
Malam ini adalah malam yang dinantikan oleh Bianca. Ia sudah memakai dress yang waktu itu ia beli bersama mba Nini, dan sekarang ia tengah menunggu mami Gisel beserta keluarganya untuk datang. Acara ulang tahunnya kali ini sangat berbeda, jika biasanya ulang tahunnya akan dirayakan disebuah stasiun televisi dengan hiburan yang begitu luar biasa, maka kali ini, acara ulang tahunnya hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.
Tidak lama setelah itu, sebuah mobil yang sangat Bianca kenali mulai perlahan memasuki halaman rumah mba Nini dan om Iwan. Bianca menerbitkan senyumnya saat melihat mami Gisel datang bersama papi Rayden. Ia segera berjalan mendekati keduanya, saling berpelukan untuk melepas kerinduan
"Maaf mami baru bisa datang untuk menengokmu sayang" ucap Mami Gisel
"Tidak apa apa mam, Bia senang mami dan papi bisa datang di acara ulang tahun Bia" ucap Bianca "Ayo, kita masuk" ajak Bianca selanjutnya
"Bianca tunggu" seru mba Nini dari dalam, memaksa Bianca menghentikan langkahnya
"Ada apa mba?" tanya Bianca
"Kita masih menunggu satu tamu lagi" ucap mba Nini
__ADS_1
"Satu tamu lagi? Siapa?"
"Nanti kamu tahu sendiri"
Mba Nini menyapa Gisel dan Rayden secara bergantian. Melepas rindu dengan obrolan ringan, sembari menunggu tamu spesial mereka untuk datang. Tidak lama setelah itu, terlihat sebuah mobil mulai berjalan memasuki halaman rumah mba Nini. Saat orang tersebut keluar dari mobil, Bianca melirik mba Nini, mami Gisel, dan papi Rayden yang terlihat tersenyum dan mengangguk kepadanya
"Assalamu'alaikum" Riko mencium punggung tangan para orang tua didepannya
"Wa'alaikum salam" jawab mereka
"Sudah, ayo kita langsung masuk, udara malam kurang baik untuk ibu hamil" ucap mba Nini.
Mereka semua masuk kedalam rumah. terlihat om Iwan yang berdiri didekat kue ulang tahun yang sudah siap beserta lilin yang sudah dihidupkan. Om Iwan menyambut kedatangan mereka semua dengan hangat, tidak terkecuali Riko, ia bahkan memeluk laki laki itu. Awalnya dirinya memang tidak bisa menerima Riko, mengingat apa yang sudah laki laki itu lakukan pada Bianca. Namun berkat bujukan mba Nini, akhirnya om Iwan luluh, dan mau memaafkan Riko
__ADS_1
"Ayo sayang, kemari dan tiup lilinnya" ucap mami Gisel
Bianca segera melangkah maju. Menyanyikan lagu ulang tahun, serta memanjatkan do'a dalam hatinya. Setelah itu, ia meniup lilin di hadapannya
"Selamat ulang tahun sayang, do'a terbaik untuk mu" ucap mami Gisel
"Terima kasih mam"
"Bia... Mba bukan siapa siapa untuk kamu. Mba dan om Iwan bukan keluarga kamu, kami hanya dua orang beruntung yang akhirnya bisa mengiringi karier kamu sampai hari ini, tapi kami sudah menganggap kamu sebagai putri kami sendiri. Selamat ulang tahun nak, semoga hidupmu selalu diliputi kebahagiaan" ucap mba Nini penuh haru
"Mba, jangan bicara seperti itu. Keluarga itu bukan tentang darah yang mengalir, tapi tentang rasa yang tersampaikan. Bia bisa merasakan kasih sayang mba dan om untuk Bia, terima kasih untuk semuanya" ucap Bianca, ia memeluk mba Nini dan mami Gisel secara bersamaan
"Bia..."
__ADS_1
Bianca mengurai pelukannya. Menatap Riko yang kini memakai pakaian senada dengannya, tengah menatapnya dengan intens. Riko maju mendekati Bianca, membuat mba Nini serta mami Gisel berjalan sedikit menjauh
"Selamat ulang tahun. Maaf karena pernah memberikan luka yang begitu dalam padamu, dan dihadapan seluruh keluargamu, aku mohon maafkan aku" ucap Riko