik seperti yang diinginkan ayah Andre, menjadi laki laki yang bertanggung jawab untuk anak perempuannya, dan mampu membahagiakan anak perempuannya sebagaimana kodrat seorang suami untuk membahagiakan istrinya. Kakak tahu rasanya di tinggalkan, kakak sangat mengerti rasanya di campakkan, dan itu terasa sakit sekali. Maka dari itu jangan pernah coba tancapkan duri tajam di hati istrimu, dia tidak bersalah apa apa" ucap kak chintya dengan linangan air mata yang membasahi pipinya

__ADS_1


Riko menundukkan tubuhnya, berlutut di hadapan kakaknya yang saat ini berada di atas kursi roda. Air mata itu kembali membuatnya mengingat penderitaan yang pernah di alami kakaknya. Di hapusnya air mata itu dengan ibu jarinya, ia tidak rela sedikitpun jika air mata kesedihan kembali melelehi pipi mulus itu


"Kak, kau tahu tujuanku menikahinya, dan maaf, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk saat ini"


"Kakak tidak tahu lagi apa yang harus kakak lakukan untuk mengubah hatimu agar tidak menaruh dendam. Itu semua hanya sebuah kebetulan, dan selama ini kesalahfahaman telah membelenggumu" Kak chintya mengusap kepala Riko dengan perlahan "Dengarkan kakak, sebelum semuanya terlambat, ubah niatmu untuk pernikahan ini. Kakak hanya tidak ingin kau menyesal nantinya"


"Aku tidak bisa berjanji kak, lebih baik sekarang kakak tidur, jangan terlalu lelah, ingat kondisi kakak" Riko mulai berdiri, lalu memutari kursi roda sang kakak, dan mulai mendorongnya menuju ranjang. Diangkatnya tubuh lemah itu keatas ranjang, lalu menyelimutinya. "Ingat, langsung tidur, jangan fikirkan apapun" peringat Riko


Setelah mengatakan itu, Riko keluar dari kamar sang kakak menuju kamarnya. Saat tiba di depan kamarnya, tanpa fikir panjang ia membuka pintu kokoh itu, hingga kini menampakkan Bianca yang tengah menghadap cermin dan membersihkan make-upnya. Bianca yang melihat kehadiran suaminya dari cermin, segera beranjak dari kursi riasnya dan hendak berjalan menunju sang suami. Namun Riko berjalan melewatinya menuju lemari, seakan ia adalah manusia tak terlihat

__ADS_1


Ada apa dengan suaminya itu? Bukankah tadi saat di pesta semua tampak baik baik saja, bahkan senyum manis itu tak pernah luntur dari bibir manis sang suami. Tapi sekarang....


__ADS_2