
Riko kembali membelah jalan ibukota. Ia sudah tidak memiliki tujuan sekarang, dua tempat yang ia yakini menjadi tempat yang dikunjungi oleh Bianca, malah ia tidak menemukan Bianca di dua tempat tersebut. Lalu kemana Riko harus mencari Bianca sekarang?
Dret... Dret...
Getar handphone disaku celana Riko nembuatnya sedikit mengalihkan perhatiannya dari Bianca. Sebuah panggilan masuk, ada nama Sonia disana. Diangkatnya panggilan itu dan ia tempelkan ditelinga
"Halo Son"
"Ada jadwal meeting pagi ini dengan perusahaan adiwijaya group dan kita... "
"Kosongkan semua jadwal untuk hari ini"
"Maksud kamu? Ini proyek yang sudah kamu incar sejak lama Rik" ucap Sonia mengingatkan
"Batalkan saja jika mereka tidak bisa menunggu"
Tut
Riko memutus panggilan sepihak lalu melempar handphone-nya kesembarang arah. Ia menatap lurus jalanan didepan sana, sembari melihat kesana kemari berharap melihat Bianca disana. Ia benar benar bingung sekarang, kemana ia harus menemukan Bianca..
__ADS_1
"Apa mungkin dirumah om Iwan?" monolog Riko, mengingat istrinya juga sangat dekat dengan om Iwan dan mba Nini
Tanpa pikir panjang, Riko segera nenjalankan mobilnya menuju kediaman mba Nini dan om Iwan. Kali ini ia yakin akan keputusannya, meskipun ia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi pada dirinya jika om Iwan dan mba Nini tahu semua permasalahan keluarganya. Yang jelas, untuk saat ini, menemukan Bianca adalah keinginan terbesarnya.
Tok.. Tok..
"Permisi" Riko kembali mengetuk pintu saat tidak mendapat jawaban dari sang pemilik rumah "Assalamu'alaikum" ucap Riko kembali
"Wa'alaikum salam" mba Nini yang membuka pintu, terlihat wanita yang tidak lagi muda itu sekit heran dengan kedatangan Riko, ia lantas melihat kebelakang sana, demi mencari keberadaan Bianca. Namun ia tidak melihat siapapun disana "Bianca tidak ikut?" tanya mba Nini bingung
Riko yang ditanya demikian oleh mba Nini bingung harus menjawab apa, terlebih saat melihat wajah mba Nini yang tampaknya benar benar tidak tahu apa apa. "Mmm Bianca... "
"Riko" jawab mba Nini
"Kenapa tidak diajak masuk?" om Iwan berjalan menuju pintu, dan benar saja ia mendapati keberadaan Riko disana, timbul sedikit pertanyaan dalam benaknya, mengingat jika laki laki yang ada dihadapannya ini, tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumahnya sebelumnya. Lalu mengapa hari ini laki laki ini berkunjung tiba tiba? "Ayo masuk dulu"
"Tidak usah om, saya kesini... ingin mencari Bianca"
Deg
__ADS_1
"Mencari Bianca? apa maksud kamu?" tanya mba Nini
"Mencari bagaimana yang kamu maksud?" tanya om Iwan menimpali
"Bianca pergi dari rumah" jawab Riko menunduk, ia tidak berani melihat amarah yang ditunjukan dua orang yang ada dihadapannya
"Pergi dari rumah? Bukankah kemarin kau menjemputnya, bagaimana dia bisa pergi?" tanya mba Nini
"Ceritanya panjang mba, tapi yang jelas Bianca pergi setelah tahu bahwa aku menikahinya untuk membalas dendam"
Bugh
Hantaman keras mengenai rahang Riko, hingga membuat sang empunya mundur beberapa langkah karena kerasnya hantaman tinju yang diberikan om Iwan. Riko hanya diam, ia sudah menebak situasi ini. Bahkan jika ayah Andre masih hidup, mungkin ia akan mendapat hantaman ini dari tangan ayah Andre.
"Kurang ajar, beraninya kau menikahi putriku untuk membalas dendam"
Bugh
Tinjuan keras kembali om Iwan layangkan. Anak gadis yang ia jaga sejak berusia belasan tahun itu kini telah disakiti oleh laki laki tidak bertanggung jawab dihadapannya ini. Yang sialnya laki laki ini adalah suami dari gadis yang selama ini sudah ia anggap seperti anaknya sendiri
__ADS_1