
Kak Chintya membuka kedua matanya perlahan, denyutan dikepalanya masih sangat terasa. Apalagi rasa nyeri dari tangannya yang juga sangat terasa. Kak Chintya melirik kesisi kanannya, tidak ada siapapun disana. Ia mencoba bangkit, dan mendudukkan dirinya untuk bisa duduk bersandar pada brankar. Meski dengan perjuangan yang cukup panjang, akhirnya kak Chintya berhasil duduk diatas brankarnya
Kak Chintya mengedarkan pandangannya keseluruh isi ruangan, hingga akhirnya pandangan matanya jatuh pada meja yang berada tepat disampingnya. Sebuah meja yang menyimpan kunci mobil milik Riko. Kak Chintya meraih kunci mobil tersebut, dan tanpa pikir panjang melepas infus yang masih melekat dipunggung tangannya, kak Chintya menguatkan dirinya untuk berdiri dan berjalan menuju pintu, tapi seketika langkahnya terhenti saat melihat ayah Albert yang tampak tidur dengan lelahnya.
"Maafkan Chintya sudah membuat ayah lelah, Chintya akan menyelesaikan semua masalah ini segera"
Kak Chintya segera membuka pintu ruangan dan berjalan menuju parkir. Tujuannya saat ini adalah menemui suaminya, dimanapun suaminya itu berada. Kak Chintya segera menjalankan mobil Riko secara perlahan keluar dari lingkungan rumah sakit, dan saat ia sudah berada dijalan raya, kak Chintya segera tancap gas menuju alamat yang ia yakini menjadi tempat keberadaan suaminya. Namun saat akan membelokkan mobilnya, kak Chintya tidak melihat adanya mobil truk yang terlihat berjalan dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya kecelakaan maut pun tidak dapat terelakkan.
*
__ADS_1
"Hallo, benar ini dengan Riko? Pemilik mobil dengan nomor polisi kendaraan B 9852 PDA?"
"Iya, dengan saya sendiri, ini siapa?" tanya Riko, kepada nomor asing yang barusaja menghubunginya
"Saya dari Polantas ingin memberitahukan bahwa mobil bapak terlibat kecelakaan maut"
"Apa?"
"Wuiw... Wuiw... "
__ADS_1
Suara sirine mobil ambulans terdengar sepanjang jalan, Riko yang duduk didepan dengan supir ambulans tampak tidak sabar dan rasanya ia ingin berteriak dan mengatakan kepada seluruh pengguna jalan untuk minggir. Riko bahkan beberapa kali meminta supir ambulans untuk menjalankan mobilnya lebih cepat, karena saat ini nyawa kakaknya sedang di pertaruhkan.
"cepat bawa korban" perintah salah satu perawat laki laki kepada rekannya untuk membawa kak Chintya menuju mobil
Setelah itu, Riko kembali menaiki mobil ambulans, dan bertolak kembali menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, Riko memandangi wajah kakaknya yang sudah tidak sadarkan diri. Terdapat luka lebam akibat benturan di wajah cantik itu, selain itu disekujur tubuh kak Chinrya juga dipenuhi oleh luka luka kecil. Sedangkan pada bagian kaki, Riko tidak berani melihat semengerikan apa kaki kak Chintya. Karena saat kecelakaan terjadi, kaki kak Chinrya terjepit antara kursi kemudi dan dasbor mobil.
Riko segera turun dari mobil saat mobil sudah berhenti di parkir rumah sakit. Ia segera membantu para perawat untuk mendorong brankar kakaknya, menuju ruang IGD. Seperti yang sebelumnya terjadi, hanya dokter dan perawat yang diperbolehkan masuk kedalam ruangan selama pemeriksaan berlangsung. Riko duduk di kursi tunggu, saa5 tiba tiba suara ayahnya terdengar
"Bagaimana ini bisa terjadi pada kakakmu Riko?" tanya tuan Albert
__ADS_1
Riko memejamkan kedua matanya sembari menyugar rambutnya "Ini semua kecelakaan ayah"