
"Kita makan dimana?" tanya Alan melajukan mobilnya.
"Aku lagi tidak ingin makan apapun!" jawab Vony menatap keluar jendela.
Menatap sekilas wajah Vony yang nampak murung Alan memilih diam mengendarai mobil tanpa tau mereka mau kemana.
"Berhenti didepan" perintah Vony.
Melihat mobil Alan berhenti Vony menghela nafas panjang.
"Ada masalah?" tanya Alan peduli.
"Alan"
"Hmm"
"Apa kamu akan meminta anak?" tanya Vony.
"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Alan balik.
Melihat anaknya pulang Livia membuntuti dari belakang. Merasa ada yang ingin mamanya sampaikan Vony berbalik badan menatap wajah Livia tersenyum kuda.
"Mama kenapa?" tanya Vony yang tak bisa mendapati sikap sang mama seperti ini.
"Kata Ratih, Aleta sekarang tengah hamil" ucap Livia memberikan kabar yang baru saja ia dapatkan di sambung telfon tadi.
"Aleta hamil?" Livia mengangguk cepat, menarik tangan anaknya menuju meja makan Livia menatap wajah Vony secara keselurahan. "Mama mau cucu"
"Vony belum nikah ma" elak Vony mendapatkan permintaan dadakan seperti itu.
"Kalo begitu pernikahan kamu dipercepat saja, lagian kalo dilihat-lihat kalian berdua cocok"
Blus rona pipi Vony berubah merah mendengar godaan Livia, mungkin ini bukan pertama kali Livia menggodanya seperti itu tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda dihati.
"Pernikahan bukan permainan ma, pernikahan itu hal yang serius"
"Siapa yang bilang pernikahan itu permainan?, yang ada mama mau kamu segera menikah!"
"Vony akan menikah kalo Vony sudah jadi CEO di Adhitama Company!"
"Itu masih sangat lama sekali, bahkan kamu saja belum bisa meyakinkan ayah mu itu"
"Justru itu, Vony akan menikah kalo tujuan utama Vony tercapai. Lagian disini Vony yang belum menikah tapi kenapa mama yang kelihatan bersemangat sekali?" menyipitkan mata Vony mendekatkan wajahnya secara perlahan. "Atau mama yang mau menikah lagi?"
"Dasar bocah semprul!" Livia melempar kain di dekatnya tepat mengenai wajah Vony yang tengah tertawa lepas.
__ADS_1
Mendengar cerita wanita di sampingnya Alan hanya mengangguk-angguk tanpa merespon ucapan Vony. Dirinya juga sudah tau mengenai kabar istri atasannya itu yang tengah hamil sekarang bahkan Salma melakukan hal yang sama seperti Livia lakukan pada Vony.
"Kenapa diam saja!" kesalnya.
"Terus aku harus apa?, kaget sampai harus kayang didepan mu?"
"Kalo kau mau silahkan"
Alan memutar bola matanya malas. "Mengenai ucapan mama mu itu pikir belakang saja lagian pernikahan itu hanya sebagai jalan untuk menguntungkan satu sama lain bukan dilakukan dasar dari cinta"
"Dan soal anak, aku rasa kamu masih ingat dengan ucapan ku hari itu bukan?, kalo tidak ada kontak fisik diantara kita setelah kita menikah nanti!"
Vony bernafas lega mendengar penjelasan Alan setidaknya saat ia cerai nanti dan menjadi janda dirinya masih dalam keadaan bersegel secara utuh. "Terus apa pernikahan ini akan dilakukan secara terang-terangan?"
Alan menggeleng. "Lebih baik pernikahan dilakukan secara diam-diam dan hanya keluarga terdekat saja yang tau"
"Jangan bilang kamu tidak memiliki modal untuk menikahi ku?!" ucap Vony menunjuk wajah Alan.
Menyingkirkan tangan Vony dari depan wajah, Alan mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan. "Aku bisa saja mengadakan pesta pernikahan sebesar tuan Kenzou hari itu, tapi apa kau tidak malu jika baru enam bulan pernikahan kita sudah bercerai?, apa kau tidak memikirkan kata-kata orang yang akan menghujat mu?"
Vony terdiam mendengar perkataan Alan. Kali ini perkataan Alan ada benarnya apa kata karyawan,klien dan orang-orang diluar sana menganai pernikahan sesingkat itu.
"Terus setelah menikah kita akan tinggal dimana?" tanya Vony.
Kembali keposisi semula Alan menatap lurus kedepan melihat kendaraan berlalu lalang diluar sana.
"Tidak!" ralat Alan cepat. "Kita tidak akan tinggal dirumah mama ataupun dirumah orang tua mu!"
"Terus kita akan tinggal dimana?, dipinggir jalan?"
"Kita akan tinggal di apartemen ku!"
Mendengar itu Vony menatap Alan serius. "Apa kau tidak berminat membelikan ku rumah sebagai mahar seperti Kenzou untuk Aleta?"
"Itu terlalu berlebihan"
Ingin rasanya Vony memberikan cabe pada mulut pedas pria disampingnya ini yang suka sekali berbicara tanpa berfikir terlebih dahulu. "Aku tidak mau karena aku yakin apartemen mu itu sangat kecil!"
Memang apartemen miliknya tidak terlalu besar dan ada dua kamar didalamnya hanya saja kamar satunya Alan gunakan untuk ruangan baju.
"Kenapa harus besar-besar?, kalo pernikahan kita saja sesingkat bermain monapoli. Anggap saja kamu tamu dirumah ku yang tidak memperlukan tempat yang besar"
"Apa kau tidak ingin membahagiakan istri mu?"
"Terus apa kamu sendiri akan membahagiakan suamimu?" tanya Alan balik.
__ADS_1
"Jika aku bisa maka akan aku lakukan" ucap Vony menantang.
Sudut bibir Alan tertarik membentuk sebuah senyuman, matanya menatap kesana-kemari tubuh wanita disampingnya.
Melihat Alan menatapnya tanpa henti refleks Vony menyilakan tangan didepan dada saat mata pria itu terus menatapnya. "Kau sudah berjanji tidak akan meminta hal itu!"
"Apa yang kau pikirkan?, aku hanya menatap seberapa panjang rambut mu" elak Alan. Rasanya sangat geli melihat ekspresi wajah Vony yang ketakutan kalo sewaktu-waktu dirinya meminta hak sebagai seorang suami. "Tapi jangan salahkan aku kalo suatu saat nanti aku meminta hal tersebut"
"Kamu sudah janji Alan!!" teriak Vony.
Alan mengangkat bahunya tak acuh mendengar omelan Vony yang tidak henti. Melajukan mobil menuju restoran terdekat Keduanya mengisi perut mereka yang sudah minta diisi sejak tadi.
Vony memesan dua porsi makanan. Cara paling ampuh yang selalu ia gunakan untuk menghilangkan kekesalan hatinya.
Melihat makanannya sudah berada didepan mata tanpa basa-basi Vony langsung memakannya dengan sangat lahap tak menghiraukan Alan yang makan dengan sangat sopan dan berwibawa.
Alan meletakan sendoknya pelan. Perutnya yang sejak tadi terasa lapar langsung terasa sangat kenyang melihat Vony sudah berganti dengan makanan satunya.
"Pesankan aku steak daging lagi!"ucap Vony dengan mulut penuh.
Merasa ucapannya tak direspon oleh Alan, Vony menaikan pandangan menatap Alan yang tengah menatapnya dengan bergeleng kecil.
"Kenapa?, ada masalah?!" tanya Vony memasukan kembali makanan kedalam mulutnya yang masih penuh.
"Apa kamu biasa seperti ini?"
Tak paham dengan ucapannya Vony melihat penampilan baju yang ia gunakan. Merasa tak ada yang aneh Vony kembali menatap Alan.
"Apa kamu selalu makan sebanyak ini setiap harinya?" tanya Alan yang sejak tadi memperhatikan Vony makan dengan lahap.
"Kenapa?, apa kamu tidak suka dengan cara makan ku?!" tanya wanita itu galak.
"Bukan cara makan yang aku perhatikan!" ralat Alan saat Vony salah paham dengan maksudnya. "Tapi makanan yang kamu makan!, apa setiap hari kamu makan sebanyak ini?"
Vony menggeleng. "Hanya saat-saat tertentu saja"
"Kenapa seperti itu?" tanya Alan tak paham.
"Karena muka jelek mu itu yang membuat ku terus merasa lapar!!" memakan steak terakhirnya Vony langsung meninggalkan Alan sendirian dimeja.
"Heiii...katanya kamu yang akan membayar semua ini!" panggil Alan.
Vony berbalik badan menatap wajah Alan malas. "Aku baru ingat kalo aku lupa bawa dompet jadi kamu saja yang bayar!" ucapnya melanjutkan langkah keluar restoran.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️