
Mba Nini masih termenung diruang tamu, sedangkan om Iwan sudah lebih dulu beristirahat "Apa mungkin Bianca benar benar menginginkan perpisahan ini?"
"Aku sangat yakin mba"
Mba Nini menoleh kearah tangga, saat mendengar jawaban dari Bianca. Terlihat Bianca yang menuruni tangga dengan gelas ditangannya. Mba Nini memandang Bianca sekilas
"Kamu belum tidur?" tanya mba Nini
"Aku haus, dan air minum dikamar habis, jadi aku ke dapur" jawab Bianca, yang memilih berjalan menuju mba Nini, dan duduk dihadapannya. "Aku harap mba tidak akan mempertanyakan akan keputusanku ini, karena aku sangat yakin dengan keputusanku"
"Tapi mba sangat meragukan keputusanmu Bianca" sangkal mba Nini
"Apa yang membuat mba meragukan keputusanku?"
__ADS_1
"Aku sangat mengenalmu, kita bersama lebih dari sepuluh tahun, dan selama aku mengenalmu, kamu tidak akan bertahan dalam kesakitan jika tidak ada yang kamu harapkan. Lalu setelah mendapat prilaku tidak baik dari suamimu dalam pernikahanmu, kenapa kamu masih memilih bertahan?" tanya mba Nini
"Aku... " Bianca kehilangan kata kata untuk menjawab pertanyaan mba Nini
"Jangan pernah menyangkal cintamu Bia. Selama mba bersamamu, mba tidak pernah melihat cinta dimatamu untuk laki laki lain selain ayahmu. Tapi hari ini, mba melihat cinta itu hadir untuk laki laki yang saat ini menjadi suamimu. Sebelum kamu menyesali keputusan yang kamu buat, mba sarankan untukmu memberi kesempatan untuk suamimu"
"Itu tidak akan pernah terjadi mba. Sakit hati dan penghiantan yang dia lakukan padaku tidak akan bisa aku maafkan. Dia sudah menjalin hubungan dengan wanita lain saat dia masih sah menjadi suamiku, dia merenggut hal berharga yang selama ini aku jaga, dan setelah itu dia masih bisa bermesraan dengan wanita lain dihadapanku. Aku sakit mba, aku tidak bisa memaafkan dirinya"
Melihat Bianca yang menangis sesegukan, membuat mba Nini segera berjalan mendekat dan duduk tepat disamping Bianca. Dibawanya Bianca kedalam pelukannya, diusapnya punggung yang bergetar itu. Jauh didalam hatinya, ia juga merasa sakit saat putrinya ini mengadu akan penderitaan dan sakit hati yang selama ini ia alami. Tapi jika dipikir lebih jauh, selama ini Bianca hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, dan jika sampai perpisahan ini terjadi, itu artinya kedua anak yang kelak akan dilahirkan Bianca juga akan merasakan hal yang sama, kekurangan kasih sayang dari sosok ayah mereka
Pagi ini mba Nini bangun lebih awal, ia segera menyibak sedikit gorden kamarnya demi untuk melihat keberadaan Riko, dan benar saja, mobil Riko masih terparkir rapi di halaman rumahnya. Mba Nini berjalan perlahan, dan membuka pintu kamarnya, tujuannya saat ini adalah menemui Riko dan meminta laki laki itu untuk meninggalkan rumahnya.
Tok... tok...
__ADS_1
Mba Nini mengetuk kaca mobil Riko, sembari terus melirik kesana kemari, memastikan tidak ada orang yang melihat apa yang ia lakukan. Tidak lama setelah itu, Riko membuka kaca mobilnya. Ia sedikit terkejut mendapati mba Nini yang berada diluar mobilnya. Namun, tanpa bertanya ia segera membuka pintu mobilnya dan menemui mba Nini
"Kemari! Dengarkan aku, cepat pulang sekarang juga sebelum suamiku bangun" ucap mba Nini cepat
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapat maaf dari istriku" jawab Riko tegas
"Dengarkan aku, aku lebih memahami Bianca daripada dirimu. Dia tidak akan pernah memaafkanmu jika caramu terus mendesak seperti ini. Begini saja, siang ini kita bertemu di cafe Delima jam dua belas"
"Tapi... "
"Pergi, sebelum Bianca benar benar membencimu"
"Tapi bagaimana dengan surat gugatan yang dikatakan om Iwan?"
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi selama kamu mematuhi diriku. Sekarang pergilah"