
Malam ini Bianca terbangun tepat saat jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Bianca dengan segera menunaikan shalat malam yang beberapa hari ini ia kerjakan. Entah mengapa ia merasakan kenyamanan saat menceritakan semua masalahnya kepada sang maha pencipta di tengah malam. Hening dan sunyi, Bianca sangat menyukai keduanya, waktu dimana ia bisa menceritakan semua keluh kesahnya kepada penciptanya
"Ya Allah, hamba tidak pernah tahu seperti apa jalan yang sudah engkau siapkan untuk hamba didepan sana, tapi hamba yakin bahwa jalan yang engkau atur adalah jalan terbaik untuk hamba. Tapi jalan yang saat ini hamba tempuh terlalu berat untuk hamba lalui ya Allah. Mengapa disaat hamba tahu semua tentang kebencian suami hamba terhadap hamba, hamba tetap tidak bisa membencinya. Mengapa setiap kali hamba berusaha untuk melupakannya, bayangannya selalu menghantui hamba. Apakah hamba salah jika hamba mencintai laki laki yang mungkin akan segera meninggalkan hamba"
"Ya Allah, engkau telah menitipkan buah cinta hamba didalam rahim hamba ini, hamba mohon penjagaanmu ya Allah, hamba mohon keselamatan untuk hamba dan juga calon buah hati hamba. Hamba serahkan semua padamu ya Allah, engkaulah sang pengatur skenario terbaik. Aamiin"
Setelah menyelesaikan shalat malamnya. Bianca kembali naik keatas tempat tidur sederhana miliknya. Diraihnya map yang berisi perjanjian cerai yang sudah dibuat suaminya.
"Dia bahkan sudah mempersiapkan semuanya dari lama, bagaimana aku bisa tidak tahu semua ini?"
__ADS_1
Hufff
"Demi kamu apapun akan ibu lakukan sayang"
Bianca mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit, tidak pernah terfikir sebelumnya bahwa ia akan mengalami hal berat dalam hidupnya. Dimulai dari berpisah dengan ayahnya karena perjodohan, lalu akhirnya berpisah yang sebenarnya karena ayahnya dipanggil untuk kembali ke pangkuan Nya, dan yang terakhir, kisah rumah tangganya yang bahkan baru berjalan beberapa bulan harus berakhir.
"Ingat Bia, kamu hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, dan sekarang waktumu sudah habis. Mari kembali ke ibukota dan menyelesaikan masalah ini, terlepas dari apapun yang akan terjadi selanjutnya" monolognya
*
__ADS_1
"Apa?" Neneng yang terkejut dengan apa yang barusaja Bianca sampaikan bahkan sampai menggebrak meja didepannya
"Neng... " Bianca sampai memegangi dadanya karena terkejut akan tindakan Neneng. Neneng yang selama ini ia kenal sebagai gadis lembut, hari ini terlihat berbeda. Neneng bahkan berbicara keras didepannya hanya karena ia mengatakan akan kembali ke ibukota
"Maaf teh, Neneng... Neneng terkejut dengan keputusan teteh"
"Tidak apa apa, saya faham Neng, dan untuk keputusan saya, maaf saya sudah mempertimbangkan semuanya, dan besok saya akan kembali ke jakarta. Saya harus segera menyelesaikan masalah rumah tangga saya Neng, saya tidak bisa selamanya bersembunyi dari kenyataan yang ada. Terima kasih karena kamu sudah menjadi teman dan sahabat yang baik untuk saya selama disini"
"Neneng mengerti maksud teteh, semoga teteh bisa melalui semua masalah teteh dengan baik. Padahal Neneng senang kalau teteh ada disini karena Neneng jadi punya teman untuk bercerita banyak hal, tapi neneng juga akan jauh lebih senang kalau teteh bahagia dengan pilihan teteh"
__ADS_1
"Terima kasih Neng"