
Bianca memandang ke luar kaca jendela mobil, saat ini sesuai dengan niat awalnya, ia akan kembali ke jakarta untuk konsultasi tentang kesehatannya. Sekaligus ia ingin menyelesaikan masalah yang selama dua bulan ini ia hindari. Sudah cukup untuknya menenangkan diri, dan kini saatnya ia kembali menghadapi kenyataan tentang kehidupannya
"Teh... "
"Neneng?" Bianca sampai kaget saat menyadari Neneng yang sudah duduk tepat disampingnya "Bagaimana bisa?"
"Neneng takut teteh kenapa napa, jadi Neneng berniat untuk mengantar teteh sampai ke terminal jakarta, nanti setelah sampai di terminal jakarta, Neneng akan langsung cari tumpangan baru yang menuju kampung" jelas Neneng
"Tapi ini bahaya Neng, kamu akan balik ke kampung sendiri, begitu?"
"Iya, lagipula tidak bahaya teh kalau untuk gadis culun seperti Neneng, tidak akan ada laki laki yang menggoda. Tapi kalau teteh, teteh teh cantik, nanti kalau di goda laki laki bagaimana? Siapa yang tanggung jawab?" cecar Neneng
"Terima kasih Neng" Bianca menggenggam tangan Neneng dengan perasaan yang campur aduk. Neneng, gadis culun yang dua bulan lalu ia kenal begitu peduli padanya, bahkan sampai rela mengikutinya ke jakarta hanya untuk memastikan dirinya selamat sampai tujuan.
"Sama sama teh"
"Saya boleh pinjam handphone kamu?" tanya Bianca saat teringat bahwa dirinya belum menghubungi siapapun untuk menjemputnya di terminal nanti
"Bisa teh, ini... "
__ADS_1
Neneng mengeluarkan handphone jadul yang ia punya. Handphone yang jauh dari kata bagus, apalagi untuk gadis dewasa seumuran Neneng yang biasanya memiliki handphone canggih dengan berbagai merk. Bianca meraih handphond itu dan mengetikkan nomor mba Nini disana, hanya dalam satu kali panggilan, mba Nini langsung mengangkat panggilan.
"Halo..." terdengar suara mba Nini di seberang sana
"Assalamu'alaikum mba"
"Bia? Bia? Wa'alaikum salam. Bia kamu dimana?"
"Bia baik baik saja mba, Bia di perjalanan menuju jakarta sekarang, tolong jemput Bia di terminal. Jangan bilang siapa siapa tentang kedatangan Bia"
"Oke, mba jemput sekarang juga"
"Oke, mba tunggu"
"Terima kasih mba, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Tut
__ADS_1
"Terima kasih Neng"
"sama sama teh" jawab Neneng
"Mmm Neng, kamu mau tidak ikut bekerja bersama saya?" tanya Bianca
"Maksud teteh?"
"Iya, kamu bekerja bersama saya di jakarta. Tenang semua yang kamu mau saya akan penuhi, ini murni sebagai balas budi saya karena kamu mau menjadi teman saya selama dua bulan terakhir" Bianca berucap sehalus mungkin karena takut jika N3neng tersinggung dengan kata katanya
"Terima kasih sebelumnya teh, tapi... Neneng sudah nyaman hidup di kampung. Aman dan nyaman, Neneng tidak bisa ikut teteh" jawab Neneng
"Kamu yakin?" tanya Bianca
"Nebeng yakin teh" jawab Neneng mantap
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan pernah sungkan untuk menghubungi saya kalau kamu butuh sesuatu karena saya sudah menganggap kamu seperti saudara saya sendiri"
"Terima kasih teh" ucap Neneng sembari memeluk Bianca
__ADS_1
"Andai kamu tahu bahwa apa yang aku lakukan ini adalah bentuk dari rasa bersalahku karena aku adalah penyebab dari segala penderitaan yang selama ini kamu alami, Apakah kamu masih bisa menganggap penjahat ini sebagai saudaramu Bia" batin Neneng