Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 97


__ADS_3

Hari hari di jalani Bianca dan Riko penuh dengan kebahagiaan. Riko benar benar menepati janjinya untuk mengabulkan apapun permintaan Bianca. Seperti halnya saat ini, Riko dan Bianca tengah berjalan jalan ke mall untuk membeli perlengkapan dari kedua bayi kembar mereka. Kehamilan Bianca yang menginjak usia ke tujuh bulan, membuat wanita itu sedikit kesusahan untuk berjalan, sehingga Riko memaksanya untuk naik ke kursi roda.


"Sayang, menurut kamu, pakaian pink cocok tidak untuk calon putri kita?" tanya Riko


"Aku rasa cocok"


"Baiklah, kalau begitu, kita akan belikan warna pink untuk putri kita, dan warna hitam untuk putra kita"


"Kenapa hitam, memangnya anak kita pendekar kelelawar?" tanya Bianca sewot


"Bukan begitu sayang, warna hitam itu cool, maskulin, manly" ucap Riko


"Tapi bukan berarti warna hitam Mas, bukankah kita bisa memilih warna biru, atau warna lainnya"


"Baiklah, jadi warna biru?"


"Itu lebih baik"


Bianca dan Riko kembali menyusuri pusat perbelanjaan tersebut. Setelah cukup puas mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang. Riko mendudukan istrinya di kursi restoran yang sudah tersedia. Ia pun ikut duduk tepat di samping istrinya, mengelus perut sang istri yang sudah membesar sempurna.

__ADS_1


"Apa mereka rewel?" tanya Riko cemas saat mendapati wajah Bianca yang tampak meringis


"Tidak, mereka sangat aktif"


"Twins jangan menendang momwmy terus nak, nanti Daddy yang jadi korban cakaran Mommy-mu" bisik Riko


"Ibu. Its not Mommy"


"Baiklah, Ibumu ini selalu mencakar Daddy jika kalian menendangnya, kalian tidak kasihan pada Daddy, hemm" Alih alih diam, baby kembar yang masih di dalam perut itu malah kembali menendang


"Aww mereka menendang lagi. Aku rasa, mereka tidak suka mendengarmu menjelekkan Ibu mereka" ucap Bianca renyah


"Dan aku adalah Ibu mereka jika kamu lupa"


Huh


"Baiklah, kalian pemenangnya" ucap Riko pasrah


"Mas, aku jadi teringat temanku waktu di kampung dulu. Beberapa bulan belakangan aku sering menghubungi nomor teleponnya, tapi entah mengapa dia tidak pernah mengangkat panggilan telepon dariku"

__ADS_1


"Oh ya, siapa? Wanita yang waktu itu kamu ceritakan?" tanya Riko, mengingat ingat wanita yang pernah di ceritakan oleh Bianca


"Iya, aku merindukannya"


"Kita bisa menyusulnya ke kampung jika kamu mau" saran Riko


"Tidak, Mas harus ke kantor, bagaimana mungkin Mas meninggalkan urusan kantor hanya untuk menemaniku menemuinya"


"Apapun untukmu sayang, bukankah aku pernah bilang padamu, bahwa aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu"


"Huss jangan ungkit lagi masalah itu, aku memaafkanmu sepenuhnya Mas. Dan untuk temanku itu, biar nanti aku mencoba menghubunginya lagi, siapa tahu dia hanya sedang sibuk saja beberapa bulan ini makanya tidak menjawab telepon dariku"


"Bagaimana kalau Mas meminta anak buah Mas untuk mencari temanmu itu? Mas tidak mau kalau kamu kepikiran terus sama dia, dan akhirnya kamu melupakan baby twins kita" saran Riko


"Aku tidak mungkin melupakan bayi bayiku Mas. Tapi jika kamu memang ingin melakukan itu, maka aku bisa apa?"


"Baiklah"


Mendapat perintah dari Bianca tentu menjadi beban berat bagi Riko. Ia segera mengubungi anak buahnya dan meminta mereka untuk mencari wanita yang di maksud oleh istrinya. Setelah itu, ia menyimpan kembali handphone-nya dan menyantap makanan yang sudah tersaji di depannya

__ADS_1


__ADS_2