
Vony yang tak ingin keluar kamar setelah kembali ke rumah memilih duduk di ayunan gantung menatap lurus kedepan. Kejadian saat di supermarket tadi sore benar-benar melekat di ingatan nya dari bagaimana cara Anggit melempar bukti-bukti dirinya dengan Alan di vila sampai melempar sejumlah uang pada tubuhnya.
Ingin rasanya Vony menangis sekarang, tapi ini bukan tempat yang tepat untuk ia menangis dimana pasti Alan akan melihatnya dan mempermasalahkan hall tadi menjadi masalah yang semakin besar.
"Kamu sedang apa?" tanya Alan yang datang tiba-tiba merangkul pundak Vony dari belakang mendaratkan ciuman pada pipi nya.
"Aku sedang bersantai, sini duduk" Vony menepuk tempat kosong di sampingnya.
Dengan senang hati Alan menurut, menarik Vony masuk ke dalam pelukannya mengusap rambut panjang sang istri lembut. Hening di keduanya menikmati semilir angin malam yang menerpa kedua tubuh tersebut.
"Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Alan membuka suara.
Vony mengeleng kecil. "Tidak"
Hembusan nafas berat dapat Vony dengar dengan jelas. Alan mencium pucuk kepala Vony lumayan lama sebelum kembali membuka suara.
"Aku tau kamu hanya wanita biasa yang pasti ingin menangis di saat seperti ini" Ucapan Alan membuat hall yang ingin Vony lakukan harus wanita itu tahan agar tak ada satu bulir bening yang jatuh. "Kalo kamu ingin menangis, menangis lah aku akan tetap berada di sini sampai kamu tenang"
Lagi-lagi Vony mengeleng hanya saja kali ini hanya sebuah gelengan tanpa ada suara. Rasanya begitu perih saat ia harus tetap menahan agar terlihat baik-baik saja.
Alan tau Vony pasti ingin menangis hanya saja wanita itu terlalu kuat menahannya sendiri, tak ingin membuat Vony tertekan Alan mengusap pundaknya lembut.
__ADS_1
"Alan"
"Iyah"
"Aku ingin tidur"
Melepaskan pelukan Alan menatap wajah Vony lekat nampak dari wajah nya wanita itu belum mengantuk tapi mungkin dengan tidur keadaan nya jauh lebih baik fikir Alan. "Biar aku gendong"
"Aku bisa jalan sendiri Alan!"
"Tidak ada penolakan" Vony hanya tersenyum simpul mengangguk menyetujui Alan yang langsung mengendong nya masuk ke dalam kamar.
Merebahkan tubuh Vony di atas ranjang Alan menarik selimut sampai batas pinggang. Baru Vony akan memejamkan mata suara ketukan pintu membuat keduanya menatap ke arah yang sama.
"Tuan meminta anda untuk turun ke bawah tuan"
"Malam-malam seperti ini? ada apa memang di bawah?"
"Saya tidak tau tuan tapi tadi saya lihat ada nona Anggit dan tuan Restu juga di bawah"
Vony yang masih mendengar pembicaraan majikan dan art tersebut langsung menghampiri keduanya. "Ada Anggit di sini?" Alan langsung menatap Vony yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Iyah nona"
"Kenapa kamu turun? bukannya kamu ingin istirahat?"
"Aku tidak jadi istirahat"
"Tuan, nona kalo begitu saya permisi" ucap art di angguki Vony.
"Kamu masuk lagi ya" bujuk Alan di tolak Vony.
"Ada Anggit dan ayahnya sebaiknya kita temui mereka"
"Biar aku saja kamu tetap di sini"
"Aku juga akan menemuinya Alan"
"Aku tidak ingin Anggit mengatai hal-hal murahan pada mu lagi"
"Aku baik-baik saja, lagian ada kamu dan mama yang akan melindungi ku nanti"
"Von"
__ADS_1
"Sudah ayo kita temui mereka"
Alan pasrah saat Vony menarik tangannya menuruni anak tangga menghampiri semua orang yang berada di ruang keluarga. Baru keduanya sampai langsung disambut tatapan tajam Restu pada Vony.