
Tok... Tok...
Ketukan pintu yang terdengar nyaring membuat mba Nini yang saat itu berada di dapur segera keluar, ia ingin tahu siapa yang bertamu ke rumahnya di malam hari seperti ini. Mba Nini membuka pintu utama kediamannya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Riko tengah berdiri disana. Mba Nini melirik kebelakangnya, mencari keberadaan om Iwan untuk ia jadikan penyelamatnya
"Siapa?" tanya om Iwan yang berjalan mendekati mba Nini, saat sampai di pintu, om Iwan sama terkejutnya saat mendapati Riko disana
"Aku kemari ingin menjemput istriku" ucap Riko seolah tanpa beban
Om Iwan yang mendengar perkataan Riko, menarik mba Nini perlahan agar berpindah kebelakang tubuhnya, dan saat ini ialah yang berhadapan dengan Riko "Siapa istri yang kau maksud?" tanya om Iwan nyalang
__ADS_1
"Maafkan aku, aku ingin menjemput Bianca, istriku"
Bugh
Tanpa aba aba om Iwan melayangkan tinjunya di wajah Riko. Apa yang laki laki itu pikirkan, hingga ia masih punya muka untuk mengakui Bianca sebagai istrinya setelah apa yang selama ini diperbuatnya terhadap Bianca. Rasanya pukulan keras itu belum sebanding dengan apa yang selama ini Bianca alami
"Pergi dan jangan pernah berpikir untuk kembali. Besok surat pengadilan yang akan mengabarimu!" ucap om Iwan penuh amarah
Tanpa menghiraukan perkataan Riko, om Iwan segera menutup pintu rumahnya. Ia tidak bisa melihat wajah Riko lebih lama lagi, karena jika sampai itu terjadi, ia tidak yakin bisa mengontrol emosinya untuk tidak berbuat hal lebih dari sekedar memukul wajah Riko. Bahkan jika negara ini bukan negara hukum, ia bisa saja membunuh laki laki itu sekarang juga
__ADS_1
"Bianca... Bianca... dengarkan aku, aku tahu kamu ada didalam. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan semuanya. Bianca... "
Riko menundukkan wajahnya lesu saat tidak mendapat sahutan dari dalam sana. Ia yakin Bianca ada didalam saat ini, ia juga yakin bahwa Bianca mendengar apa yang ia ucapkan, hanya saja Bianca malas untuk menanggapi dirinya. Riko beralih menuju halaman depan kediaman om Iwan, melihat satu satunya kamar yang ada dilantai dua yang terlihat bercahaya, menandakan bahwa kamar itu berpenghuni
"Bianca... aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan maaf darimu" setelah mengatakan itu, Riko duduk Diatas kap mobilnya.
Mba Nini menyibak gorden jendela, melihat apa yang dilakukan oleh Riko diluar sana, dan dapat ia lihat bahwa Riko tengah duduk diatas kap mobil dengan tampilan yang terlihat acak acakan. "Dia masih ada didepan" ucap mba Nini kepada om Iwan yang saat itu sedang duduk di ruang tamu
"Biarkan saja" ucap om Iwan acuh
__ADS_1
"Mas, apa... perbuatan yang kita lakukan ini benar? Maksudku apakah memisahkan Bianca dan Riko adalah jalan yang benar?"
"Kita tidak melakukan ini tanpa izin Bianca, Bianca yang menginginkan perpisahan ini, dan kita hanya menjalankan. Lagipula aku sudah menganggap Bianca seperti putri kandungku sendiri, dan sebagai seorang ayah, aku tidak rela putriku disakiti"