
"Kamu datang sendiri lagi?" tanya Salma saat Alan masuk dengan membawa satu kantung plastik ditangannya.
"Memang mama pengen Alan datang sama siapa?" tanya Alan duduk di samping brankar Salma.
"Apa wanita itu tidak datang kesini?" tanya Salma yang belum tau nama Vony.
Tau siapa yang dimaksud sang mama Alan menyebut nama wanita itu. "Maksud mama Vony?"
Salma tersenyum. "Namanya Vony?" Alan mengangguk menjawab ucapan sang mama dengan membuka bungkus bubur yang bari saja ia beli. "Nama yang cantik ya?, secantik orangnya"
Mendengar sang mama yang terlalu memuji Vony secara berlebihan membuat perut Alan bergejolak aneh. Mengarahkan satu sendok bubur pada mulut sang mama dengan telaten Alan menyuapi Salma.
"Mama mau ketemu sama dia" ujar Salma tiba-tiba dan itu membuat Alan hampir terdesak air liurnya sendiri.
"Dia sibuk ma"
"Kalo gitu bawa dia kesini malam saja" ucap Salma yang tak ingin kehabisan akal.
Salma menerima suapan kesekian kali dari sang putra dan meminta untuk menyudahinya.
"Nanti Alan bicarakan sama Vony, tapi sekarang Alan pamit dulu" ucap Alan tersenyum kerah Salma yang nampak sedih setiap dirinya akan pergi.
"Kamu mau kemana?"
Meraih tangan Salma yang terdapat selang infus Alan mengusapnya pelan. "Alan mau ke rumah Vony mau ketemu sama orang tuanya" jawab Alan.
Mendengar hal tersebut Salma mengembangkan senyumannya. "Kamu mau melamarnya?"
Alan menggeleng. "Bukan, Alan kesana hanya ingin berkenalan dengan orang tuanya saja" jawab Alan jujur.
Salma mengangguk paham, tidak masalah jika Alan ingin berkenalan dulu dengan orang tua Vony setidaknya anaknya itu sudah satu langkah bergerak dalam soal percintaan.
"Apa apa Ayah sering kesini?" tanya Alan.
Baru saja Salma akan menjawab pertanyaan sang anak suara bas milik seseorang lebih dulu memotong ucapannya. "Kamu cari saya?"
Tanpa menoleh sedikitpun kesumber suara Alan meremas tangannya saat nada bicara yang sombong itu tidak pernah berubah.
Erlad menepuk pundak Alan dengan cukup kuat. "Apa kamu rindu dengan ayah?"
Alan berdecak kesal mendengar ucapan pria paruh baya itu. "Alan pergi dulu ma" bangkit dari duduknya Alan mencium singkat kening Salma dan langsung melangkah pergi tanpa menyapa ayahnya terlebih dahulu.
"Lihat!, anak didikan kamu yang selalu kamu bangga-banggakan sekarang menjadi anak durhaka!"
"Mas sudah jangan marah-marah mungkin Alan lagi buru-buru" ucap Salma lembut berusaha menenangkan suaminya.
"Sudahlah aku kesini cuma mau memastikan keadaan mu, dan aku lihat kau baik-baik saja jadi aku pulang dulu" ucap Erlad langsung melangkah keluar begitu sama.
Melihat anak dan suaminya kembali pergi Salma menghela nafas panjang menatap langit-langit kamar saat dirinya kembali kesepian.
***
Diruang tamu Anggara, Livia dan Vony tengah duduk di sofa melihat film keluarga yang sering mereka lihat saat malam minggu seperti ini.
"Sayang" panggil Livia menyenggol lengan putrinya.
"Hmm" jawab Vony singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Tolong beli in mama martabak seperti biasa"
Mendengar kata martabak yang di ucapkan sang mama Vony meraih ponselnya menatap jam berapa sekarang.
"Jam delapan lebih, seharunya pria itu sudah datang sejak tadi bukan?"
Melihat putrinya melamun Livia menegurnya. "Ada yang kamu pikirkan?" tanya Livia mengusap rambut panjang Vony.
Vony menggeleng. "Enggak ma cuma seharunya tamu Vony sudah datang"
"Tamu?" tanya Anggara beralih menatap putrinya.
"Cewek atau cowok?" timpal Livia.
"Cowok" jawab Vony.
Saling tatap dengan sang suami Livia langsung menegapkan tubuhnya menatap wajah putrinya dengan perasaan girang. "apa dia pacar kamu?".
Melihat sang mama yang sudah bisa menebak apa yang terjadi Vony menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Nanti mama sama ayah juga tau"
Ting...tong...
Bel rumahnya berbunyi membuat art dari arah dapur berjalan sedikit berlari kearah pintu.
"Nyonya,tuan didepan ada tamu" ujar art yang kembali masuk.
"Siapa?" tanya Anggara.
"Saya tidak tau tuan tapi dia laki-laki katanya mau ketemu sama nona Vony" ucapnya.
"Suruh dia masuk" kata Anggara. Mengangguk paham art tersebut kembali berjalan keluar menuntun orang tersebut berjalan kerah sofa.
Semuanya menoleh kerah sumber suara di mana Alan tengah berdiri di sebrang sana dengan tersenyum sangat manis. Meski Alan menggunakan jas tadi siang aura pria itu tak kurang sedikitpun bahkan bau parfumnya masih tercium dengan jelas.
"Ini saya bawakan martabak buat om sama Tante" lanjut Alan saat semua keluarga hanya memandanginya.
Melihat pria itu menaruh dua plastik ukuran besar Anggra mempersilahkan untuk duduk. "Silahkan duduk"
Duduk di sebrang sana Alan menatap Vony sekilas yang hanya mengenakan celana di atas lutut yang mengekspos kaki putihnya.
"Apa wanita ini mencoba menggodaku?"
Beralih menatap Anggra Alan melayangkan senyuman.
"Siapa nama kamu?" tanya Anggara yang tak pernah mengenal pria ini sebelumnya.
"Nama saya Alan om" jawab Alan tanpa gugup.
"Benar kamu pacar anak saya?" tanya Livia menatap pria di sebrang sana.
Melihat mama Vony yang nampak senang Alan hanya tersenyum kikuk.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?, kenapa baru datang ke rumah sekarang?" cecer Livia.
"Ma" tegur Anggara saat istrinya itu terlalu berlebihan. Livia mengerutkan bibirnya saat Anggara menegurnya.
Sedangkan Vony hanya memijat keningnya pelan dan menjadi penonton setia kedua orangtuanya dengan Alan yang tak nampak sekali gugup ataupun takut.
__ADS_1
"Kami baru saja menjalin hubungan, dan saya kesini ingin berkenalan dengan om dan Tante agar jika kita menjalin hubungan kedepannya merasa sudah saling nyaman jika kedua keluarga sudah mengenalnya" jelas Alan.
"Seperti mau menikah saja pakai seperti itu segala" ceplos Livia dan lagi-lagi mendapatkan senggolan dari suaminya.
Anggara mendengar ucapan pria di hadapannya mengangguk senang akan keberanian Alan, meski sang istri selalu menjodohkan sekian banyaknya laki-laki untuk putrinya Anggara merasa Alan jauh berbeda dari mereka semua dari gaya bicaranya, keberaniannya dan kalo dilihat-lihat dari pakaiannya Alan seorang pria yang mapan.
"Om setuju dengan ucapan kamu, dan om akan merasa lebih tenang jika Vony berhubungan dengan pria yang jelas asal usulnya"
Alan tersenyum menjawab ucapan Anggara. "Tapi maaf sebelumnya saya bukan seorang CEO ataupun yang memiliki kekuasaan untuk suatu hal, karena saya hanya bekerja menjadi assisten pribadi disebuah perusahaan" ucap Alan menjelaskan akan pekerjannya agar kedepannya masalah ini tak di ungkit.
Anggara tertawa mendengar ucapan Alan yang menjelaskan akan pekerjannya. "Apa kamu takut jika kedepannya masalah pekerjaan mu menjadi suatu masalah?"
Alan mengangguk mantap. "Tentu saya takut akan hal tersebut, karena kalo tuhan mengizinkan kita menikah apakah om dan tante rela dan ikhlas putri om tinggal bersama seorang assisten seperti saya?" hati Alan merasa sangat geli saat harus mengatakan pernikahan apa lagi dengan wanita bar-bar seperti itu.
"Apa-apaan ini!"
Anggara menatap putrinya yang tengah menatap Alan dengan tatapan jilid. Sedangkan Alan pria itu tak menatap sedikitpun putrinya kalo saja Vony tak mengenakan celana sependek itu beruntung ada bantal sofa yang menutupi paha mulusnya.
"Kenapa tidak?, yang terpenting tanggung jawab, dan setia soal harta bukankah masih bisa di cari?" jawab Livia.
"Ngomong-ngomong kamu kerja di perusahaan mana?" tanya Anggara.
"Jhonson company" jawab Alan.
"Benarkah?" tanya Livia dan mendapatkan anggukan dari Alan. "Menjadi assisten di Jhonson company saja itu sudah sangat hebat bukan?" Alan hanya bisa tersenyum mendapatkan pujian seperti itu.
Vony yang lama kelamaan mulai muak dengan pujian-pujian itu ingin rasanya mengusir Alan dari rumahnya sekarang juga.
Baru saja niat itu terucap dari hatinya Anggara sudah melayangkan pertanyaan yang membuat hatinya berdebar kencang.
"Kalo kamu assisten pribadi Kenzou, apa kerja sama perusaahan Adhitama Company sudah diterima?"
Melihat Alan yang akan membuka mulutnya Vony terlebih dahulu menjeda ucapannya. "Ma lihat deh martabaknya banyak banget" meraih satu kotak martabak Vony menunjukkannya pada Livia. "Ummm enak banget ma, coba in deh"
"Benarkah?"
"Iyah coba in aja" ucap Vony menyodorkan kotak martabak ditangannya.
Melihat anaknya makan dengan lahap Livia pun juga ikut memakan potongan martabak, sedangkan Alan hanya menggeleng melihat wanita itu yang sangat pintar mengalihkan topik pembicaraan.
Semuanya larut dalam obrolan hangat sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan Alan pamit pulang karena merasa tak enak jika terlalu lama.
Mengantar tamu mereka sampai kedepan rumah Livia menahan langkah Alan. "Kalo kalian memang sudah pacaran, mulai besok kamu antar jemput Vony"
"Ma-"
"Sekalian ajak anak tante makan siang karena tante khawatir dia makan yang aneh-aneh" ucap Livia basa-basi.
"Biasakan Alan?"
Alan tersenyum kaku saat permintaan itu terasa sangat sulit ia lakukan. "Itu artinya setiap hari aku sama dia ketemuan?, satu mobil?"
"Biasakan?" tanya Livia sekali lagi.
"I-iyah Tante" jawab Alan terbata-bata menggaruk rambutnya tak gatal.
Masuk kedalam mobil Alan meninggalkan halaman rumah Vony menuju apartemen miliknya. Disepanjang perjalanan otak Alan tak henti-hentinya membayangkan bagaimana tentang hari-harinya kedepan.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️