Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 4 : laki laki asing


__ADS_3

Binca menutup pintu kamarnya setelah memastikan sepasang suami istri itu sudah jauh dari kamarnya, ia duduk di tepi ranjang sembari membuka kopernya yang tepat berada di samping ranjang, hal pertama yang ia dapati setelah membuka koper itu adalah foto ayah dan bundanya yang memang selalu ia bawa kemana mana, foto kemesraan antara ayah dan bundanya dengan perut buncit sang bunda yang saat itu tengah mengandung dirinya, foto inilah yang selalu membangkitkan semangatnya saat lelah atau down karena urusan pekerjaan


Bianca kembali memasukkan foto itu kedalam koper, dan mengambil baju tidur yang ada di dalam kopernya, ia segera menuju kamar mandi untuk berganti pakaian karena tubuhnya terlalu lelah hari ini


Keluar dari kamar mandi, Bianca naik ke atas ranjang untuk segera tidur, ia masih mengenakan jilbab terusan bahkan saat tertidur, karena ia pun tidak bisa memperkirakan apakah tidak akan ada yang melihat auratnya saat tertidur


Hoamm...


Bianca menguap beberapa kali sebelum akhirnya benar benar merebahkan tubuhnya di ranjang, dan akhirnya terbuai ke alam mimpi


*


04:59 wib


Bianca tampak menggeliat pelan saat mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar, Bianca sudah bisa menebak siapa orang yang berada di balik pintu, karena itu pasti adalah mba Nini


Sudah menjadi kebiasaan wanita empat puluh tahunan itu untuk membangunkannya di jam yang masih terbilang pagi ini, alasannya hanya satu, menjalankan perintah sang tuan besar untuk selalu mengingatkan dirinya agar tidak meninggalkan shalat dimanapun dan kapanpun


Bianca menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, ini masih terlalu pagi untuknya bangun, ia bahkan merasa baru beberapa menit yang lalu ia tertidur, dan sekarang sudah pagi saja. Sebagai seorang muslim yang sejak dini diajarkan untuk taat dan menutup aurat, tentu ini bukanlah hal yang seharusnya ia lakukan, namun kembali lagi, dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa saja merasa malas

__ADS_1


Terdengar langkah kaki yang berangsur mendekat kearahnya, ia yakin mba Nini kini sedang berjalan dan siap membangun kannya


"Mba ini masih pagi, 5 menit lagi, please" pintanya dari balik selimut


Hening


Bianca tidak mendapati jawaban apapun dari mba Nini, justru ia merasa kan suatu beban berat yang kini bertambah pada ranjangnya, hingga didetik berikutnya terdengar suara seseorang yang sangat tidak asing kini berkumandang di telinganya


"Morning cantik, bangun shalat subuh, setelah itu mandi, ingat keberangkatan kita pagi in... i"


Mba Nini tampak mematung diambang pintu saat melihat seseorang yang ia yakini adalah seorang laki-laki kini tengah tidur nyenyak di ranjang yang di tempati oleh Bianca


"Bia"


Bianca kembali tersadar saat mendengar teriakan mba Nini, ia segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju mba Nini yang masih terpaku diambang pintu


"Mba, Bia tidak tahu siapa laki laki itu" ucap Bianca


Mba Nini masih diam, ia masih terkejut dengan apa yang di dapatinya pagi ini, ia yakin tidak terjadi apa-apa antara Bianca dengan laki-laki yang saat ini masih tertidur nyaman di ranjang itu. Namun apa ini? ia sulit menyimpulkan semua kejadian ini, bagaimana laki-laki ini bisa masuk ke kamar majikannya? bukankah bianca selalu mengunci pintu saat akan tidur

__ADS_1


"Tadi malam pintunya di kuncikan?" tanya mba Nini akhirnya buka suara


"Aku mengun..." Bianca diam, tampak mengingat ingat dalam otaknya apakah semalam ia mengunci pintu atau tidak, Mba Nini menatap wajah Bianca untuk memastikan jawaban yang akan disampaikan oleh Bianca


"Aku -" Bianca masih mencoba mengingat-ingat "aku lupa mengunci pintu mba"


Braak..


Pintu terbuka dengan kasar, menampakkan beberapa karyawan motel dan beberapa warga kini menatap kearah ranjang dimana laki-laki itu berada


"Itu dia pak, lihat mereka melakukan hal tidak senonoh di sini" tunjuk seorang warga kearah laki-laki itu


Bianca dan mba Nini tampak gelagapan menghadapi situasi ini, mereka bingung harus melakukan apa


"Pak, ini tidak seperti yang kalian lihat" ucap mba Nini mencoba menengahi


"Hah, bukti sudah jelas di depan mata, kalian masih mau mengelak" ujar seorang warga dengan nada tak senang


"Sudah pak, kita nikahkan saja mereka, atau tidak kampung kita akan menanggung akibat dari perbuatan buruk mereka" ucap salah satu warga memberi usul dan di iyakan oleh warga lainnya

__ADS_1


__ADS_2