
Bianca menatap suaminya yang masih betah berkutat dengan ponsel di tangannya. Prasangka-prasangka buruk tentang kecurigaannya terhadap suaminya kembali hadir. Apakah benar suaminya tega menghianatinya? Walaupun pernikahan mereka terjadi karena insiden, tapi setidaknya laki laki yang berstatus suaminya itu seharusnya tidak akan melakukan hal yang akan merusak citranya sebagai suami
Hufff
Bianca menghela nafas kasar, hati dan fikirannya terus terusan bertolak belakang. Jika fikirannya selalu menggunakan logika dan mengatakan hal hal yang negative. Maka hatinya sebaliknya, ia terus meyakinkan hatinya bahwa suaminya tidak mungkin tega melakukan hal hal yang akan merusak rumah tangga mereka yang baru seumur jagung. Setidaknya suaminya itu pasti akan menjaga image-nya sebagai pengusaha, yang tidak akan melakukan hal hal menyeleweng.
Bianca menuju pintu kamar. Seperti malam malam sebelumnya, ia akan menuju dapur, lalu menghabiskan waktu disana, dan baru akan kembali setelah suaminya terlelap. Namun baru akan membuka pintu kamar, aktivitasnya terhenti saat mendengar suara suaminya
"Bersiap besok!"
Bianca membalik tubuhnya sembari mengernyitkan dahi "Kemana?" tanya Bianca, mengharap mendapat jawaban dari suaminya. Namun alih alih menjawab, Riko malah meninggalkannya dan berlalu menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun
__ADS_1
"Sabar lagi" Bianca mengembangkan senyumnya untuk menguatkan hati. Setelahnya ia pergi menuju lantai bawah
*
Bianca tengah mematut dirinya di depan cermin saat ini. Sampai pagi ini ia tidak tahu kemana suaminya akan membawanya pergi. Karena yang ia ingat hanyalah kata kata suaminya semalam 'Jangan berdandan norak, dan jangan terlalu glamor, karena itu memalukan!' Terdengar sedih memang, tapi apa yang bisa Bianca lakukan? Yang bisa ia lakukan hanyalah mengalah dan mengiyakan apa yang suaminya ucapkan
Tin...
Bianca duduk diam tanpa banyak bicara. Ia hanya sesekali melirik suaminya yang tengah mengemudikan mobil, dan semakin lama ia pandang, entah mengapa membuat hatinya berdebar begitu kencang. Bianca sampai menghembuskan nafas berulang kali karena sesak yang kian melandanya. Hingga mobil yang di kendarai suaminya tiba di sebuah hotel, dan itu menciptakan ribuan tanda tanya lainnya di kepala Bianca
Namun lagi lagi, Bianca tidak mampu untuk sekedar bertanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengikuti langkah suaminya yang berjalan mendahuluinya. Namun karena terlalu fokus dengan pertanyaan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, Bianca sampai tidak menyadari jika suaminya menghentikan langkahnya, yang membuat Bianca tanpa sadar menabrak punggung kokoh itu
__ADS_1
Dug..
"Hati hati, apa ada yang sakit?"
Bianca diam seribu bahasa. Apakah yang barusaja berucap itu benar benar suaminya? Suami dinginnya berubah menjadi perhatian? Apa yang terjadi. Mulut Bianca seakan kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan dari suaminya, ia hanya diam, dan menatap suaminya yang kini tengah mengelus dahinya.
"Hei, apakah sakit?" tanya Riko kembali, setelah sebelumnya tidak mendapat jawaban dari Bianca
"A..aku tidak apa apa" Bianca menepis halus tangan Riko, sembari menunjukkan senyumnya. "Aku baik baik saja"
"Baiklah, Ayo!"
__ADS_1
tubuh Bianca menegang saat lagi lagi kulit mereka bersentuhan. Karena kini suaminya itu tengah menggandeng tangannya untuk berjalan bersama. Ada apa sebenarnya dengan suaminya itu? Apakah ia mengalami gangguan kejiwaan atau semacamnya? Mengapa sikapnya begitu mudah berubah?