
"Kamu yakin hanya sebatas tidur di kamar putriku?" tanya tuan Andre memastikan
"Saya sangat yakin tuan, saat itu saya memang tidak mengingat dengan begitu jelas, tetapi saya sangat yakin bahwa saya tidak melakukan hal yang tidak senonoh terhadap putri anda" jawab Riko tegas, seakan ingin kembali meyakinkan tuan Andre bahwa dirinya berkata benar
"syukurlah kalau apa yang kau katakan itu benar" tuan Andre menghembuskan nafas lega "tapi mba Nini, apa mba Nini juga bisa menjamin bahwa tidak terjadi apa-apa diantara mereka?" tuan Andre kini beralih menatap mba Nini yang sedari tadi hanya menjadi penyimak obrolan antara dirinya dengan Riko
"Saya rasa, saya yakin tuan, karena saat saya masuk ke kamar pagi itu, mereka hanya sebatas tidur di satu ranjang, tidak lebih" ucap mba Nini
"Baiklah, saya rasa tidak ada hal yang harus di perpanjang di sini, saya rasa masalah ini bisa kita selesaikan dengan damai seperti ini" ucap tuan Andre
"Tapi om, Bia tidak mau menikah dengan orang yang Bia tidak kenal"
Semua orang melihat kearah mba Nini yang terlihat mengutak atik ponselnya, sepertinya ingin mengaktifkan mode silent
"Mba itu suara Bia kan?" tanya Bianca
"Mba Nini"
__ADS_1
Mba Nini yang merasa terpanggil segera mengangkat kepalanya, dan kini matanya bertemu dengan bola mata tuan besar yang tampak sudah mulai tidak bersahabat
"Bawa kesini ponselnya" pinta tuan Andre dan mau tidak mau mba Nini menyerahkan ponselnya ke tangan tuan besar
Begitu ponsel mba Nini berpindah tangan, terlihat sebuah potongan video yang memperlihatkan keributan yang terjadi di motel tempat Bianca menginap tadi malam. Dimana riuh suara warga yang meminta Bianca untuk di nikahkan dengan Riko
"Apa ini?" tuan Andre menatap mba Nini dan om Iwan bersamaan
"maaf, kita kecolongan tuan, saya rasa ada yang memanfaatkan moment saat itu untuk menghancurkan karier Bianca" ucap mba Nini menunduk, ia tidak berani beradu tatapan dengan tuan besar karena bisa dipastikan bahwa kini tuan besarnya sedang marah besar
Bianca merebut ponsel mba Nini dari tangan sang ayah, ia utak atik ponsel itu hingga akhirnya semua berita mengenai dirinya terpampang nyata di layar ponsel itu
Tut
Tanpa aba aba tuan Andre mengambil alih ponsel itu dan menonaktifkannya "selesaikan semua kekacauan ini" perintahnya kepada om Iwan
"Tapi tuan, berita itu sudah menyebar, dan mungkin saat ini semua wartawan sedang mencari berita sebanyak banyaknya tentang gosip ini, dan itu akan mempersulit kita untuk bergerak" jelas om Iwan
__ADS_1
hufff
helaan nafas kembali terdengar. Tuan Andre tampak sangat frustasi dengan masalah yang kini ia hadapi, media informasi sekarang semakin canggih, bahkan hanya dengan secuil ketikan dapat menimbulkan kontroversi yang tidak berkesudahan. tetapi ia harus bisa memecahkan masalah ini, kebahagiaan putrinya adalah yang utama.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya tuan Andre akhirnya
"Mmm tuan maaf jika saya lancang, menurut saya permasalahan ini adalah permasalahan yang bersifat pribadi, jadi alangkah baiknya jika hal ini juga di selesaikan dengan cara pribadi..."
"Jangan bertele tele Iwan, katakan apa maksudmu!" ucap tuan Andre tegas
"Menurut saya... mungkin lebih baik jika nona Bianca dan nak Riko di nikahkan"
"Tidak!"
Bianca berdiri dari duduknya saat mendengar penuturan om Iwan "dengar, tidak akan ada pernikahan antara aku dengan laki laki manapun selama ayahku masih ada" tolak Bianca
"Bianca"
__ADS_1
"Tidak ayah, aku tidak mau pisah dari ayah, lagipula aku tidak mengenal laki laki ini. pokoknya Bia tidak mau menikah"
setelah mengatakan itu, Bianca segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Yang akan ia lakukan saat ini adalah mengurung diri di dalam kamar hingga akhirnya membuat ayahnya tak tega dan akhirnya menolak usulan om Iwan. Selama ini cara ini sangat ampuh jika lawannya adalah sang ayah, tetapi untuk kali ini Bianca sedikit tidak yakin, tapi apa salahnya mencoba bukan?