My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pertunangan?


__ADS_3

"Anggit?" guman Alan dan Vony dalam hati mendapati Anggit datang bersama sang ayah.


Raut wajah Restu yang tadinya terlihat bahagia bisa membawa putrinya kerumah Alan harus melihat putra teman nya datang dengan seorang wanita yang terlihat sangat dekat.


"Ayah siapa dia?" tanya Anggit tak mengalihkan perhatiannya dari Vony.


Vony dapat melihat raut wajah tak suka dari Anggit apa lagi nada bicara wanita itu nampak sangat sinis dengan nya.


"Dia hanya teman Alan dari luar kota" jawab Erlad bohong mengalihkan pandangan Restu dan Anggit dari Vony. "Dia baru saja datang tadi malam jadi maklum saja kalo mereka berdua terlihat sangat dekat"


Rasanya sakit sekali saat ayah mertuanya tak mengakuinya di depan tamunya dan menganggap dirinya hanya teman Alan dari luar kota. Melihat raut wajah Vony menyiratkan kesedihan Alan menautkan jari jemarinya pada tangan sang istri memberikan keyakinan jika dirinya akan terus berada di samping nya.


Restu tersenyum lega mendengar penjelasan Erlad, beralih menatap putrinya yang sejak tadi cemberut. "Kamu dengar sendiri bukan kalo wanita itu hanya teman Alan,lagian dia akan segara tidak mungkin ada di rumah ini terus. Bukan begitu Alan?"


Vony mendongak wajah nya sedikit agar bisa melihat bagaimana jawaban dari sang suami. Vony yang berfikir Alan akan menjawab Iyah atau hanya sekedar anggukan tidak dilakukan sama sekali oleh pria itu bahkan secarik senyum saja tidak ia tunjukan, membuat hati sedikit lebih bahagia.


"Sebaiknya kita mulai acara makan malam nya, takut nasi dan lauk nya keburu dingin" ajak Salma saat melihat tak ada ekspresi apapun dari wajah Alan.


"Alan duduk sini" Anggit menepuk kursi di sebelahnya meminta pria itu agar duduk di sampingnya.


"Maaf, tapi aku lagi ingin duduk di samping mama" tolak Alan mengunakan alasan sang mama.


Duduk di samping Salma dengan Vony yang ada di sampingnya. Anggit terus melayangkan tatapan tak suka pada Vony.


"Alan apa kamu mau aku ambilkan ikan?" tanya Anggit setalah Salma menaruh nasi ke dalam piring nya.


"Tidak usah biar aku saja" tolak Alan ingin meraih sepiring ikan goreng di dekat Vony.


Tau suaminya kesusahan untuk meraih nya Vony dengan peka langsung meraih piring tersebut memberikan pada Alan.


"Terimakasih" jawab Alan dengan begitu manis.

__ADS_1


Acara makan malam dimulai Erlad dan Restu membicarakan soal perusahaan membuat kedua orang pria tersebut asik sendiri. Sedangkan Alan yang tak ingin mengajak bicara Anggit membuat Salma yang harus turun tangan menanyakan keadaannya dan apa kegiatannya sekarang.


"Saya sedang mencoba bekerja di kantor ayah tante supaya kalo sudah menikah dengan Alan nanti Anggit bisa membantu pekerjaan Alan"


Mendengar ucapan Anggit membuat daging ikan yang baru saja Alan masukan ke dalam mulut hampir keluar kalo saja tangan nya tidak dengan cepat menutup mulutnya.


"Minum" Vony menyodorkan segelas air putih pada Alan.


"Kalo wanita tidak waras berbicara apapun tetap saja tidak akan benar!" guman Alan di dalam hati.


"Apa kamu baik-baik saja Alan?" tanya Anggit menunjukan kekhawatiran nya membuat Alan merasa muak mendengar satu saja dari mulutnya.


"Aku baik-baik saja" jawab Alan tersenyum kaku.


"Oh ya ayah kapan tunangan Anggit dan Alan di adakan?" tanya Anggit yang dengan sengaja menanyakan hal tersebut, agar wanita di samping Alan bisa mendengar bahwa dirinya adalah calon istri dari Alan pria yang sangat ia cintai.


"Cih, apa dia sedang menunjukkan bahwa dirinya calon istri Alan di hadapan istri sah nya?" cibir Vony dalam hati.


Salma,Alan dan Vony menatap lekat wajah Erlad. Semuanya berharap agar kali ini saja otak dan hatinya mendapat pencahayaan agar menolak ucapan Restu karena memang Salma tak ikhlas meski putra nya itu hanya bertungan dengan Anggit gadis setengah waras yang sering keluar masuk rumah sakit jiwa.


"Bagaimana kalo satu bulan lagi?"


Harapan Salma,Alan pupus saat mendengar keputusan Erlad yang malah menyetujui ucapan Restu. Sedangkan Vony hanya bisa menatap datar wajah ayah mertuanya, ia tak tau apa yang akan Erlad lakukan padanya, atau jangan-jangan pria paruh baya itu ingin menekan batinnya dengan pertunangan ini?.


"Memang terdengar sakit di telinga, tapi jangan senang dulu ayah mertua karena aku masih memikirkan cara bagaimana bisa meluluhkan hati batu mu itu!"


"Itu terlalu lama om, kenapa tidak satu minggu saja?, dan satu bulan kemudian langsung di adakan pernikahan"


"Tidak, aku tidak setuju" tolak Alan dengan cepat. "Pernikahan bukan permainan yang bisa menentukan kapan tanggal nya dan melakukan permainan, pernikahan itu sakral yang akan di bawa sampai mati nanti dan aku tidak ingin menikah seperti keinginan mu!" tandas Alan.


"Sayang benar apa ucapan Alan pernikahan bukan sebuah hal yang mudah untuk di lakukan pernikahan itu abadi karena kelak kalian akan memiliki anak dan cucu"

__ADS_1


"Aku tidak sudi memiliki anak dari putri mu!"


"Jadi lebih baik kita turuti saja keinginan Alan, lagian kamu baru saja kembali dan membutuhkan banyak-banyak istirahat total di rumah" ucap Restu memberikan pengertian pada sang putri. Restu beralih menatap Alan. "Jadi bagaimana keputusan mu?!"


Seketika meja makan menjadi hening akan pertanyaan Restu menunggu Alan mengeluarkan keputusan nya. Alan melirik Vony sekilas meminta pendapat dari sang istri karena jujur jauh di dalam sana hati kecil Alan tak tega menyakiti Vony meski di antara mereka belum timbul rasa cinta.


Vony meraih tangan Alan di kolong meja mengusap permukaan tangan berotot tersebut dengan lembut mendukung apapun keputusan yang akan Alan ambil nanti.


Meski Vony tak tersenyum atau menunjukan ekspresi lain Alan dapat merasakan jika wanita itu percaya dengan nya. Mengehela nafas pelan Alan memberikan keputusan. "Saya setuju bertunangan dengan Anggit, tapi sesuai dengan keinginan ayah. Satu bulan lagi kami bertungan!"


Restu tersenyum senang begitu juga dengan Anggit yang langsung menunjukan wajah sombongnya pada Vony. "Kau sudah tau bukan siapa aku sekarang?" kurang lebih seperti itu arti tatapan mata yang Anggit tunjukan pada Vony.


"Karena Alan sudah setuju, satu bulan lagi kami akan ke rumah kamu buat melamar Anggit untuk Alan" ucap Erlad merasa senang akan keputusan yang di ambil sang putra.


"Aku akan menyiapkan hari itu dengan sangat sempurna" jawab Restu.


Tak berselang lama Restu dan Anggit pamit pulang karena hari yang semakin larut menyisakan keluarga Alan di teras rumah.


Erlad mengantar kepulangan temenannya dengan hati yang sangat berbunga-bunga. "Kenapa hal seperti ini tidak dari dulu saja kamu lakukan, jika begitu ayah yakin kamu sekarang pasti sudah memiliki cucu dari Anggit"


"Mungkin ayah menginginkan hal tersebut, tapi tidak sama sekali dengan Alan walau itu hanya sekedar mimpi!" menarik tangan Vony membawanya masuk ke dalam kamar.


"Lihat tingkah anak itu!"


"Mama capek yah mau istirahat" ucap Salma ikut masuk ke dalam rumah tak ikut menangapi ucapan sang suami.


"Tidak anak tidak ibunya sama saja keras kepala!" Erlad masuk ke dalam ruang, tempat yang ia kunjungi sebelum kamar adalah ruang kerja.


***


Jangan lupa komen,like,vote, dan beri hadiah🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2