Merried By Accident

Merried By Accident
Bab 105


__ADS_3

Riko keluar dari ruangan dokter Stephanie, dan kembali menemui keluarganya di ruangan sang istri. Jujur, pikirannya masih asik berkelana dan menerka nerka tentang siapa sebenarnya seseorang yang sudah mendonorkan darahnya untuk sang istri. Namun mengingat perkataan dokter Dio tentang seseorang tersebut yang tidak ingin diketahui identitasnya, akhirnya Riko hanya bisa pasrah, dan mendo'a-kan yang terbaik untuk orang tersebut


"Bianca masih belum sadar Riko" ucap Mami Gisel cemas saat melihat belum ada pergerakan dari Bianca dari balik pintu kaca transparan itu


"Itu karena efek obat Mam, Kita harus menunggu kurang lebih selama empat jam kedepan untuk menunggu Bianca sadar"


"Syukurlah, Mami sampai cemas karena Bianca tidak kunjung sadar. Sekarang Mami sudah tenang setelah mendengar penjelasan kamu, Kalau begitu Mami izin pulang, twins hanya di jaga mba Nini dan bi Siti di rumah, kasian mereka. Mami pamit ya"


"Iya Mam, hati hati"


Setelah kepergian Mami Gisel, Kak Chintya mendekatkan kursi rodanya kearah Riko yang terduduk di kursi tunggu "Kamu tidak pulang dulu istirahat dulu? Untuk sementara Kakak bisa menjaga Bianca disini"


"Tidak Kak, aku ingin menemani istriku sampai dia siuman. Aku ingin orang pertama yang ia lihat saat ia bangun dari tidur panjangnya adalah aku"


"Tapi twins?"

__ADS_1


"Sudah ada nenek dan kakek mereka disana, aku yakin mereka bisa menjaga twins. Bukankah lebih baik kakak yang pulang dan istirahat? Aku bisa menjaga istriku sendiri"


"Biar Kakak temani kamu ya, Kakak tidak tega meninggalkan kamu sendiri menunggu disini. Lagipula di rumah, twins sudah banyak yang menjaga"


"Baiklah"


Riko menyenderkan kepalanya pada tembok ruangan. Kantuk sedikit mendera, membuatnya akhirnya tertidur dengan keadaan duduk. Kak Chintya yang melihat itu hanya tersenyum, ia tidak menyangka adiknya kini telah menjadi seorang ayah dari dua bayi yang lucu, sedangkan dirinya... Pria bodoh mana yang mau menjadikannya istri dengan kondisisnya yang sangat memprihatinkan. Kak Chintya mengambil handphone yang ia simpan diatas pangkuannya, ia segera menelepon seseorang dan memintanya untuk segera menuju ruangan Bianca


"Kamu bisa masuk sekarang, biar aku yang mengawasi Riko" ucap Kak Chintya pada seseorang yang saat ini telah ada di hadapannya dengan sebuah kain besar menjuntai yang menutupi sekujur tubuhnya


"Teh... Ini Neneng"


Ya, seseorang itu adalah Neneng, atau Carissa. Sebelum melakukan penerbangan menuju tempat pengasingannya, ia akhirnya memutuskan untuk mengecek kesehatannya terlebih dahulu, saat menunggu giliran panggilan dokter, ia mendengar beberapa perawat yang berbicara mengenai donor darah yang sangat sangat penting pada saat itu, dan setelah mengetahui dirinya mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien yang membutuhkan, akhirnya tanpa pikir panjang, Carissa menawarkan darahnya untuk di donorkan


"Kalau boleh tahu, siapakah pasien yang membutuhkan donor darah ini dok?" tanya Carissa pada dokter Dio saat itu

__ADS_1


"Nyonya Bianca, istri dari tuan Riko. Setelah satu jam pengambilan darah, maka kesehatanmu akan kembali normal, kamu boleh menemui mereka dan meminta imbalan atas apa yang sudah kamu berikan, mereka tidak mungkin akan menerima cuma cuma apa yang kamu berikan. Kamu pasti akan menerima imbalan besar"


Duar...


Dada Carissa bergemuruh hebat saat mendengar nama yang barusaja dokter Dio katakan. Tangannya bahkan gemetar, dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Ia benar benar berniat membantu dengan mendonorkan darahnya, tapi ia tidak akan pernah berani menunjukan wajahnya di hadapan Riko, sesuai janji yang sudah ia ucapkan.


"Dokter... boleh saya minta sesuatu?"


"Apa yang anda inginkan?"


"Jangan katakan pada siapapun tentang aku"


"Maksudmu?"


"Aku mendonorkan darahku untuk Nyonya Binca benar-benar tulus tapi tolong jangan katakan pada Tuan Riko bahwa aku yang telah memberikan darahku untuk istrinya"

__ADS_1


__ADS_2