
Berjalan disepanjang koridor rumah sakit Vony hanya diam mengikuti dari belakang kemana langkah pria itu pergi. Berhenti di sebuah lorong VVIP langkah Alan terhenti tepat di depan sebuah kamar inap.
"Tunggu disini!"
"Apa kamu tidak mengajak aku sekalian?"
Alan memutar bola matanya malas. "Kamu bukan orang penting yang harus masuk kedalam" setelah mengucapkan hal tersebut Alan melangkah masuk keruang VVIP tersebut menghampiri seorang wanita paruh baya yang tengah membelakanginya.
Menarik nafas dalam Alan memanggil wanita yang tengah membelakanginya dengan lembut. "Ma"
Mendengar suara yang ia rindukan wanita tersebut langsung membalikan badan, senyuman di wajah tuanya tergambar dengan sangat jelas tak kala melihat seorang pria tengah tersenyum kearahnya. "Alan?, kamu beneran datang sayang?"
"Bagaimana Alan tidak datang kalo mama saja sangat nakal tidak ingin makan sejak tadi pagi" menarik kursi di samping brankar Alan menatap wajah pucat sang mama.
"Mama rindu sama kamu sayang" mengusap wajah putra semata wayangnya Salma menatap lama wajah tampan itu. "Apa kamu kesini sendiri?"
Alan mengangguk cepat. "Iyah, saat dokter bilang mama tidak mau makan Alan langsung kesini. Dan sekarang Alan sudah ada di sini mama makan ya biar cepat sembuh" meraih sepiring bubur dari atas nakas Alan menyodorkan sesendok bubur ke mulut sang mama.
"Mama gak lapar sayang, mama cuma mau ngobrol sama kamu"
"Kita ngobrol sambil makan biar mama bisa cepat minum obat" pasrah akan hal tersebut Salma menerima suapan tersebut.
"Apa kamu masih sibuk nak?"
"Iyah ma, mama tau sendiri Kenzou baru saja menikah dan semua pekerjaan Alan yang mengambil alih" jelas Alan.
Salma mengangguk paham. "Terus kamu sendiri kapan menikah?"
Pandangannya beralih menatap Salma yang berbicara penuh harap. "Alan masih ingin menikmati hidup seorang diri ma" elak Alan.
"Tapi mama sudah tua nak, mama juga sering sakit-sakitan mama takut tuhan akan memanggil mama sebelum mama melihat kamu menikah-"
"Ma" potong Alan. Menggeleng kecil pria itu meminta agar Salma tak melanjutkan ucapan anehnya. "Mama pasti sembuh, dan mama pasti masih ada saat Alan nikah nanti"
"Tapi-"
"Kalo sudah ada jodohnya Alan pasti nikah ma, pasti itu!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
Salma menghela nafas pelan, membuang pandangannya kearah lain setelah menerima suapan terakhir.
Sedangkan Vony yang sejak tadi berdiri didepan pintu mondar mandir tak jelas, sesekali wanita itu menempelkan telinganya ke dinding pintu berharap bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan pria itu di dalam sana dan sedang menjenguk siapa dia sampai membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya.
"Kenapa gak kedengaran sih" semakin menempelkan telinganya pada dinding pintu tanpa sadar tangan Vony juga meremas handle pintu sehingga dengan otomatis pintu tersebut terdorong kebelakang.
Bugh...
Alan yang baru saja akan memberikan obat pada sang mama menatap kearah sumber suara dimana Vony sudah duduk di atas lantai dengan memegangi lengannya. Salma yang mendengar suara cukup keras hanya menatap wanita cantik itu dengan tatapan bingung.
"Au..." memegang tangannya yang berhasil mencium keramik rumah sakit Vony meringis kesakitan. "Hiks...hiks...sakit"
__ADS_1
"Heh ngapain kamu duduk di tengah jalan seperti itu!" tegur Alan saat wanita itu tak kunjung bangkit dari tempatnya.
Menatap kesumber suara Vony dapat melihat tatapan Alan yang tengah menatapnya tajam, beralih menatap wanita paruh baya di atas brankar yang tengah menatapnya bingung membuat Vony segara bangkit dari tempatnya.
"Ma-maaf saya tidak sengaja"
"Maaf-maaf, sudah saya bilang bukan tunggu didepan!, apa kamu mencoba nguping pembicaraan orang lain?!"
"Ti-tidak saya-"
"Alan jangan kasar-kasar sama perempuan" tegur Salma melihat Vony yang gelagapan menjawab ucapan putranya. "Kamu juga yang salah di sini"
Mendengar mamanya membela wanita itu Alan merasa tak terima. "Kok Alan ma?"
"Tadi mama tanya sama kamu kesini sendiri apa sama teman, dan kamu bohongin mama!"
"Dia bukan teman Alan ma"
"Tapi dia kesini sama kamu kan?!"
Alan kehabisan kata-kata saat berdebat itu mulai muncul diantara keduanya. Mengangguk malas Alan membenarkan ucapan Salma.
"Dasar anak nakal!"
"Maaf kalo sudah menganggu saya akan kembali keluar, permisi" pamit Vony.
Vony yang ingin membalikan badannya kembali menatap wajah Salma. "Sini" panggilnya dengan lembut.
Berjalan mendekat Vony berdi di samping brankar Salma. "Ada apa tante?"
"Kamu temannya Alan?" tanya Salma.
Beralih menatap Alan yang masih menatapnya dengan kesal Vony mengangguk pelan.
Melihat wanita itu mengangguk Salma merasa senang walau hanya sekedar teman tapi bagi Salma putranya sudah berani membawa wanita pertama kehadapannya.
"Apa kamu suka sama Alan?"
"Hah? apa tante?" mendengar pertanyaan yang sangat melenceng jauh Vony menampilkan wajah bodohnya.
"Apa kamu suka dengan anak tante?"
"Ti-tidak, mana mungkin saya suka dengan pria menyebalkan seperti itu!" ucap Vony menatap wajah Alan.
"Menyebalkan?"
Sadar akan ucapan yang ia lontarkan Vony meralat ucapannya dengan cepat. "Ma-maksud saya anak tante ini"
"Kenapa kalian tidak mencoba menjalin hubungan?"
__ADS_1
"Ma" potong Alan saat mamanya semakin membicarakan hal yang tak masuk akal.
"Diam!"perintah Salma. Mendapat teguran seperti itu Alan menghela nafas pelan.
"Tante sudah salah paham, sebenarnya saya sama ank tante hanya terlibat kerjasama perusahaan saja, bukan terlibat soal perasaan"
Meraih tangan salah satu tangan Vony yang memegang map Salma mengusapnya dengan lembut. "Apa kamu mau jadi mantu tante?"
Kedua manusia itu membulatkan matanya lebar mendengar Salma yang sepertinya akan menjodohkan mereka, saling tatap untuk beberapa detik keduanya menjawab secara kompak.
"Tidak"
"Alan tidak mau punya istri seperti dia ma!" ucap Alan menunjuk wajah Vony dari sebrang sana.
"Memang saya mau jadi istri kamu?, enggak sama sekali!" jawabnya Vony dengan tegas melupakan kalo ia sedang bersama mama dari pria tersebut.
"Jangan sok jual mahal!, karena laki-laki diluar sana juga belum tentu mau menjadi suami kamu!"
"Kamu pikir wanita-wanita diluar sana saling antri mengantri untuk mendapatkan kamu?!"
"Tentu, siapa yang tidak mau dengan cowok tampan, baik dan mapan seperti ku!" ucap Alan menyombongkan dirinya.
"Kalo betul seperti itu akulah wanita pertama yang tak ingin mengantri untuk mendapatkan pria model manusia purba seperti dirimu!"
Berdecak pinggang Alan menjawab ucapan tersebut. "Aku juga tidak berharap kamu ada di dalam daftar wanita-wanita itu!"
Melihat kedua orang tersebut terus berdebat entah kenapa Salma semakin suka dengan cara Vony yang terus menolak anaknya meski anaknya itu menunjukan segudang kebaikan pada dirinya, dan kalo di lihat-lihat wanita ini baik hanya saja tertutup dengan sifat nya yang suka sekali berdebat dengan lawan jenisnya.
"Sialan, kau tau perawatan wajah ku saja bisa menghabiskan uang puluhan juta!" ucap Vony tak terima kala Alan mengatainya memakai produk kecantikan abal-abal sehingga wajahnya tak kunjung cantik.
"Wajah mirip ondel-ondel seperti ini yang kamu bilang menghabiskan uang puluhan juta?, sini biar aku kasih tau bagaimana cara merubah wajah jelek mu itu"
"Alan cukup!" tegur Salma saat anaknya itu ingin menghampiri Vony.
"Tapi ma-"
"Cukup Alan!"
"Dasar anak mama" ejek Vony melewati sorot matanya.
Beralih menatap wanita di sampingnya Salma tersenyum manis. "Nak" panggil Salma saat wanita itu masih menetap putranya.
"Iyah tante"
"Kamu mau kan jadi pacar Alan?"
****
Jangan lupa Like, Vote, Komen, dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1